Koran Jakarta | October 20 2019
No Comments
Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Sumarjo Gatot Irianto, tentang Kemarau Panjang

Musim Kering Momen Memperluas Lahan Tanam di Rawa

Musim Kering Momen Memperluas Lahan Tanam di Rawa

Foto : ISTIMEWA
Sumardjo Gatot Irianto
A   A   A   Pengaturan Font
Ratusan ribu hektare lahan sawah mengalami kekeringan dan petani terancam gagal panen akibat musim kemarau panjang yang akan terjadi hingga September nanti. Pemerintah dituntut untuk membantu petani mengatasi gagal panen itu.

Mayoritas lahan kering dan puso terjadi di Jawa. Hingga kini, luas lahan padi yang alami kekeringan mencapai 102.654 hektare (ha) dan yang puso atau gagal panen 9.940 ha. Khusus untuk puso, kendatipun jumlahnya masih lebih kecil dibanding 2018, jumlah ini masih berpotensi bertambah seiring dengan peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) soal potensi kemarau panjang pada tahun ini.

Untuk mengupas lebih dalam terkait upaya Kementerian Pertanian (Kementan) menghadapi musim kemarau itu, berikut wawancara Koran Jakarta dengan Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Sumarjo Gatot Irianto.

Kita ketahui bersama bahwa musim kemarau mengancam produksi, sejauh mana upaya Kementan menghadapinya?

Sejumlah area tanam memang mengalami dampak kekeringan pada musim kemarau 2019. Namun, dampak tersebut mampu diatasi secara baik dengan mekanisasi pompa serta keterlibatan tentara dalam mengawal petani agar terus berproduksi.

Artinya, kita masih bisa mengupayakan agar musim kemarau ini tidak terlalu meluas dampaknya. Dampak kekeringan tahun ini relatif bisa diatasi mengingat area yang dulu mengalami kekeringan sudah dijadikan sumber air dengan pemanfaatan teknologi yang dimiliki.

Jadi, kita ingin sampaikan bahwa pendekatan mitigasi dan adaptasi kekeringan kali ini berbeda dengan sebelumnya. Kalau sekarang kita memanfaatkan wilayah yang dulunya kering menjadi sumber air.

Bagaimana dengan penggunaan alsintan atau alat mesin pertanian?

Penggunaan pompa merupakan salah satu pemanfaatan teknologi yang mampu menumbuhkan luas lahan baru dan mengompensasi lahan busuk menjadi produktif. Selain itu, panen yang dihasilkan juga lebih bermutu karena optik organisme pengganggu tanaman relatif lebih kecil.

Seperti yang dikatakan Pak Menteri Pertanian bahwa mobilisasi alat mesin pompa termasuk infrastruktur dan pipanisasi harus siap di daerah yang terdampak kekeringan. Kemudian, kita juga menyiapkan benih unggul yang bisa beradaptasi di lahan bekas kering.

Adakah alternatif lain untuk meningkatkan produksi ketika terjadi musim kemarau?

Musim kemarau kali ini bisa menjadi potensi untuk mengembangkan lahan rawa. Karena itu, Kementan mengupayakan untuk penambahan luas tambah tanam melalui optimalisasi potensi lahan rawa.

Musim kemarau ini juga merupakan momen bagi kita untuk memperluas lahan tanam di rawa serta memanfaatkan lahan kering yang masih menyimpan air.

Hingga kini, sekitar 2,3 juta hektare lahan kering di Indonesia yang diketahui menyimpan air, sementara ada 675 ribu hektare lahan rawa yang bisa dikembangkan menjadi lahan tanam. Itu tersebar di beberapa wilayah seperti Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Lampung, serta Sulawesi Selatan.

Ini maksud lain dari pernyataan saya tadi tentang bagaimana menghadapi musim kemarau dengan paradigma baru. Dalam bayangkan kita, musim kemarau menurunkan produksi, tetapi dengan dua alternatif tadi yakni mengembangkan lahan rawa dan lahan kering yang masih menyimpan air, masih ada potensi untuk menambah produksi di saat musim kemarau.

Seperti apa teknis dari optimalisasi lahan rawa ini?

Untuk memanfaatkan lahan rawa, pemerintah memiliki program Selamatkan Rawa Sejahtera Petani (Serasi) akan dibiayai pemerintah pusat. 

 

erik/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment