Nurhasan: Unesa Fokus Cetak Pendidik Berkarakter | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 19 2020
No Comments
WAWANCARA

Nurhasan: Unesa Fokus Cetak Pendidik Berkarakter

Nurhasan: Unesa Fokus Cetak Pendidik Berkarakter

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia (SDM) di Tanah Air, keberadaan perguruan tinggi menjadi sangat sentral. Pengelola perguruan tinggi dituntut bisa menyiapkan generasi muda yang berkualitas, unggul, dan berintegritas guna membantu mengisi pembangunan yang sedang gencar dilakukan pemerintah.

Tantangan tersebut termasuk yang harus dihadapi oleh Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ke depan. Pengelola dan jajaran pimpinan Unesa harus kreatif dan inovatif dengan aneka terobosan agar lulusannya betul-betul mampu bersaing serta bisa membantu meningkatkan SDM di Tanah Air.

Untuk mengetahui apa saja yang akan dilakukan jajaran pimpinan Unesa ke depan, wartawan Koran Jakarta, Selocahyo, berkesempatan mewawancarai Rektor Unesa, Nurhasan, di Surabaya, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Apa prioritas yang akan Anda lakukan?

Unesa sejak awal yang concern-nya pendidikan dan sebagai Lembaga Pendidik Tenaga Keguruan (LPTK) tentu prioritasnya mencetak pendidik dan tenaga kependidikan yang berkarakter, profesional, dan unggul dalam bidangnya di mana pun mereka berada setelah lulus. Seiring berjalannya waktu, Unesa juga banyak mengembangkan program non-pendidikan.

Prioritas Unesa e depannya mencetak sumber daya manusia yang kompeten dalam berbagai bidang yang disediakan Unesa lewat beragam program studi sarjana terapan, sarjana reguler, maupun magister. Selain itu, juga fokus menjadi kampus terdepan di bidang seni, olahraga, dan disabilitas yang tentunya berbasis teknologi.

Ingin membawa Unesa sebagai kampus yang seperti apa ke depan?

Unesa harus menjadi kampus yang unggul dalam kependidikan, kukuh dalam keilmuan (excellent in education strong in science) dan berbasis pada pemanfaatan teknologi modern. Maka dari itu, untuk menuju ke sana, Unesa menyelenggarakan pendidikan dan pembelajaran yang efektif berbasis teknologi dan mengoptimalkan pemanfaatan teknologi modern dalam meningkatan SDM pendidikan dan non-pndidikan.

Selain itu, menyelenggarakan penelitian dalam bidang pendidikan, ilmu alam, ilmu sosial budaya, seni, dan olahraga, serta pengembangan teknologi yang mengarah pada pengembangan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan sosial. Yang paling penting menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, seni budaya dan olahraga, serta hasil penelitian melalui pengabdian masyarakat, baik oleh dosen maupun mahasiswa yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat.

Apa perbedaan Unesa dengan IKIP dulu?

Unesa dan IKIP memiliki garis sejarah yang bersambung dan terus berlanjut. Konsekuensi sejarah yang panjang itu membuat kampus IKIP bertransformasi menjadi Unesa. Memang keduanya memiliki perbedaan, namun perbedaan itu bagian dari inovasi atau pengembangan kampus seiring arah perkembangan zaman.

Jika IKIP orientasinya mengarah ke upaya mendidik dan mencetak SDM pendidikan yang profesional dan berkarakter. Setelah menjadi Unesa masih menjadi LPTK, namun terus merancang dan menambah program non-pendidikan lewat pembukaan program studi atau fakultas ilmu sosial, teknik, dan fakultas lain. Selain itu, sekarang mengembangkan program pendidikan vokasi untuk menjawab tuntutan dunia kerja.

Pendapat dan harapan soal penerapan sistem zonasi pada SMA?

Sistem zonasi yang diterapkan tahun ini merupakan salah satu upaya pemerintah meningkatkan dan memeratakan mutu pendidikan. Realisasinya sempat menuai banyak protes, namun itu wajar sebagai tahapan adaptasi kebijakan di tengah masyarakat.

Itu disebabkan kurang optimalnya sosialisasi dan persiapan pemerintah yang belum menyentuh ke semua daerah, baik untuk tenaga pendidik, tenaga kependidikan serta sarana dan prasarana yang belum merata di semua sekolah yang negeri maupun swasta menjadi catatan penting dalam PPDB berbasis zonasi tahun ini.

Unesa merespons sistem zonasi dengan menggelar forum diskusi melibatnya dewan pendidikan dan dinas pendidikan provinsi dan kota. Dari itu, menghasilkan rekomendasi yang bisa menjadi masukan bagi menteri bahkan langsung kepada Presiden untuk mengoptimalkan sistem zonasi ke depannya.

Apa pengaruh sistem zonasi pada perguruan tinggi?

Setiap kebijakan, tentu berdasarkan pengkajian yang menyeluruh oleh pemerintah mengenai dampaknya secara berkelanjutan. Kebijakan zonasi ini sudah melewati tahapan itu. Zonasi merupakan salah satu upaya pemerintah menjawab tantangan zaman yang menuntut SDM yang konsen dalam masing-masing bidangnya. Indonesia yang luas dan banyak penduduknya ini hanya bisa berkembang lewat pemerataan mutu pendidikan melalui sistem zonasi tersebut.

Tidak ada sekolah negeri, tidak ada swasta, tidak ada sekolah maju atau terbelakang, tidak ada sekolah terpencil, tidak ada sekolah perkotaan. Artinya, kebijakan ini akan berdampak baik bagi keberlangsungan pendidikan di perguruan tinggi. Usai di tingkat sekolah menengah atas, baik yang dari SMA atau SMK akan disambut ruang kompetisi yang lebih adil dan transparan tanpa label sekolah asal mereka yang negeri atau swasta.

Sistem ini bagus untuk semua warga?

Ya, dengan kata lain, pemerataan pendidikan sistem zonasi akan memberikan peluang yang sama kepada anak negeri untuk mendapatkan kualitas pendidikan yang baik, untuk melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi. Yang masuk ke perguruan tinggi adalah generasi pilihan dan lingkungan akademis pun akan lebih beragam. Tidak ada kesenjangan lagi antara mahasiswa yang dari sekolah swasta atau negeri, dari kampung atau kota.

Semua sama dan yang dilihat adalah kualifikasi wujud realisasi sistem zonasi itu nanti.

Inovasi apa yang dilakukan sebagai LPTK?

Kampus yang komitmen sebagai LPTK terdepan, ada banyak inovasi yang sudah dirancang dan dijalankan, baik dalam perguruan tinggi sendiri maupun yang sudah diterapkan di masyarakat. Salah satunya, inovasi pembelajaran dalam jaringan yang saat ini sudah diterapkan dalam proses belajar dan pembelajaran.

Harapannya, SDM yang dihasilkan Unesa cakap dan terlatih untuk terus memanfaatkan kemajuan teknologi untuk efektivitas pembelajaran. Selain itu bagi yang non-keguruan pun demikian bisa tanggap dan cepat melihat peluang pemanfaatan teknologi yang bisa mempercepat dan meningkatkan profesional mereka di mana pun mereka bekerja dan berada.

Langkah Unesa menyambut pentingnya bekal entrepreneur bagi para lulusannya?

Enterepreneur memang tren zaman ini. Maka dari itulah, mentalitas bisnis tetap menjadi salah satu pertimbangan yang penting untuk diberikan kepada mahasiswa lewat program pembelajaran dan pelatihan yang selama beberapa tahun terakhir. Meski tidak dalam bentuk prodi atau fakultas bisnis, namun kebisnisan atau kewirausahaan itu menjadi salah satu orientasi upaya Unesa menyejahterakan mahasiswa.

Dengan begitu, yang di fakultas teknik juga potensi menjadi pebisnis lewat kompetensi tekniknya, guru atau pendidik lewat kompetensi keguruannya. Bahkan, sepuluh program studi yang tahun ini dirancang dan dibuka mengarah kepada pengembangan SDM yang juga bisa bermandiri lewat usaha mandiri. Tidak harus kantoran atau kerja dengan orang lain, namun yang paling penting adalah bisa berkarya dan bermandiri secara ekonomi.

Semakin banyak pengusaha, makin banyak peluang kerja. Hal itu akan membuat semakin terbuka lapangan kerja dan banyak pula yang sejahtera. Prodi sarjana terapan yang dibuka tahun 2019 ini, di antaranya administrasi negara, kepelatihan olahraga, teknik sipil, tata boga, teknik listrik, desain grafis, teknik mesin, transportasi, manajemen informatika, dan tata busana.

Apa yang perlu dibenahi prestasi olahraga Indonesia?

Prestasi olahraga para atlet Indonesia harus diapresiasi. Bendera Indonesia tidak hanya bisa berkibar di kancah nasional atau Asia Tenggara saja, namun berkat prestasi anak bangsa itu, bendera Merah Putih bisa berkibar di berbagai negara. Dalam berbagai cabang olahraga, Indonesia sudah membuktikan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang kompeten dan berprestasi.

Hanya saja, untuk bidang sepak bola memang perlu ditingkatkan. Indonesia memang belum mampu berada di tingkat internasional Piala Dunia. Itu memang pekerjaan rumah semua pihak, terutama bagi Unesa yang memiliki fakultas ilmu olahraga. Untuk itu, perlu sinergisitas antara kampus, pemerintah dalam hal ini Kemenpora, lembaga kepelatihan sepak bola, dan semua pihak. Prestasi cabang olahraga lain perlu dipertahankan dan ditingkatkan. Cabang olahraga sepak bola perlu ditingkatkan dan ditingkatkan lagi.

Bagaimana Anda melihat kaum milenial saat ini?

Kaum milenial memang banyak pengertian yang berseliweran tentang mereka. Namun dalam kenyataannya, generasi milenial tidak hanya digunakan untuk yang lahir dari tahun berapa ke tahun berapa (1980-an hingga 2000-an). Penggunaan diksi milenial sudah menyentuh semua umur yang lahir belakangan. Karena perbedaan zaman generasi milenial dengan sebelumnya, berbeda pula pola pikir dan sikapnya.

Generasi dulu terbiasa mandiri, apa pun mandiri dan serbamanual, sehingga mentalnya terbentuk. Selain itu, masih kental dengan karakter lokal yang santun, gotong royong, dan kerja sama yang tinggi. Sementara generasi milenial yang hidup di zaman serba-ada dan instan, membuat sebagian besar mereka pun sedikit manja dan bermental instan. Tidak ingin bekerja keras, namun menginginkan hasil yang lebih.

Padahal, tidak ada hasil yang optimal, tanpa usaha yang maksimal, apa pun bidangnya. Untuk menjadi YouTuber pun sekarang yang bisa menghasilkan banyak dollar pun dari kerja keras. Mulai dari hunting ide, buat video, editing video. Dibutuhkan kreativitas dan inovasi yang terus berkelanjutan.

Cukup kritiskah generasi milenial tersebut?

Generasi milenial bukan tidak ada yang kritis, hanya saja kebiasaan yang dihadapkan pada dunia gadget, informasi dan kebutuhan bisa didapatkan di sana, membuat pola pikir tidak terlatih untuk mencari dan berpikir secara dalam dan berulang sebelum bertindak. Di sisi lain, generasi milenial juga amat kritis, di media sosial. Semua hal dikritisi, semua isu dikomentari. Kadang komentarnya bagus, namun tidak sedikit yang keliru dan berujung pada ujaran kebencian.

Mengenai daya kritis, tergantung bagaimana melihatnya. Tidak bisa ditafsirkan generasi mereka dalam pandangan generasi tua atau sebaliknya. Perkembangan zaman ini konsekuensi dari masa sebelumnya. Tugas semuanya, terus belajar dan memanfaatkan kemajuan teknologi dengan sebaik mungkin demi kemaslahatan bersama. Tugas perguruan tinggi, mengisi kekurangan mereka, mendorong mereka, dan mendidik mereka menjadi generasi yang lebih baik dan terus menjadi yang lebih baik ke depannya.

N-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment