Koran Jakarta | June 16 2019
No Comments

Menikmati Keindahan Arsitektur Masjid

Menikmati Keindahan Arsitektur Masjid

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Ruang utama masjid terlihat suasana kuno sarat nilai sejarah makin terasa. Bangunannya menyerupai joglo dengan tiang penyangga salah satunya dari kayu jati.

Selain sebagai tempat ibadah, sejumlah masjid di Tanah Air menyimpan keelokkan arsitektur semasa jaman kerajaan maupun para wali. Bentuk dan bahan bangunan yang masih dipertahakan menjadi daya tarik yang tidak tergantikan.

Bangunan masjid yang merupakan peninggalan jaman kerajanan maupun para wali menjadikan masjid tidak sekedar tempat ibadah. Sembari beribadah, para pengunjung dapat menikmati arsitektur bangunan peninggalan masa kerajaan.

Seperti Lia, pengunjung dari Sidoarjo, Jawa Timur yang tidak henti-hentinya mengambil gambar di Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta. “Arsitekturnya bagus,” ujar dia pendek saat ditemui di Yogyakarta, Kamis (30/5).

Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I bersama Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat (penghulu kraton pertama) dan Kyai Wiryokusumo sebagai arsiteknya pada Ahad Wage 29 Mei 1773. Kompleks Masjid Gedhe Kauman dikelilingi dinding yang lumayan tinggi. Pintu utama kompleks terdapat di sisi sebelah timur berhadap dengan Alun-Alun Utara dengan konstruksi Semar Tinandu.

Arsitektur bangunan induk berbentuk tajug atau limas bujur sangkar yang biasanya digunakan untuk bangunan suci di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Sedangkan, atapnya dibuat bertumpang tiga.

Lantai masjid yang semula menggunakan batu kali telah diganti dengan marmer Italia, saat terjadi gempa besar pada 1867. Para pengunjung yang ingin masuk masjid dapat melalui pintu utama di sisi timur maupun utara.

Setelah melewati pintu masuk, pengunjung akan melewati serambi yang kerap digunakan untuk berbagai acara keagamaan. Di bagian serambi, pengunjung akan disuguhi langit-langit masjid berbahan kayu jati berusia ratusan tahun berwarna kuning keemasan.

Memasuki bagian dalam sebagai ruang shalat yang dilengkapi dengan mihrab suasana sedikit lebih gelap. Lantaran kayu-kayu sebagai saka guru maupun langit-langit berwarna lebih gelap. Meski begitu tidak mengurangi, keindahan arsitektur masjid.

Masjid lain yang tidak kalah memukau adalah Masjid Agung Demak. Sepertihalnya pembagian bangunan masjid pada umumnya, Masjid Agung Demak memiliki bangunan induk dan serambi.

Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Konon, salah satu tiang utama berasal dari serpihan-serpihan kayu sehingga dinamai saka tatal. Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka dengan atap berbentuk limasan yang ditopang delapan tiang disebut Saka Majapahit.

Atap limas masjid terdiri dari tiga bagian yang menggambarkan Iman, Islam, dan Ihsan. Di Masjid yang menjadi tempat ibadah dan wisata ini terdapat pintu bledeg yang mengandung candra sengkala atau angka tahun yang disimbolkan dengan kata, gambar atau benda. Pada pintu tersebut bermakna 1466 M atau 887 H.

Dalam lokasi Masjid Agung Demak terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak, salah satunya Sultah Fattah yang merupakan raja pertama Kesultanan Demak dan para abdinya. Selain itu, dikompleks masjid terdapat Museum Masjid Agung Demak yang berisi berbagai hal mengenai riwayat Masjid Agung Demak.

Di musim lebaran seperti ini, Masjid Agung Demak kerap menjadi persinggahan pemudik khususnya yang melewati jalur utara untuk beribadah sembari berwisata. Pada 1995, Masjid Agung Demak dicalonkan menjadi situs warisan dunia UNESCO.

Sementara, Masjid Gedhe Mataram yang terletak di selatan kawasan Pasar Kotagede, Yogyakarta menjadi salah satu masjid yang bangunannya menyerupai tempat peribadan Hindu dan Budha. Hal ini tidak lain, masjid yang dibangun oleh Sultan Agung dilakukan bersama warga setempat yang umumnya beragama Hindu dan Budha.

Pengaruh dua agama tersebut terlihat pada gapura di bagian depan masjid yang berbeda dibandingkan masjid pada umumnya. Karena, gapura yang biasa disebut rana atau kelir menyerupai tempat peribadan Hindu dan Budha. Bentuk gapura menjadi bentuk toleransi Sultan Agung terhadap masyarakat setempat.

Memasuki masjid, pengunjung akan bertemu pohon beringin dengan parit yang mengelilingi masjid. Dulu, parit digunakan sebagai tempat wudhu, saat ini parit digunakan sebagai tambak. Masjid yang memiliki halaman luas memiliki teras dengan kolam ikan.

Masuk ke ruang utama masjid, suasana kuno sarat nilai sejarah makin terasa. Bangunannya menyerupai joglo dengan tiang penyangga salah satunya dari kayu jati. Bagian mimbar pun juga terasa klasik. Di sebelah kiri bangunan masjid terdapat jalan menuju ke makam dengan pintu jalan berupa rana atau kelir. Masjid dikelilingi tembok-tembok khas arsitektur jaman dahulu.

Masjid Gedhe Mataram memiliki prasasti yang menyebutkan bahwa masjid dibangun dua tahap. Tahap pertama dibangun pada masa Sultan Agung, berupa bangunan inti masjid.

Tahap kedua dibangun Raja Kasunanan Surakarta, Pakubuwono X. Ada perbedaan diantara keduany. Pada masa Sultan Agung, tiang masjid berbahan kayu sedangkan pada bangunan masa Pakubuwono tiang masjid menggunakan besi.

Perbedaan lainnya berupa, tembok bagian kiri terdiri batu bata berukuran lebih besar dengan warna merah tua. Selain itu, ada batu marmer dengan tulisan aksara jawa. Sedangkan, tembok lain mempunyai batu bata berwarna agak muda dengan ukuran lebih kecil dan polos.

Tembok yang kiri dibangun di masa Sultan Agung, sedangkan tembok lain hasil renovasi Pakubuwono X. Sampai saat ini, masjid masih digunakan beribadah masyarakat setempat. din/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment