Menjaga BUMN Asuransi | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 26 2020
No Comments

Menjaga BUMN Asuransi

Menjaga BUMN Asuransi

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Keberadaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bidang asuransi sedang menghadapi masalah, terutama terkait dengan kesehatan keuangan. Tersebutlah, misalnya PT Asuransi Jiwasraya (Persero) yang sedang menghadap masalah akibat pengelolaan investasi pada instrumen saham dan reksadana yang berkualitas rendah.

Kondisi ini mengakibatkan Jiwasraya mengalami kerugian dan gagal bayar polis. Tak cuma itu, kini aparat penegak hukum sedang menyelusuri penyebab Jiwasraya menghadapi masalah keuangan. sejumlah saksi dan laporan audit Badan Pemeriksa Keuangan menjadi alat bukti untuk mengungkap masalah yang menggelayuti Jiwasraya.

Menyusul Jiwasraya, Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM, Mahfud MD, mengungkap kasus yang dihadapi PT Asabri (Persero). Tak tanggung-tanggung, nilai kerugian perusahaan asuransi sosial untuk anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) ini melebihi Jiwasraya, yakni sekitar 10 triliun rupiah.

Ini terjadi karena saham-saham yang menjadi portofolio Asabri berguguran sepanjang 2019, dan penurunan harga saham dapat mencapai lebih dari 90 persen sepanjang tahun.

Jauh sebelum kasus Jiwasraya dan Asabri mengemuka, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah mengungkap perkara di PT Asuransi Jasindo (Persero). Bahkan, pengadilan telah memvonis tujuh tahun penjara bekas direktur utama Jasindo.

Dalam perkara Jasindo, sejumlah pejabat Jasindo menerima imbalan sebesar 15 miliar rupiah dari pengadaan Asuransi Oil and Gas antara BP Migas dan  KKKS tahun 2010– 2012 dan tahun 2012–2014, dengan menunjuk seorang agen atau broker. Ini terjadi setelah Jasindo dalam dua pengadaan asuransi dari BP Migas itu ditunjuk sebagai pimpinan konsorsium.

PT Jasindo mengajak perusahaan asuransi lainnya, yakni PT Tugu Pratama Indonesia (TPI), PT Wahana Tata, PT Asuransi Astra Buana, PT Asuransi Central Asia (ACA), dan PT Asuransi Adira Dinamika.

Pejabat Jasindo kemudian memerintahkan bawahannya menunjuk seseorang menjadi agen atau broker dalam dua pengadaan asuransi yang dilakukan BP Migas tersebut.

Dalam penyelidikan ternyata PT Jasindo sebetulnya tak memerlukan agen. KPK menilai bayaran terhadap dua agen yang ditunjuk PT Jasindo tersebut sebagai kerugian keuangan negara. Belajar dari perkara Jasindo, boleh jadi kasus yang dialami Jiwasraya dan Asabri tak jauh beda, yakni memanfaatkan peluang dari agen.

Bisa jadi juga, oknum Jiwasraya dan Asabri bermain dengan Manajer Investasi. Soalnya kemudian, mengapa modus operandi memanfaatkan BUMN Asuransi nyaris sama? Di sinilah pentingnya aparat hukum untuk menelisiknya.

Terlebih itu, banyak celah untuk berbuat kejahatan lewat BUMN asuransi. Ini terjadi, karena lemahnya pengawasan. Akibatnya, sejumlah standar operasi yang ada mudah diabaikan.

Bahkan, bagi mereka yang terlibat pun tak diberi sanksi atau diperkarakan ke meja hijau. Sikap memudahkan masalah dalam BUMN asuransi menjadi perkara kecil menjadi membesar sehingga menghancurkan korporasi. Meskipun sudah ada pakem pengawasan, bisa saja praktik di lapangan memang lemah sehingga bisa terjadi permasalahan maupun dugaan korupsi.

Tidak tertutup kemungkinan pula jika pihak pengawas ikut andil. Pemerintah mau tak mau tak bisa lepas tangan dalam kasus yang terjadi di BUMN asuransi. Sebagai pemegang saham, pemerintah mesti bisa mempertahankan kepercayaan investor maupun pemegang polis, apalagi sebagian di antaranya orang asing.

Artinya, perkara yang terjadi di BUMN asuransi harus segera ditangani agar tidak berdampak sistemik. Lebih dari itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mesti memperketat pengawasan penempatan instrumen investasi industri keuangan non bank (IKNB) termasuk industri asuransi.

Ini pun harus cepat agar bisa k menurunkan risiko rugi akibat menempatkan portofolio investasi di saham atau reksa dana yang tidak berkualitas. Terpenting lagi, harus ada tindakan yang memberikan efek jera bagi pelakunya dan mengembalikan kepercayaan publik.

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment