Koran Jakarta | July 16 2019
No Comments

Pelajaran bagi Para Pendidik Zaman “Now”

Pelajaran bagi Para Pendidik Zaman “Now”
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Mendidik Generasi Z dan A

Penulis : J Sumardianta dan Wahyu Kris AW

Penerbit : PT Grasindo

Tahun : 2018

Tebal : 261 halaman

Menjadi seorang guru generasi milenial tentu memiliki tan­tangan tersendiri. Peserta didik sudah memasuki era teknologi. Gadget menjadi menu sehari-hari. Sebagian besar waktu dihabiskan di depan smartphone, laptop, televisi, atau piranti lainnya. Tantangan utama dunia pendidikan sejak dulu, mem­bangun suasana menyenangkan agar anak mampu belajar mandiri. Suasana menyenangkan akan berubah menjadi gairah belajar yang harus tetap dijaga agar terus menyala.

Guru zaman semonow (parodi Jawa untuk guru zaman old yang biasa hanya menggunakan kertas dan pensil) harus menggunakan teknologi untuk mengajar murid zaman now. Pada bagian awal, buku memaparkan tentang manusia lintas generasi di sekolah. Ada guru dari generasi baby boomers dan X, serta murid generasi Y, Z, dan Alpha.

Generasi baby boomers (1946–1965) dan X (1965–1980) biasanya memiliki karakter pekerja keras, ulet, dan tabah. Sedangkan generasi Y (1981–1994), Z (1995–2010) dan Alpha (2015–2035) memiliki watak yang berbeda dengan kedua generasi sebelumnya. Mereka cenderung sangat dipengaruhi laptop, komputer, dan internet yang nyaris tidak mengalami kerasnya tantangan zaman karena semua sudah dise­diakan orang tua.

Muncul cara optimalisasi guru agar tetap memiliki dedikasi tinggi dalam pengajaran. Zaman sekarang dibu­tuhkan guru kece, yang tetap mene­mukan harapan di tengah kegelapan. Guru kece tak pernah lelah mencari sehingga menemukan kreativitas di tengah keterbatasan. Mereka meli­hat persoalan sebagai pintu masuk menuju sebuah jawaban.

Guru kece berdiri di depan kelas bukan sebagai raja yang harus dilayani dan didengarkan. Mereka pelayan yang selalu mendengarkan siswa. Guru kece menyusun rencana pembe­lajaran dengan berbagi pengalaman. Mereka mengajar dengan keteladanan nyata. Maka, guru dituntut terus belajar agar tak tergempur teknologi informasi. Zaman kini, guru harus menciptakan sesuatu yang berbeda.

Guru dituntut lebih memiliki mental korporat daripada birokrat. Guru korporat akan terus berkarya meski anggaran nihil karena uang bisa diciptakan dari lembaran ide kreatif dan inisiatif. Dia akan senang merespons kebutuhan murid, meski di luar jam sekolah. Media sosial menjadi alat komunikasi, penangkap aspirasi, dan berinovasi, bukan semata sarana hiburan atau gaya hidup semu (halaman 10).

Contoh guru olahraga bernama Andi yang menanamkan penting­nya minum air bagi kesehatan pada anak-anak SMP. Andi dan murid-mu­ridnya penyuka YouTube. Andi tidak menggunakan cara lama, menjelas­kan dengan ceramah, meski me­mang mudah, tetapi murid tak akan terlibat penuh dalam pembelajaran. Andi melihat, murid cukup pandai mengunggah video. Dia lalu berkolaborasi dengan guru TIK menantang para murid untuk membuat video pendek 2–4 menit tentang manfaat konsumsi air putih bagi kesehatan. Murid semakin antusias berbekal ponsel dan kamera mulai berkreasi menciptakan sebuah video.

Ibarat sebuah taman, sekolah entitas budaya. Kekayaan utamanya keberagaman imajinasi dan kreativitas (halaman 23). Jika sekolah dikelola de­ngan baik, siswa akan merasa nyaman tidak terpaksa berangkat ke sekolah setiap pagi. Sekolah memberi ruang bagi keberagaman siswa dan guru.

Jadi, sekolah merupakan ruang bagi siswa dan guru untuk belajar berbaur, beradaptasi dan saling menghormati. Sekolah gudang imajinasi. Seperti kata Einstein, imajinasi lebih hebat dari pengetahuan. Buku ini mengajarkan untuk tidak mudah menyerah dalam menghadapi perkembangan teknologi. Buku dilengkapi berbagai kutipan motivasi. Diresensi Cindy Paramita Citradevi, Guru IPA SMK N 4 Yogyakarta

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment