Koran Jakarta | October 20 2019
No Comments

Menguak Representasi M Hoesni Thamrin

Menguak Representasi M Hoesni Thamrin
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Mohammad Hoesni Thamrin
Penulis : Yasmine Zaki Shahab
Penerbit : Rajawali Press, 2019
Tebal : xl + 159 halaman
ISBN : 978-602-425-715-6

Buku ini ditinjau dari sisi antropologis historis tentang representasi MH Thamrin di dunia pemerintahan, pendidikan, masyarakat, dan etnis Betawi. Sebagai karya antropologis historis, buku ini tentu tidak menggali fakta sejarah baru atau memberi tafsir baru atas data sejarah lama.

Penulisnya juga tidak berpretensi mengulangi pembahasan menge­nai sosok Thamrin. Sebab dari sisi ini, sudah banyak buku yang meng­ulas perannya dalam sejarah nasio­nal Indonesia dimulai sejak zaman pergerakan sampai kemerdekaan. Representasi Thamrin penting untuk melihat apreasiasi publik dan peme­rintah terhadapnya.

Maka, beberapa isu yang dikupas terkait representasi Thamrin sebagai pejuang nasional menggambarkannya pada masyarakat (awam), generasi muda Ibu Kota, dan rakyat Betawi sendiri. Buku ini juga menampung pendapat berbagai pihak mengenai Thamrin sebagai pejuang nasional.

Dengan pendekatan ini, terungkap bahwa representasi Thamrin dewasa ini masih bermasalah. Dalam gam­baran (sebagian) masyarakat Betawi, misalnya, dia diidentikkan dengan budaya kebarat-baratan ketimbang mewakili kultur Betawi. Padahal, dengan pendekatan sirkumtansialis, publik mesti bisa membedakan tokoh di ruang publik dan privat.

Karena profesinya, khususnya sebagai anggota Volskraad, Thamrin menyandang gaya hidup Eropa di ruang publik, namun di ruang privat sangat Betawi. Hal itu tak hanya bisa dilihat dari keaktifannya pada perkumpulan Betawi yang merepresentasikan kesukuannya, tetapi juga kebiasaannya di lingkungan rumah sebagai ruang privatnya yang penuh aura Betawi (hal144).

Selain itu, reprensentasi dia juga terlihat dari pemerintah dan masya­rakat yang memperlakukan situs-situs (sejarah) sejatinya dapat mewakili sebagai pejuang nasional dari Betawi. Dalam buku ini, penulis menunjukkan banyak situs tersebut kurang terurus, sehingga tidak memunculkan impresi mendalam kepada warga. Situs-situs itu antara lain dalam bentuk museum, masjid, rumah kelahiran, perkampun­gan masa kanak-kanak, dan lainnya.

Di kalangan masyarakat Betawi sendiri memang ada kegiatan yang dianggap sebagai upaya mewakili Thamrin, namun tidak tercatat sebagai sosialisasi tokoh tersebut. Padahal seharusnya organisasi Betawi bisa menjadi agen ketokohan Thamrin.

Dalam konteks pembangunan karak­ter bangsa, rekomendasi yang disampai­kan buku fokus pada upaya reaktualisasi nilai-nilai dan semangat perjuangan kepada masyarakat dalam wujud revi­talisasi situs-situs. Padahal, reaktualisasi nilai perjuangannya lebih jauh bisa de­ngan melakukan semacam “intervensi” ke dalam sistem pengetahun (sejarah) masyarakat, terutama generasi muda.

Bagaimanapun, hasil penelitian etnografis buku ini memberi kontri­busi besar sebagai dasar kebijakan penumbuhan kesadaran sejarah dan kultural kepada masyarakat, khusus­nya terkait ketokohan orang Betawai tersebut. Diresensi Israr Iskandar, Mahasiswa Doktoral UI

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment