Koran Jakarta | February 23 2018
No Comments
Bridestory Fair 2018

Mengaplikasikan “Star Dust” dalam Warna-warna Antariksa

Mengaplikasikan “Star Dust” dalam Warna-warna Antariksa

Foto : dok. Bridestory Fair 2018
A   A   A   Pengaturan Font

Bridestory Fair kembali hadir. Acara tahunan tersebut diadakan yang kali ketiga di Grand Sheraton Hotel Jakarta, pekan lalu, dengan mengambil tema besar Star Dust atau debu bintang.

Hal ini dilatar belakangi tingginya teknologi dan gaya hidup para pasangan muda dengan banyaknya detail yang dapat diimplementasikan.

“Ini merupakan konsep yang bagus,” ujar Nathalua Isadora, Project Manager Bridestory Fair 2018 di Jakarta.

Tema Star Dust ini bisa diimplementasikan dengan warna-warna antariksa. Didominasi dengan warna monokrom, metalik, dan warna-warna ultraviolet. “Sebenarnya temanya itu klasik tapi modern di saat yang bersamaan,” kata Natasha.

  

Pengaplikasian tema Star Dust ini sebenarnya sudah banyak berkembang di luar negeri. Namun bedanya tidak di highlight seperti di Indonesia, yang hingga dijadikan tema dalam wedding fair. Yang paling mencolok dalam tema ini adalah penggunaan lampu-lampu kecil kristal atau chandelier yang membuat tampilan pernikahan tampak glamor namun klasik di saat yang sama.

Pemakaian benda-benda beraksen kayu justru dihindari karena akan tidak selaras dengan rangkaian hiasan kristal yang digunakan untuk tema ini.

Ada sekitar 120 vendor yang ikut meramaikan acara tahunan Bridestory Fair. Terdapat 16 kategori yang terdapat dalam Bridestory Fair, mulai dari venue, decoration, katering, dress, souvenir, hingga undangan pernikahan.

Natasha mengharapkan pengunjung dapat meningkat dari tahun lalu sebanyak 18 ribu pengunjung. Ia membocorkan yang berbeda dengan acara tahun sebelumnya adalah terdapat instalasi yang membuat para pengunjung dapat merasakan langsung apa yang ditawarkan vendor-vendor tersebut.

Yang paling banyak adalah instalasi dekorasi pernikahan yang didominasi hiasan lampu-lampu kecil gemerlap ala film Twilight. Salah seorang wedding planner dari Luxury Weddings Indonesia, Ria Kentjono mengatakan tren ini mulai mencuat di permukaan saat tokoh di film Twilight menggunakan tema dengan nuansa Star Dust ini.

"Jadi penggunaan tema ini membuat nuansa yang sophisticated, elegan, dan karena terpengaruhi tren sosial media dan film itu," ungkapnya.

Semakin berkembangnya tren pernikahan saat ini, terlebih dengan laju sosmed yang tidak ada hentinya. Aktris dan founder dari Tulola Jewelry, Happy Salma mengatakan tren pernikahan sekarang lebih ke arah personal atau lebih menggambarkan karakter orang tersebut, ketimbang mengikuti tren pernikahan yang sudah ada. "Tren pernikahan sekarang makin personal, sekarang setiap orang lebih mau dengan karakter yang ada di dirinya," ujarnya.

Ia menambahkan Tulola miliknya juga sebagai brand jewelry handmade memberikan desain yang personal. Tulola yang sudah berdiri selama 10 tahun ini menggunakan teknik-teknik kerajinan Indonesia.

"Tekniknya 100 persen murni Indonesia, desainnya juga ada yang merupakan motif turun temurun yang dikombinasikan pula dengan desain yang saya buat sendiri," ungkap Happy.

Material yang digunakan untuk desain perhiasan Tulola adalah silver dengan deep gold, namun ada pula yang dibuat solid gold meskipun hanya beberapa. Saat ini, Tulola baru memiliki toko offline yang berada di Bali dan toko online yang dapat dipesan di seluruh dunia.

Happy mengharapkan Tulola lebih berekspansi dan lebih dikenal masyarakat Indonesia. Tidak hanya tren pernikahan yang lebih ke arah yang personal. Tren pemotretan pra pernikahan pun dinilai sama.

Jatidiri Putro Wicaksono, fotografer dari Jatidiri, menjelaskan tren foto pra pernikahan 2018 saat ini lebih ke arah camdid, yaitu pengambilan gambar diam-diam atau tidak melihat ke arah kamera. Pengambilan gambar tersebut bertujuan agar calon pengantin lebih alami dan menonjolkan karakter atau diri yang sebenarnya tanpa dibuat-buat.

"Karena mereka ingin tampil alami dan lebih jujur karena pada akhirnya foto-foto itu dipajang kan," ujar Ono. 

Ia menambahkan tren camdid seperti ini sebenarnya sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu di luar negeri, namun baru diadaptasi sekarang. Beberapa orang memang ada yang melakukan foto pra pernikahan, namun ada juga yang tidak melakukan.

Finansial merupakan salah satu faktor mengapa orang memilih untuk tidak melakukan pemotretan pra pernikahan karena terkadang biaya untuk melakukan itu terbilang tidak murah. "Kenapa tidak murah karena ya pertama modal. Fotografer pasti butuh yang namanya kamera. Lalu jam terbangnya dia bagaimana dan kemudian konsepnya. Menentukan konsep itu kan tidak mudah," ungkapnya.

Tren Lebih Simpel

Pakaian pengantin pria umumnya tidak terlalu memerlukan perhatian lebih ketimbang pakaian pengantin wanita. Biasanya yang dikenakan pengantin pria adalah pakaian adat pernikahan atau berupa jas lengkap dengan kemejanya.

Pemilihan jas untuk pengantin pria pun tidak bisa sembarangan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. "Seperti misalnya postur badannya, dibuat perbandingannya dahulu," ungkap Johanes Wongso, desainer dari Wong Hang Tailor.

Postur tubuh menentukan bentuk jas yang nantinya akan dibuat. Semisalnya jika bagian leher pria tersebut besar, maka tidak cocok memakai kemeja dengan leher yang tinggi. Yang paling mudah dalam menentukan jas pernikahan yang cocok adalah dengan menyesuaikan jas tersebut dengan gaun pengantin perempuan dan temanya.

Karena biasanya calon pengantin perempuan yang terlebih dahulu menentukan gaun yang ingin ia kenakan, sehingga calon mempelai pria tinggal mencocokkan jas pilihannya dengan sang calon mempelai perempuan. "Kalau misalnya indoor atau malam, biasanya pemilihan warna jasnya lebih gelap. Kalau untuk di luar ruangan, warna jasnya lebih ke warna yang cerah," ujar Johanes.

Tren untuk pakaian pengantin pria pun saat ini jauh lebih simpel dan bermain pada warna juga pada cutting jasnya. "Biasanya detailnya disesuaikan dengan keinginan calon pengantin. Namun sebagai seorang desainer harus mempertimbangkan jas tersebut pula dengan postur tubuh dan konsep yang sesuai dengan tema pernikahannya," ungkap Johannes.

Peran sosmed juga mempengaruhi tren pakaian pengantin pria seperti pernikahan Raisa dan Hamish Daud beberapa waktu lalu. Keduanya menggunakan pakaian dengan warna maroon dan cuttingan yang sedikit simpel.

Johannes mengatakan tak lama dari itu banyak yang menginginkan pakaian pengantin pria seperti yang dikenakan Hamish. Ia mengungkapkan tidak semuanya bisa mengenakan pakaian pengantin dengan model seperti itu karena postur tubuh setiap orang berbeda, maka dari itu sebagai desainer, ia menyarankan desain yang sesuai dengan postur tubuh pelanggannya.

Standarnya untuk melakukan pemesanan pakaian pengantin pria adalah dua sampai tiga bulan sebelum acaranya, namun Johanes menyarankan bisa enam bulan sebelum acara pernikahan tersebut. "Terlebih pada bulan-bulan seperti September Oktober November hingga Desember yang biasanya menjadi bulan pernikahan jadi harus pesan jauh-jauh hari sebelumnya," pungkasnya. gma/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment