Koran Jakarta | February 23 2018
No Comments

Menerangi Andungbiru dengan Kincir Air

Menerangi Andungbiru dengan Kincir Air

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Rasid, petani (48) hampir meninggal dua kali saat mencoba membangun kincir air dengan tangannya sendiri. Pengalaman traumatik tersebut masih membekas di tubuhnya, namun Rasid masih terus berjuang untuk desanya, Andungbiru.

Bagi penduduk Desa Andungbiru, Rasid lebih dari sekadar pejuang. Peralatan elektronik tidak ada gunanya di tempat mereka karena tidak dialiri listrik. Namun, sejak 1994, rumah-rumah penduduk sudah dialiri listrik berkat tenaga kincir air dan tanaman micro hydro power yang dijalankan dan dibuat Rasid.

Tidak ada yang membantu Rasid kala itu. Karena tidak ada yang percaya kalau petani bisa berkarya menghasilkan listrik. “Saya pikir itu mustahil,” kata Saiful Ilham, teman Rasid.

Memiliki listrik di rumah merupakan impian Rasid sejak dahulu. Ia lahir dan tumbuh di Andungbiru, sebuah desa di kaki Gunung Argopuro di Jawa Timur.

Secinta apapun Rasid dengan desa kelahirannya, tapi kurangnya kesempatan dan fasilitas membuatnya frustasi sejak usia muda. Ia tumbuh besar menjadi pria yang suka membaca, belajar, dan pergi ke sekolah meskipun jaraknya enam kilometer.

Permasalahan yang paling besar adalah saat malam hari ketika ia harus mengerjakan pekerjaan rumah atau membaca Al Quran. Rasid harus menggunakan lampu minyak yang membuat mata menjadi cepat lelah. “Dan yang paling menyebalkan adalah ketika angin bertiup sehingga kami tidak bisa belajar lagi karena lampu minyak mati. Sehingga kami mengerjakan pekerjaan rumahnya esok pagi, sebelum berangkat sekolah,” cerita Rasid.

Setelah menyelesaikan sekolah dasar, Rasid pindah ke Probolinggo. Ia bekerja berbagai macam pekerjaan hingga akhirnya mengantarkannya pada sekolah kejuruan, di mana ia belajar mengenai dasar teknik industri.

Di saat yang lain, Rasid juga menjadi penarik gerobak. Tetapi kemudian ia terserang penyakit tifus yang memaksanya untuk berhenti bekerja dan sekolah di usia 19 tahun. Tidak menyelesaikan sekolah menengah atas adalah hal yang paling disesali Rasid. Namun ia tidak berhenti di sana, ia kembali pulang ke rumah dan menjadi petani seperti orang tuanya. Berladang tanaman kopi, jagung, pisang, jahe, dan cabai.

Pada 1992, Rasid mengunjungi pamannya yang bekerja sebagai supervisor perkebunan di Jember. Meskipun desa tempat pamannya berada tidak memiliki tenaga listrik seperti desanya, tetapi perkebunan tersebut memiliki lampu jalanan yang bertenaga listrik. Ia pun merasa tertarik dan mulai mencari tahu. Ternyata listrik tersebut dihasilkan kincir air tua sejak zaman Belanda.

Saat kembali ke rumah, ia mengutarakan hal tersebut pada isteri dan orang tuanya, namun tidak ada yang percaya bahwa ia bisa melakukan hal tersebut. “Orang-orang bilang, ‘kamu hanya orang biasa, bagaimana bisa kamu menghasilkan listrik?’” ujarnya.

Ia menambahkan jika menyerah karena perkataan orang, maka ia akan nampak semakin bodoh. “Jika orang mengejek Anda, itu seharusnya memotivasi Anda. Jika mereka menghina Anda, itu bagus. Kenapa? Karena itu membuat Anda berpikir, ‘tunggu dan lihat saja, saya akan membuktikannya (kalau saya bisa)’,” ungkap Rasid.

Di ladang Rasid terdapat sungai kecil yang airnya terus mengalir sepanjang tahun bahkan di musim kemarau. Ia pun membangun kincir air pada titik tersebut. Untuk mendanai proyek ini, Rasid menjual dua sapi yang ia miliki. Ia kemudian membeli kayu, memotong dan membentuknya menjadi seperti roda untuk kincir air tersebut.

Ia menambahkan generator, namun karena tidak memiliki uang sehingga ia menggunakan generator yang sudah rusak dan memperbaikinya.

Selama sebulan, ia tidak berhasil membuat roda yang dapat berputar guna menghasilkan tenaga. Setelah gagal dua kali, yang ketiga akhirnya berhasil sesuai harapannya. Untuk pertama kalinya, cahaya menerangi desa tersebut di malam hari. Dengan kincir air tersebut, ia berhasil menghasilkan tenaga listrik untuk 75 keluarga selama 24 jam setiap harinya.

“Dengan listrik, murid-murid dapat belajar lebih lama. Dan harapannya mereka memiliki ambisi untuk menjadi apa yang mereka inginkan,” ujar Saiful. Untuk tempat-tempat umum seperti mushola, klinik, dan sekolah tidak dikenai biaya oleh Rasid. Untuk rumah tangga dikenai biaya sebesar 7 ribu rupiah sebulan. Jika tidak ada yang mampu membayar, diperbolehkan membayar dengan apa saja. “Bisa dengan buah dan kopi, selagi masih memiliki nilai. Ayam atau telur juga bisa,” ungkapnya.

Sempat ada perdebatan antara PLN dengan Rasid, ketika PLN memperluas jaringannya ke Andungbiru. Namun dikarenakan harganya terbilang mahal untuk masyarakat di sana, warga lebih memilih tenaga listrik milik Rasid. Dua tahun lalu, pihak PLN menawarkan untuk membeli kincir air milik Rasid, namun ia menolak.

“Tujuan saya memberikan kesejahteraan untuk yang miskin, memberikan lapangan pekerjaan bagi mereka. Kalau saya terima tawaran itu, saya akan menjadi bodoh karena tidak perlu berpikir lagi,” urainya. gma/R-1

Tenaga Terbarukan sebagai Alternatif

Menurut Riset Pasar Gabungan, Pasar Energi Terbarukan Dunia seharga 1,4 juta dollar AS pada 2016, dan angka itu terus bertumbuh. Adapun angka energi terbarukan di seluruh dunia semakin meningkat. Energi terbarukan adalah yang dihasilkan dari proses alami yang secara konstan tidak akan habis, seperti sinar matahari, panas bumi, air, udara, air pasang, dan bentuk lainnya.

Hal ini terjadi karena sumber energi listrik di seluruh dunia sebagian besar menggunakan fosil. Dilihat dari faktor ketersediaannya, sumber energi ini semakin menipis. Selain itu, dari segi lingkungan, fosil merupakan penyumbang terbesar pemanasan global karena menghasilkan emisi karbondioksida.

Seluruh negara di dunia saat ini mulai menggunakan energi terbarukan sebagai tenaga produksi, untuk menurunkan isu-isu lingkungan seperti perubahan iklim dan menipisnya lapisan ozon. Dengan kata lain, energi terbarukan adalah solusi yang tepat untuk menghambat perubahan iklim dan pemanasan global.

Menurut data penelitian yang dilakukan Deloitte yang menjadi kunci untuk mendukung perkembangan energi alternatif dalam waktu dekat.

“Pada awal Desember 2017, sudah ada 117 perusahaan yang berkomitmen untuk menggunakan energi alternatif sebagai bagian dari kampanye RE100. Dan gerakan ini menyebar secara meluas mulai dari perusahaan besar hingga ke perusahaan kecil dan menengah,” ungkapnya.

Energi terbarukan harus menjadi perhatian utama karena tidak hanya sebagai upaya untuk mengurangi pemakaian energi dari fosil guna mewujudkan energi yang ramah lingkungan. gma/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment