Koran Jakarta | February 23 2018
No Comments
JENAK

Penipu Tertipu, dan Lucu

Penipu Tertipu, dan Lucu

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

Penipu Tertipu, bisa menjadi cerita klasik. Biasanya sekaligus lucu. Atau haru. Atau ada unsur “memelas” alias kasihan. Dalam “zaman now” ini “memelas” ini berupa meme, gambar atau grafis atau foto yang karikatural. Tap,i kadang juga berupa rekaman video yang durasinya lumayan panjang—untuk tayangan di YouTube.

Dalam ragam yang macam-macam ini, saya memilih jenis penipu yang tertipu, khusus melalui telepon. Percakapan antara penipu—atau sebenarnya Calon Penipu, dengan korban—atau sebenarnya Cakor, calon korban. Cakor ini sebenarnya malah Pelaku yang menipu, menjadi seru karena yang terlihat di layar adalah wajah “korban” yang berada dalam tanda petik, yang ketawa-ketiwi.

Yang menarik adalah pola yang terjadi selalu sama. Seorang Capen—calon penipu, menelepon Cakor—calon korban, dengan iming-iming hadiah berupa uang. (Ada jenis lain seperti minta tebusan anaknya yang ditangkap karena narkoba, namun polanya tetap sama). Hadiah uang ini akan ditransfer.

Sebelum menerima transferan, Cakor diminta mengirim uang terlebih dulu ke nomor rekening yang diberikan melalui tutorial. Situasinya menjadi komik, karena Cakor ini mengetahui dirinya sedang ditipu, dan balas menipu. Semua percakapan direkam, dan demikian penonton tayangan ini masuk ke dalam suasana: Capen yang jengkel, marah, sampai memaki dan Cakor yang seolah tak bersalah sejak awal untuk kemudian mengecoh dengan penutup “punch line” sebagaimana rumusan dalam lawakan.

Yang paling sering dipermainkan adalah adegan saat Cakor mengikuti tutorial Capen yang mendiktekan nomor rekening yang akan dikirimi. Nomor ini sering dikelirukan, sehingga Capen menjadi gusar, memaki, berusaha sabar mengulang lagi, dan terpancing kekesalannya, tanpa menyadari tengah dipermainkan.

Misalnya menyebutkan nomor rekening 0-0 (kosong-kosong), bisa diulang sebagai 0-2 (kosong-dua). Atau sesudah delapan angka tepat, angka terakhir menjadi salah. Sehingga diulang dari awal… sampai Capen.. kehabisan pulsa. Atau keliru nama bank. Atau yang seru Cakor –yang biasanya mengaku dalam kotak ATM, ternyata mempunyai rekening di bank asing.

Sementara Capen justru tak paham nama bank asing, dan atau instruksi dalam bahasa Inggris. Mungkin sekali sang calon penipu tak faham nama bank, namun tak mau menyerah. Rasa frustasi itu terasakan betul dalam percakapan, sementara Cakor “pura-pura kebangetan begonia.”

Dan sesungguhnya memang di sini sajian kelucuan yang panjang, kadang menggemaskan. Cakor yang mempermainkan Capen bak kucing mempermainkan tikus—mungkin sekarang contoh ini mulai sulit ditemukan. Kucing sekarang ini kelihatannya tak nafsu makan tikus. Ada kalanya cara mempermainkan benar-benar sampai klimaks drama.

Ketika seolah sukses, Capen menanyakan apa yang tertulis di monitor, apakah transfer bisa terkirim atau tidak. Dengan kalem, suara tetap merendah Cakor menjawab: “Yang tertulis… Anda sukses menipu penipu yang sekarang dicari polisi, karena identitasnya sudah diketahui.” “Apa?” “Yang tertulis….” Klik.

Ada juga yang dramanya terlalu sempurna. Seperti Cakor yang ibu rumah tangga dikabari anaknya tertangkap karena memakai narkoba, dan Capen minta duit tebusan. Cakor dengan suara naifnya mengatakan tak punya duit. “Bagaimana kalau dibayar dengan ML, Pak.” Jawab Capen: “Apa itu?” Diperjelas: “Bapak nggak tahu ML….” dan seterusnya sampai diakhiri dengan cara yang Capen terhempas dengan cara memalukan.

Ada jenis lain, yang lebih seru kalau ditonton. Gratis, menghibur dan sedikit banyak menjadi awas atas berbagai bentuk penipuan melalui telepon, melalui iming-iming hadiah, ataupun ancaman.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment