Mengolah Popok Bekas Jadi Pokbrick dan Minyak Bakar | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 19 2020
No Comments
Program Sustainability

Mengolah Popok Bekas Jadi Pokbrick dan Minyak Bakar

Mengolah Popok Bekas Jadi Pokbrick dan Minyak Bakar

Foto : KORAN JAKARTA/ M FACHRI
A   A   A   Pengaturan Font

Persoalan limbah atau sampah merupakan persoalan yang sangat krusial. Dari bertumpuknya persoalan sampah ini kemudian muncul sejumlah ide, diantaranya daur ulang popok bayi bekas yang diolah menjadi pokbrick dan minyak bakar.

Sebagai salah satu produsen pembalut dan popok terbesar di Indonesia, PT Softex Indonesia (SI) berkomitmen mendaur ulang popok bekas pakai menjadi sesuatu yang fungsional dan bernilai.

Popok bayi bekas akan diolah menjadi pokbrick (batu bata dari bahan popok bekas) dan minyak bakar sebagai substitusi minyak tanah. Dengan menggunakan mesin hidrotermal yang ramah lingkungan atau tanpa metode pembakaran, popok bekas tersebut diproses menjadi fiber dan plastik terlebih dahulu.

Kemudian, fiber diolah menjadi pokbrick. Sedangkan plastik diolah lagi di mesin pyrolysis menjadi minyak bakar. Program sustainability ini merupakan bentuk nyata dari kontribusi PT SI kepada masyarakat dan lingkungan dalam mengurangi limbah popok.

“PT SI percaya bahwa kesuksesan perusahaan tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan bisnis, tetapi juga harus diimbangi dengan program yang dapat membantu masyarakat dan lingkungan,” ujar Direktur PT SI, Djali Halim.

Dalam program sustainability ini, PT SI bekerja sama dengan Guna Olah Limbah (GOL) selaku perusahaan teknologi pengolahan limbah berbasis riset. Nantinya, mesin hidrotermal yang dapat mengolah popok bekas pakai menjadi pokbrick dan minyak bakar itu akan ditempatkan di Bank Sampah Bersinar. Selain dengan komunitas, PT SI juga bekerja sama dengan Day Care Galenia, Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Limijati, Paskal Mall, dan PVJ Mall sebagai tempat pengumpulan sampah popok.

Program ini merupakan program lanjutan dari program sustainability sebelumnya yang sudah dijalankan di Tangerang dan diresmikan pada 8 Oktober 2019. Kurangi Limbah Botol Plastik Saat ini limbah plastik masih menjadi problematika di tengah masyarakat Indonesia saat ini. Berdasarkan data dari Indonesia Solid Waste Association (ISWA) produksi sampah di Indonesia mencapai 5,4 juta ton/tahun.

Ketergantungan masyarakat dalam melakukan aktivitas menggunakan plastik, terutama bahan plastik yang sekali pakai seperti bungkus makanan dan botol minuman menjadi salah satu penyebabnya.

Serta pengolahan limbah plastik menjadi plastik daur ulang masih cukup rendah menjadikan Sehingga limbah plastik terus menumpuk ditempat pembuangan akhir dan biasanya langsung dibakar begitu saja, padahal hal itu dapat mempolusi udara akibat kandungan asap yang terdiri atas karbonmonoksida (CO), hidrogen sianida (HCN), dan pada asapnya mengandung senyawa dioksin yang biasa digunakan untuk herbisida. Diperlukan suatu konsep recycling limbah plastik untuk mengurangi limbah plastik yang ada.

Botol dari minuman air mineral atau minuman bersoda yang memiliki tekstur kaku dan lebih keras contoh limbah plastik dengan jenis PolyEthylene Terephthalate (PET). Sehingga dengan cara sederhana dapat dicacah dan dihancurkan menjadi serbuk-serbuk plastik dengan mudah. Serbuk limbah plastik PET ini dibuat dengan ukuran maksimum 4,75 mm.

Batako limbah PET lebih ringan dari batako pada umumnya sehingga saat digunakan untuk bahan bangunan dapat mengurangi beban bangunan. Di sisi lain, saat terjadi bencana misalnya gempa kerusakan bangunan yang menyebabkan probabilitas korban jiwa paling besar adalah kerusakan non struktural, seperti lantai, dinding, tangga, serta atap.

Karena batako limbah PET beton ini lebih ringan dibandingkan genteng beton konvensional, sehingga telah dipastikan aman bagi penghuni bangunan tersebut. Tidak hanya ringan batako limbah PET juga cukup kuat.

Dari hasil penelitian menunjukan jika kandungan PET sebesar 0– 25 persen masih dapat digunakan sebagai batako dinding dengan kelas Mutu IV atau sesuai untuk mutu bangunan sederhana seperti bangunan tempat tinggal. Dengan dikembangkannya lagi penelitian pembuatan batako limbah PET dapat meluncurkan inovasi terbaru dalam dunia konstruksi.

Selain itu dapat di jadikan solusi dan salah satu penyelesaian mengurangi sampah. Dengan memanfaatkan bahan limbah yang selama ini masih menjadi permasalahan besar di Indonesia terutama.

Pilot Project di Kota Yogyakarta

Pemerintah Kota Yogyakarta menyiapkan Kecamatan Tegalrejo sebagai pilot project pengolahan sampah menjadi batako sebagai salah satu upaya mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA Piyungan di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). “Kecamatan Tegalrejo dinilai paling siap. Pada awalnya, kami bisa menyiapkan tiga peralatan, namun karena keterbatasan lahan, maka hanya bisa direalisasikan di dua lokasi saja,” kata Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi di Yogyakarta.

Menurut dia, peralatan pengolahan sampah tersebut berbentuk seperti cerobong guna mengolah sampah. Sampah yang dimasukkan akan menjadi residu yang nantinya digunakan sebagai bahan utama pembuatan batako. Heroe menyebut, konsep pengolahan sampah serupa juga sudah dilakukan di beberapa daerah seperti Cirebon dan teknologi pengolahan sampah tersebut tidak akan menimbulkan polusi bagi lingkungan atau berbahaya bagi warga yang tinggal di sekitarnya.

“Tidak ada asapnya dan tidak berbau sehingga ramah lingkungan,” katanya. Dengan peralatan tersebut, lanjut Heroe, maka tidak akan ada lagi sampah dari Tegalrejo yang dibuang ke TPA Piyungan karena seluruhnya sudah diolah di tempat pengolahan sampah.

“Investasi untuk peralatan pengolah sampah juga tidak terlalu mahal. Sekitar Rp170 juta sampai Rp200 juta per unitnya,” katanya. Peralatan yang akan ditempatkan di Tegalrejo tersebut memiliki spesifikasi mampu mengolah sampah sebanyak empat hingga delapan ton dalam waktu empat hingga enam jam saja.

“Jika sistem pengolahan sampah yang diterapkan di Tegalrejo ini berhasil, maka kami akan kembangkan di seluruh wilayah di Kota Yogyakarta. Harapannya, sampah tidak dibuang ke TPA Piyungan lagi,” katanya.

Saat ini, meskipun Kota Yogyakarta sudah memiliki sekitar 450 bank sampah, namun tetap bergantung pada keberadaan TPA Piyungan sebagai tempat pembuangan akhir sampah sehingga saat TPA Piyungan berhenti beroperasi, maka tumpukan sampah terlihat menggunung di sekitar tempat pembuangan sampah sementara dan depo.

Sementara itu, Kepala Bappeda DIY Budi Wibowo saat menjadi narasumber dalam Musrenbang Kota Yogyakarta mengatakan, skema penanganan TPA Piyungan sudah ditetapkan, yaitu penanganan jangka pendek dan jangka panjang.

Penanganan jangka pendek yang akan dilakukan adalah perbaikan infrastruktur dan penyehatan lingkungan di sekitar TPA Piyungan, sedangkan penanganan jangka panjang adalah pemanfaatan teknologi pengolahan sampah menjadi energi.

“Dokumen pelaksanaan proyek sudah ada dan akan dilelang Bappenas pada Mei,” pungkasnya.  yni/R-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment