Parlemen Inggris Tak Ingin Ada Reses Pembahasan Brexit | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 19 2020
No Comments
Politik Inggris

Parlemen Inggris Tak Ingin Ada Reses Pembahasan Brexit

Parlemen Inggris Tak Ingin Ada Reses Pembahasan Brexit

Foto : JESSICA TAYLOR/UK PARLIAMENT/AFP
RAPAT PARLEMEN - Suasana rapat parlemen Inggris saat sesi tanya jawab dengan PM Theresa May di London, Rabu (17/7).
A   A   A   Pengaturan Font

LONDON – Anggota parle­men Inggris mendukung upaya untuk menghentikan perdana menteri (PM) baru yang akan menunda rapat kerja atau reses demi meloloskan Brexit tanpa kesepakatan.

Lewat pemungutan suara di parlemen pada Kamis (18/7) diperoleh 315 suara mendu­kung berbanding 274 suara menolak reses parlemen an­tara tanggal 9 Oktober 2019 dan 18 Desember 2019.

Calon PM Boris Johnson be­lum mengesampingkan reses di parlemen, sementara saing­annya, Jeremy Hunt, telah me­ngesampingkan langkah ini.

Jika tenggat waktu Brexit pada 31 Oktober terlalui tanpa parlemen mendukung perjan­jian antara pemerintah Inggris dan Uni Eropa (UE), maka Ing­gris bisa meninggalkan UE tan­pa kesepakatan.

Para anggota parlemen se­cara konsisten memberikan suara menentang Brexit yang tanpa-kesepakatan, tetapi per­dana menteri dapat mencoba untuk menyiasatinya dengan menangguhkan parlemen men­jelang tenggat waktu sebagai peluang untuk memblokirnya.

Putusan parlemen itu ke­munduran besar bagi Johnson, yang diperkirakan akan ditun­juk sebagai perdana menteri, Rabu pekan depan, dan me­ngatakan ia akan siap untuk memimpin Inggris ke Brexit yang tidak ada kesepakatan.

Stasiun televisi Sky News sebelumnya mengutip sum­ber-sumber yang dekat dengan Johnson, mengatakan mantan Wali Kota London itu dapat memanggil sesi baru parle­men, yang akan membutuhkan penangguhan sementara, un­tuk mencegah anggota parle­men dari upaya untuk mem­blokir Brexit yang tidak ada kesepakatan.

Inggris dijadwalkan mening­galkan UE pada 31 Oktober, ke­cuali perpanjangannya disetujui.

Johnson mengatakan dia akan mendorong tercapainya kesepakatan baru dengan UE, tetapi akan siap untuk memim­pin Inggris keluar dari blok tan­pa atau dengan kesepakatan.

Para pemimpin bisnis telah memperingatkan tentang pros­pek gangguan ekonomi yang serius dalam kasus Brexit tan­pa kesepakatan dan pengamat resmi di pemerintahan pada Kamis memperingatkan bahwa hal itu dapat memicu resesi se­lama setahun penuh.

Dalam kampanye terakhir di London, Rabu (17/7), John­son mengatakan akan ber­usaha untuk menegosiasikan syarat keluar baru dengan UE selama musim panas.

Di sisi lain, beberapa pe­milih sempat marah atas pe­nundaan Brexit karena meli­hat lonjakan dukungan untuk pemimpin partai Brexit, Nigel Farage, yang mendukung tan­pa kesepakatan.

Hadapi Konsekuensi

Sementara itu, Ketua nego­siasi Brexit Uni Eropa, Michel Barnier, mengatakan tidak ter­kesan dengan ancaman Brexit berlangsung tanpa kesepa­katan. Tapi, jika Inggris memi­lih opsi tersebut akan mengha­dapi konsekuensinya.

“Saya pikir Inggris sudah memiliki informasi dan kom­penten serta tahu cara kerja kami di pihak Uni Eropa. Ing­gris tahu sejak sangat awal, kami tidak pernah terkesan dengan ancaman seperti itu, tidak berguna untuk menggu­nakannya,” kata Barnier. AFP/BBC/ang/AR-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment