Pembobol WA Ditangkap Polisi | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 19 2020
No Comments
Modus Kriminalitas l Jangan Mudah Beri Persetujuan di Internet

Pembobol WA Ditangkap Polisi

Pembobol WA Ditangkap Polisi

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Pembajak akan memasukkan nomor telepon pemilik akun WA yang diincar pada fitur nomor telepon lama dan memasukkan nomornya sendiri pada bagian nomor telepon baru.

JAKARTA – Polisi membekuk dua orang bernama Nakir, 25 ta­hun, dan Sukmawati, 26 tahun, yang diduga kuat melakukan penipuan dengan membajak nomor WhatsApp (WA) milik Direktur Utama PT Tempo Inti Media (grup Koran dan Ma­jalah Tempo), Toriq Hadad.

Keduanya melancarkan pe­nipuan menggunakan nama Toriq, dan akhirnya mereka berdua ditangkap pada Selasa (9/7). Mereka diduga melaku­kan tindak pidana ilegal akses sistem elektronik yang meng­akibatkan kerugian orang lain.

“Pada tanggal 9 Juli 2019, Sub­dit IV Cyber Crime Dit Reskrim­sus Polda Metro Jaya telah men­gungkap dugaan tindak pidana ilegal akses sistem elektronik yang mengakibatkan kerugian orang lain. Pelaku ditangkap di Makassar, Sulawesi Selatan,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Komis­aris Besar Iwan Kurniawan, saat dikonfirmasi, di Jakarta, Jumat.

Hari Jumat siang, para pelaku diberangkatkan ke Ja­karta untuk diperiksa dan dita­han di Polda Metro Jaya.

Kejadian bermula, Senin (1/7), Toriq menerima pesan WhatsApp dari nomor yang ia simpan, yang mengaku sebagai teman semasa kuliah bernama Dodon. Kemudian, pelaku memberitahukan kepada kor­ban, jika ingin berkomunikasi menggunakan WhatsApp harus pakai kode khusus.

Sekitar pukul 16.00 WIB, Dodon menanyakan kepada Toriq terkait permintaan kode masuk ke WA. Karena percaya, Toriq memberitahukan kode tersebut. “Usai memberitahukan kode, WhatsApp pribadi korban langsung logout dan tidak bisa digunakan lagi,” ujar Iwan.

Sekitar pukul 16.30 Wib, ada salah satu teman korban yang memberitahukan bahwa akun WA Toriq telah diretas. Selanjut­nya, ada pelaku menghubungi teman Toriq yang bernama Arfan. Kepada Arfan, pelaku mengaku sebagai Toriq dan meminjam lima juta rupiah. Karena merasa percaya, Arfan mentransfer ke rekening Bank CIMB Niaga 704236371400 atas nama Herman.

Merasa ditipu, Toriq me­lapor ke polisi. Hasilnya pada 9 Juli, sekitar pukul 23.00 WITA, polisi menangkap Sukmawati yang berperan mengambil duit hasil penipuan.

Esoknya, Nakir ditangkap di indekos G4 Hertasning, Makas­sar. Ia berperan sebagai pere­tas sistem WhatsApp korban. Polisi menyita kartu ATM CIMB NIAGA, dua telepon seluler dan rekaman kamera pengawas ke­tika pelaku mengambil duit di mesin ATM.

Rawan Penipuan

Alfons Tanujaya, Pengamat Keamanan Siber, menyatakan kasus pembajakan WhatsApp di Indonesia semakin sering terjadi. Celakanya, sistem WhatsApp juga secara otomatis memberikan hak penuh kepada pembajak, seperti hak admin­istrator pada group WhatsApp, foto profil WhatsApp pada no­mor baru (pembajak) sama de­ngan akun yang dibajak.

Pemilik akun WhatsApp yang asli pun tidak akan bisa meng­ambil kembali akun yang diba­jak dalam waktu singkat karena sistem WhatsApp menganggap bahwa itu proses yang sah ber­dasarkan One Time Password (OTP) yang dikirimkan ke SMS HP lama. Padahal sistem WhatsApp secara tidak langsung mem­permudah pembajakan akun karena secara otomatis me­masukkan OTP dari SMS ke da­lam kotak persetujuan dimana seharusnya dimasukkan secara manual oleh pemilik akun.

Pembajak akan memasuk­kan nomor telepon pemilik akun WA yang diincar pada fitur nomor telepon lama dan memasukkan nomornya send­iri pada bagian nomor telepon baru. Fitur yang disediakan WhatsApp sebenarnya untuk memudahkan pengguna ber­ganti nomor telepon. Namun, fitur ini rupanya dapat dis­alahgunakan untuk membajak akun WhatsApp.

“Jadi kuncinya, selama pe­milik nomor telepon tidak memberikan persetujuan atas perubahan nomor telepon akun WhatsApp tersebut, maka proses pengalihan akun tidak akan ber­hasil,” jelas Alfons.  jon/P-6

 

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment