Koran Jakarta | October 20 2019
No Comments

Mengelola Emosi dengan Model Simpanse

Mengelola Emosi dengan Model Simpanse
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Mengelola Pikiran
Penulis : Prof Steve Peters
Penerbit : Gramedia
Cetakan : I, 2019
Tebal : 381 Halaman
ISBN : 978-602-06-2805-9

Di tengah tingginya tuntut­an kehidupan, banyak yang gagal mencapai kebahagiaan, malahan terlempar dalam pusaran kecemasan. Dalam merespons situasi seperti itu, terkadang orang lebih se­nang menyalahkan lingkungan atau sesama di sekitar. Padahal, sebagai manusia yang memiliki kontrol penuh atas emosi dan pikiran, individu se­harusnya dapat menghadapi dengan mengenali serta mengelola psikologi.

Buku ini membantu memahami cara kerja emosi serta pikiran ma­nusia. Setelah paham cara kerjanya, harapannya pembaca bisa mengelola emosi serta pikiran untuk mencapai kebahagiaan, serta terhindar dari kece­masan berlebihan. Secara sederhana, otak manusia terdiri dari komponen frontal, limbik, dan pariental. Dalam konsep model simpanse ini, buku me­nyebut bagian frontal sebagai manusia, limbik sebagai simpanse, dan pariental sebagai komputer (ha. 4).

Bagian frontal (manusia) adalah komponen yang mewakili pusat ke­manusiaan dalam diri yang bekerja se­cara logis. Adapun simpanse adalah dimensi emosional dalam benak internal. Sedangkan komputer adalah tabungan informasi, kepercayaan, dan nilai dalam pikiran (hal 10).

Kecemasan seringkali berasal dari lemahnya komponen manusia (frontal) dan terlalu berkuasanya kom­ponen simpanse (limbik). Dalam me­nilai atau merespons situasi, simpanse kerap melakukannya secara tergesa-gesa, emosional, tidak rasional, dan hitam putih (hal 18). Tindakan seperti inilah yang akhirnya memunculkan kecemasan.

Yang perlu diketahui untuk me­nangkal pembajakan simpanse dalam diri, harus menyadari setiap kali mun­cul perasaan, pikiran, dan perilaku tak diinginkan, ini ulah simpanse (hal 45). Buku tidak menyarankan pembaca untuk melawan simpanse karena lebih kuat dari komponen manusia. Saran­nya untuk mengaturnya dengan cara berikut.

Melatih simpanse dengan cara membiarkan emosi dalam diri keluar. Untuk ini, pembaca bisa membiarkan diri menceritakan keluhan atau pe­rasaan yang memang harus diung­kapkan atau “curhat” (hal 62–64). Kemudian, mengandangkan simpanse dengan melepas emosi tersebut dalam area aman dan mengajaknya bicara. Langkah ini biasanya dilakukan sete­lah orang mampu menenangkan sisi emosional.

Jadi, setelah manusia merasa te­nang dari kecemasan berlebihan, bisa mengajak bicara diri sendiri dengan menawarkan solusi yang lebih logis terhadap suatu permasalahan (hal 64–65). Lalu, memberi pisang kepada simpanse. Ini sebagai pengalih per­hatian. Umpamanya, ketika individu sedang marah, alihkan dengan men­cari penghiburan seperti mendengar musik, menonton film, dan melaku­kan berbagai aktivitas menyenangkan lainnya. Kemudian, pisang sebagai ha­diah. Misalnya, ketika sisi emosional sedang menghambat untuk belajar, pembaca dapat berikrar bahwa setelah belajar, akan menghadiahi segelas mi­numan (hal 72–74).

Buku Mengelola Pikiran juga mengelaborasi berbagai latihan dalam permasalahan sehari-hari seperti men­jalin hubungan dengan orang lain, cara berkomunikasi yang efektif, meng­hadapi stres, hingga usaha mencapai kebahagiaan, percaya diri, dan rasa aman. Jadi, buku tidak hanya teoritis, tapi juga bersifat praktis agar pembaca menerapkannya sedikit demi sedikit dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa cara tadi sangat layak di­coba. Sebab tidak mudah, maka perlu latihan berulang-ulang guna mengen­dalikan simpanse (sisi emosional) da­lam diri. Dengan emosi stabil, mudah bagi siapa saja untuk mencapai keba­hagiaan, kesuksesan, atau terhindar dari kecemasan berlebihan. Diresensi Ahmad Yazid, Mahasiswa Pascasarjana UIN Suka Yogyakarta

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment