Koran Jakarta | October 20 2019
No Comments
PERADA

Menyelami Sisi Korea, Selain Eksportir Kebudayaan

Menyelami Sisi Korea, Selain Eksportir Kebudayaan

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Boyband ataupun drama serial Korea Selatan mungkin sudah sering terdengar. Namun, bagaimana dengan karya sastra dari negeri Ginseng tersebut? Semua tersaji dalam antologi cerita pendek berjudul New York Bakery. Dengan 14 kisah pendeknya, para penulis dari berbagai sudut pandang berusaha menceritakan kehidupan masyarakat Korea yang tidak banyak diketahui dunia.

Kebanyakan dari cerita-cerita tersebut mengalir begitu saja tanpa ada batasan dengan menyuguhi kultur Korea itu sendiri. Ada perubahan sosial, sejarah, dan tradisi masyarakat, sehingga memberi pembaca suatu pengalaman untuk memahami kebudayaan Korea.

Contoh, pada cerita New York Bakery yang mengisahkan sebuah toko roti populer dari zaman dulu harus menghadapi globalisasi. Lalu, penulis pun memberi pandangannya. Kala itu, mengenai cara anak-anak pemilik toko roti yang awalnya dikira dapat makan makanan enak seperti roti. Roti saat itu dianggap makanan kelas atas. Hanya karena anak pemilik roti bisa mengonsumsi roti.

“Sekarang dan kelak, setiap kali orang mengetahui bahwa aku merupakan putra bungsu New York Bakery, tanggapan mereka selalu sama. ‘Kau pasti makan kue dalam jumlah besar!’ Setiap kali aku melihat ekspresi iri itu, rasanya seperti menyangkal bahwa aku adalah putra dan pewaris seorang juragan kaya. Ketika kami masih anak-anak, kue dan roti dianggap sebagai makanan kelas atas,” (hlm 7).

Sang penulis bahkan menceritakan dia tidak dapat memakan roti-roti itu, kecuali harus mengambilnya diam-diam. “Sesungguhnya aku tidak diizinkan makan roti-roti itu sesuka hati. Jujur saja, aku pernah melahap roti curian dari New York Bakery. Pengakuan ini mungkin seperti kondektur bus yang mengatakan bahwa dia naik bus secara gratis. Maka kalau aku mengakuinya di ruang pengakuan dosa pun terkesan tak sungguh-sungguh. Tapi itu benar adanya. Kalau ibuku tidak mengawasi toko, aku mengambil roti dan lari,” (hlm 8).

Ada juga, sebuah cerita sederhana obat yang diminum setiap kali saat sakit, ternyata dapat mempengaruhi kehidupan seseorang dalam Sebuah Sejarah Obat. “Setiap kali aku menunggu penerbangan di terminal keberangkatan bandara, aku kerap menyempatkan pergi ke apotek membeli obat-obatan seperti vitamin, propolis, omega 3, dan ginseng merah. Kebiasaan itu, awalnya dimulai untuk menghilangkan kebosanan, tetapi juga karena memang kebutuhan,” (hlm 125).

Pada kisah tersebut, penulis bercerita mengenai seseorang yang sejak kecil sudah dicekoki obat-obatan, khususnya obat tradisional karena fisiknya lemah. Dia sejak kecil selalu percaya bahwa obat-obatan dapat menyembuhkan penyakit yang diderita siapa pun. Begitupula ketika dia sedang sakit dan memutuskan untuk mencuri obat yang diminum neneknya. Karena perkataan, “Obat tidak ada khasiatnya, jika tak pahit,” (hlm 140), dia pun terdoktrin bahwa obat memang sudah seharusnya pahit. Dia pasti akan sembuh dengan meminumnya (hlm 141).

Dalam antologi cerpen Korea ini, pembaca akan menemukan kisah-kisah lain yang selama ini jarang diketahui. Korea merupakan sebuah negara yang penuh hingar bingar, namun ternyata juga memiliki sisi lain seperti trauma perang saudara hingga simbol peradaban maju. 

 

Gemma, wartawan Koran Jakarta

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment