Koran Jakarta | December 12 2017
No Comments
Sektor Perikanan

Pemberantasan “Illegal Fishing” Harus Lintas Negara

Pemberantasan “Illegal Fishing” Harus Lintas Negara

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan pencurian ikan atau illegal fishing tidak akan pernah selesai karena banyak negara yang sekarang kekurangan sumber daya ikannya. Menurut dia, aktivitas pencurian ikan bisa saja berhenti bila negara-negara tetangga Indonesia telah pulih lagi sumber daya ikannya dan jumlah stok mereka juga sudah banyak kembali.

Illegal fishing tidak akan pernah selesai,” kata Menteri Susi di Jakarta, Senin (19/6).

Dalam kesempatan itu, Menteri Susi juga menyatakan dirinya tidak pernah membuat pernyataan publik yang datanya bohong, apakah itu terkait stok ikan atau lainnya. Pemerintah, menurut Susi, bakal terus mereformasi berbagai bidang di bawah sektor kelautan dan perikanan seperti memberdayakan budi daya perikanan nasional.

Sebelumnya, Menteri Susi juga menyatakan pemberantasan pencurian ikan bila dilakukan suatu negara maka sama saja akan menguntungkan negara tersebut. Karenanya, berbagai pemerintahan di dunia juga diharapkan fokus untuk melakukannya.

Di Indonesia, ujar dia, Produk Domestik Bruto (PDB) sektor perikanan Indonesia saat ini adalah 50 persen lebih tinggi daripada PDB nasional. Selain itu, Menteri Kelautan dan Perikanan RI juga menyatakan komoditas ikan berkontribusi besar terhadap deflasi Indonesia.

“Indeks stok ikan MSY (Maximum Sustainable Yield) kami meningkat dari 6,5 juta ton pada 2014, menjadi 7,1 juta ton pada 2015, dan menjadi 9,9 juta ton pada 2016. Tahun ini diperkirakan menjadi 12 juta ton,” papar Susi.

Untuk itu, Susi menginginkan negara-negara di dunia bekerja sama untuk menutup celah yang memungkinkan sindikat kejahatan perikanan beroperasi secara bebas di seluruh dunia.

Penangkapan Destruktif

Sebelumnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengajak warga dari berbagai kalangan untuk bersama-sama dapat memberantas praktik penangkapan ikan destruktif atau merusak dengan bom dan racun ikan.

“Kami meminta bantuan bapak-bapak dan ibu-ibu sebagai Pokwasmas (kelompok pengawas masyarakat) agar pencegahan awal bisa dilakukan karena sulit sekali mendeteksi mereka (pelaku penangkapan ikan destruktif),” kata Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan KKP Eko Djalmo Asmadi, beberapa waktu lalu.

Menurut Eko, aktivitas penangkapan ikan destruktif sangat membahayakan karena hanya sekitar 200 gram bahan peledak sana dinilai bisa merusak hingga sekitar 5,3 meter kubik terumbu karang. Ant/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment