Koran Jakarta | May 23 2018
No Comments

Peran Obor Menyuburkan Intelektual melalui Buku

Peran Obor Menyuburkan Intelektual melalui Buku
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : 40 Tahun Ikut Menerangi Zaman

Penerbit : Obor Indonesia

Penulis : Tim

Terbit : Cetakan 2017

Tebal : 186 hlm

ISBN : 978-602-433-521-2

 

Yayasan Pustaka Obor Indonesia (YPOI) memiliki semangat akademik. Buku 40 Tahun YPOI Ikut Menerangi Jejak Zaman menjadi saksi perjalanannya. Buku ini terdiri dari delapan bab mengenai seluk-beluk dan perjalanan Obor. Obor Indonesia, menurut Taufik Abdullah, penerbit berorientasi akademik dan kultural (hal xxix). Tahun 70-an, Obor merangkul akademisi dan peneliti terlibat penerbitan buku. Obor lahir ketika terjadi gejolak politik sosial.

Kartini Nurdin mengutip pernyataan UNESCO, saat itu buku-buku di bidang akademik terutama di perguruan tinggi amatlah jarang. Indonesia mengalami book starvation. Kegelisahan dan keprihatinan para cendikiawan, tergabung dalam suatu wadah untuk memikirkan langkah yang harus dilakukan (hal 3). Soedjatmoko, Toety Herati Noerhadi, PK Ojong, dan Goenawan Mohamad turut membidani kelahiran Obor. Ada juga Ivan Kats.

Perkembangan ilmu sosial di Indonesia melalui penerbitan buku-buku dilakukan Obor. St Sularto menangkap peran Obor dalam perkembangan ilmu sosial. Obor lahir berdekatan dengan lembaga-lembaga ilmu sosial terkemuka seperti Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial (YIIS), LP3ES dengan majalah Prisma sebagai corong intelektual ilmu-ilmu sosial (hal 46).

Andreas Maryanto menyatakan Obor selama empat dasawarsa menerbitkan buku terjemahan dan karya penulis Indonesia. Bukunya banyak dicetak ulang (hal 57). Perjalanannya menandai berkibarnya buku-buku bidang sosial, sejarah, politik, lingkungan, sastra, gender, hukum, dan HAM.

Di tengah gempuran penerbit buku besar, Obor harus memiliki strategi agar tetap eksis. Banyak juga yang gulung tikar. Obor tetap berdiri pada kaki bisnis edukasi dan idealisme. Ini tidak mudah, perlu dedikasi dan integritas tinggi (hal 77). Obor juga harus terus kreatif dan berinovasi dalam menerbitkan buku-buku berkualitas (hal 78). Penerbit dituntut bukan hanya menghadirkan buku, tapi juga nilai.

Salah satu yang sangat terpateri di ingatan pembaca, Obor banyak menerjemahkan buku-buku sastra dunia ketiga yang dilakukan Mochtar Lubis. Yohanes Krisnawan menyatakan kekhasan lain buku-buku Obor yang juga menonjol karena konsisten dalam menerbitkan buku-buku berperspektif kritis atau alternatif (90). Contoh, novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal el-Saadawi yang sudah 12 kali cetak ulang.

Pada bab 6, buku ini menyajikan informasi mengenai tokoh-tokoh yang sangat berjasa di Obor, seperti Goenawan Mohamad, Muchtar Lubis, Toety Heraty, dan Ignas Kleden. Mereka merupakan deratan nama yang sangat berjasa. Kemudian, bab 8 menyajikan testimoni para penulis maupun akademisi yang berperan dalam perjalanan Obor.

Diresensi Rianto, Guru Ekstrakurikuler SMA Diponegoro 1, Jakarta

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment