Koran Jakarta | November 20 2019
No Comments

Panduan Lengkap sebelum Tinggal di Jerman

Panduan Lengkap sebelum Tinggal di Jerman
A   A   A   Pengaturan Font

Judul      : 18 Hours Before Jet Lag:Germany-Munich
Penulis   : Ashni Sastrosubroto
Penerbit : Grasindo
Cetakan  : 2018
Tebal      : 178 halaman
ISBN      : 9786020504889

Tinggal di negeri orang memerlukan persiapan matang, apalagi kalau lama. Juga Di samping itu, juga perlu pengetahuan, tips-tips tertentu untuk bisa hidup tenang dan menyenangkan. Buku 18 Hours Before Jet Lag: Germany-Munich memberi panduan bagi pembaca yang hendak tinggal di Jerman. Pasangan Ashni dan Firman serta anaknya tinggal di Jeman sejak 2015 karena Firman menempuh pendidikan S2 di sebuah universitas di Munich.

Ini pengalaman pertama Ashni tinggal di negeri orang. Dia masih minim pengetahuan tentang Jerman. Buku ini banyak memberi catatan penting dan kiat memilih negara untuk ditinggali. Pertama, benar-benar mempelajari negara tersebut. Toh sekarang banyak blog, buku-buku, bahkan vlog yang menceritakan tentang kehidupan dan budaya masyarakat di berbagai negara (hal12). Misalnya, mempelajari transportasi setempat.

Ashni mengakui pertama kali di Jerman banyak merugi karena mengeluarkan biaya untuk hal-hal yang tidak perlu. Buku juga menjelaskan cara membuat driving license di Jerman. Sebab International Driving License yang dibuat di Jakarta hanya berlaku selama enam bulan pertama masuk Jerman. Buku juga mengulas pengalaman mencari sekolah anak. Di Indonesia tinggal mendatangi sekolah. Tapi di Munich harus lewat website yang disediakan pemerintah.

Menariknya, TK di Munich menawarkan opsi ingin sampai jam berapa anak bersekolah. Selain itu, tidak seperti di Indonesia yang kebanyakan sudah mencekoki anak dengan membaca dan berhitung, di Munich, TK benar-benar mengedepankan aspek bermain (hal 25). Paling penting tentu saja mencari tempat tinggal. Sebab salah satu syarat Visa Kumpul Keluarga harus sudah terjamin tempat tinggalnya.

“Kami harus menunjukkan surat kontrak tempat tinggal dengan luas minimal 12 meter persegi per orang,” katanya. Di Munich bukan kita yang memilih apartemen, tapi apartemen yang memilih kita. Peminat sebuah apartemen bisa ratusan orang. Pengelola bisa suka-suka memilih yang mau dijadikan penyewa (hal 50). Buku ini juga memaparkan istilahistilah yang wajib diketahui sebelum tinggal di Jerman.

Bahkan disertakan juga skema pembayaran awal sebelum masuk atau tinggal di flat. Buku menjumlahkan pengeluaran selama sebulan terdiri dari sewa rumah, sekolah anak-anak, uang sekolah suami per semester, asuransi kesehatan, tiket transportasi, les bahasa Jerman, belanja bahan makanan, dan paket internet. Semua sekitar 1,677 euro (hal 63). Agar tidak merasa sendiri di negeri orang, bisa bergabung dengan komunitas-komunitas.

Inilah yang dilakukan Ashni dan Firman sehingga mendapat banyak informasi. Mereka bergabung di Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Munich. Dari sini Firman mendapat informasi tentang teman yang hendak melepaskan apartemennya, sehingga dia tinggali. Selain PPI Munich, ada juga Swadaya Munchen, Pengajian Masyarakat Musim Munchen, Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia (KMKI), dan Mimpar Reformed Injil Indonesia (MRII).

Selain mengikuti komunitas, kita juga bisa mendapat berbagai peluang pekerjaan di Munich, terutama bagi ibu rumah tangga seperti Ashni. Misalnya, pekerjaan part time seperti menjadi babysitter, penjaga toko, guru bahasa Inggris, atau penjual makanan ke sesama warga Indonesia. “Gaji pekerjaan part time ini setahuku sekitar 10 euro per jam,” jelas Ashni (hal 119). Diresensi Dessy Kurniawati, Lulusan Universitas Muria Kudus

 

 

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment