Momentum Dorong Hilirisasi Industri | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 19 2020
No Comments
Kebijakan Industri I BI Menilai Manufaktur Masih dalam Fase Ekspansi

Momentum Dorong Hilirisasi Industri

Momentum Dorong Hilirisasi Industri

Foto : Sumber: BPS – Litbang KJ/and - KJ/ONES
A   A   A   Pengaturan Font
Hilirisasi industri manufaktur harus dilakukan untuk mendapatkan nilai tambah dari produk yang diekspor dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja.

 

JAKARTA – Sejumlah kalangan menilai per­lambatan ekspansi kinerja industri pengolahan atau manufaktur pada kuartal IV-2019 diban­dingkan kuartal sebelumnya mesti dijadikan momentum bagi pemerintah untuk memacu hilirisasi industri dan mendorong industri sub­stitusi impor.

“Bahan baku untuk crude palm oil (CPO) masih banyak dan oversupply, sementara hil­irisasi sawitnya berjalan lambat,” kata peneliti ekonomi Indef, Bhima Yudhistira, di Jakarta, Senin (13/1).

Menurut dia, di tengah-tengah kondisi eko­nomi yang bergejolak, pemerintah sebaiknya mengevaluasi lagi seluruh insentif. Sebab, harus diakui masih ada sejumlah insentif yang kurang produktif sehingga perlu untuk evaluasi kembali.

“Selain evaluasi insentif, pemerintah juga perlu fokus kembangkan industri yang bahan bakunya dari dalam negeri,” jelas Bhima.

Ini akan mengembangkan rantai pasokan di dalam negeri sehingga memacu pertumbuh­an industri dari hulu hingga hilir. Hal ini ten­tunya juga berpotensi menyerap lebih banyak lapangan kerja.

Sebelumnya, Menteri Perencanaan Pemba­ngunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Peren­canaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Suharso Monoarfa, mendorong industri manu­faktur melakukan hilirisasi pada 2020.

Pasalnya, industri ini menjadi salah satu fak­tor kunci untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. “Hilirisasi itu mutlak harus dilaku­kan,” ujar Suharso, beberapa waktu lalu.

Menurut dia, hilirisasi ini penting untuk mendapat nilai tambah produk yang diekspor. Selain itu, untuk membuka penyediaan lapang­an kerja di Indonesia. “Jadi, kita bukan hanya mengekspor dalam bentuk komoditas,” ujar dia.

Selain itu, Suharso mengatakan industri ma­kanan dan minuman, industri tekstil dan pro­duk tekstil juga perlu ditingkatkan. “Pendalaman industri elektronik saya kira penting,” ujar dia.

Terkait kinerja manufaktur, Bank Indonesia (BI) menilai sektor manufaktur Indonesia ma­sih dalam fase ekspansi, meskipun kinerjanya pada kuartal IV-2019 melambat dibanding­kan kuartal sebelumnya. Hal itu terlihat dari Prompt Manufacturing Index (PMI) BI yang turun dari 52,04 persen menjadi 51,05 persen.

Skor PMI BI di atas 50 persen menggambar­kan komponen terkait mengalami ekspansi. Sementara itu, PMI BI di bawah 50 persen menandakan kontraksi dan 50 artinya tetap.

“Ekspansi kinerja industri pengolahan ter­jadi pada sebagian besar subsektor, dengan ekspansi tertinggi pada industri semen dan barang galian nonlogam yang didorong oleh ekspansi volume produksi dan pesanan barang input,” ujar Direktur Eksekutif Kepala Departe­men Komunikasi BI, Onny Widjanarko, dalam keterangan resmi, Senin.

Lebih lanjut, BI memperkirakan ekspansi industri pengolahan bakal lebih tinggi pada kuartal-I 2020. Indikasinya terlihat dari proyek­si PMI BI yang naik menjadi 52,73 persen.

Kegiatan usaha yang diprediksi bakal eks­pansi diprediksi terjadi pada sebagian besar subsektor. Adapun ekspansi tertinggi terjadi pada industri semen dan barang galian nonlo­gam (56,85 persen). Kemudian, industri barang kayu dan hasil hutan lainnya (53,79 persen), serta industri makanan, minuman, dan tem­bakau (53,03 persen).

Masih Deindustrialisasi

Pakar ekonomi dari Universitas Brawijaya, Malang, Munawar Ismail, mengatakan laporan BI soal perlambatan ekspansi industri merupa­kan pertanda Indonesia masih mengalami deindustrialisasi. Pemerintah harus segera merancang cetak biru industrialisasi sebagai upaya untuk menghentikan fenomen itu.

“Fenomea deindustrialisasi sudah dimulai sejak akhir tahun 1990-an, dan sampai seka­rang kontribusi sektor industri terus merosot,” jelas dia.

Padahal, menurut pengalaman negara maju, semakin lama sektor industri akan tambah ber­kembang dan semakin meningkat penyerapan tenaga kerja yang bekerja di sektor tradisional. “Tapi ini terjadi perlambatan, menandakan kita belum punya grand policy industrialisasi,” ujar Munawar.

Munawar mengatakan perlu penguatan ke depan karena kalau terus terjadi akan mencipta­kan banyak persoalan sosial seperti penganggur­an. “Saat ini didengungkan revolusi industri 4.0 tapi itu eranya saja, belum ada strategi dan lang­kah, atau jenis industri apa yang perlu fokus pe­ngembangan,” tukas dia. SB/ers/WP

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment