Koran Jakarta | October 20 2019
No Comments

Pembangkit Listrik dari Olah Gerak Tubuh

Pembangkit Listrik dari Olah Gerak Tubuh

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Sistem ini mengubah energi tubuh menjadi listrik yang dapat digunakan untuk me­nyalakan perangkat listrik portabel, seperti smartphone, perangkat olag raga, pengitung nadi dan beragam perangkat cerdas lainnya.. Masya­rakat modern semakin dimudahkan dengan beragam perangkat cerdas seperti smartphone, pemutar MP3, perangkat elektronik olahraga se­perti pengukur atau pelacak deyut nadi hingga peralatan medis seperti tonometer, alat pacu jantung atau pompa insulin.

Semua perangkat dirancang untuk mempermudah manusia dalam berbagai hal di kehidupan sehari-harinya. Sayangnya, berbagai perangkat cerdas yang membantu kerja manusia ini cenderung mem­butuhkan daya listrik secara terus menurus.

Sebagai salah satu solusinya ilmuwan di Karlsruhe Institute of Technology (KIT) mengembangkan teknologi pemasok listrik dengan menggunakan energi yang dihasil­kan oleh gerakan tubuh manusia itu sendiri.

“Jika Anda ingin memanen energi yang dihasilkan oleh gerakan tubuh, tantangannya terletak pada persyaratan bahwa “pembangkit lis­trik” ini tidak boleh menuntut input daya tambahan oleh pengguna,” kata Christian Pylatiuk dari Institute for Applied Informatics (IAI).

Pylatiuk dan timnya telah me­ngembangkan dua sistem yang memenuhi persyaratan ini, yakni Satu desain untuk ekstremitas ba­wah menggunakan berat badan saat berjalan. Satu bantal kecil yang diisi dengan cairan dipasang di bawah tumit dan bola alat bantu jalan.

Saat menapak ke tanah dan bergulir menyebabkan minyak dipompa keluar masuk melalui sambungan selang. Cara ini, sangat mirip miniatur pembangkit listrik te­naga pasang surut, yang menggerak­kan piston dimana pada gilirannya, menggerakkan generator.

Pembangkit listrik miniatur ini dipasang oleh Pylatiuk di kaki pros­thesis dilengkapi dengan sensor aktif yang mendukung gerakan pemakai­nya. “Namun, mekanisme itu bisa juga dipasang di sepatu olahraga untuk mengoperasikan kecepatan latihan atau sistem kinerja diag­nosa,” kata Pylatiuk.

Generator yang berbeda dapat dikenakan di pergelangan tangan seperti jam tangan. Kesulitan khusus dalam hal ini adalah Untuk meng­operasikan generator, gerakan-ger­akan lengan yang sangat terputus-putus harus diubah menjadi gerakan yang berkelanjutan.

Untuk tujuan ini, Pylatiuk me­mutuskan kembali pada teknologi yang sudah terbukti dimana Mode operasi mirip dengan jam otomatis. Kekuatan maksimum 2,2 miliwatt masih belum cukup, misalnya untuk menjalankan alat bantu dengar atau mengisi daya smartphone.

“Namun, kami saat ini bekerja pada versi konsumen yang lebih kuat,” kata Pylatiuk. Dia berharap hasil kerja mereka ini bisa diwujud­kan pada akhir tahun ini. nik/berbagai sumber/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment