Koran Jakarta | November 17 2018
No Comments
Perlindungan Nasabah - Pembobolan Dana Nasabah BRI dan Mandiri Diduga akibat “Skimming”

Perbankan Perlu Lakukan Audit

Perbankan Perlu Lakukan Audit

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
BI dan OJK diminta segera merespons aspek teknologi informasi yang digunakan perbankan menyusul sejumlah kasus raibnya dana nasabah.

Jakarta – Bank Indonesia (BI) bersama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perlu segera merespons dengan tepat untuk mengatasi permasalahan perlindungan nasabah terkait adanya kasus pembobolan sejumlah rekening baru-baru ini. Hal itu untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada perbankan.

“OJK dan BI harus memperbaiki dan mendorong perbankan melakukan audit menyuluruh dan mendalam,” kata anggota Komisi XI DPR, Ecky Awal Mucharam di Jakarta, Selasa (20/3). Menurut Ecky, OJK sebagai pengawas perbankan dan BI yang bertanggung jawab atas sistem pembayaran diharapkan segera merespons sejumlah peristiwa terakhir terkait keamanan nasabah perbankan.

Dia mengemukakan ada sejumlah hal yang harus disorot antara lain aspek teknologi informasi yang digunakan perbankan. Dalam hal itu, lanjutnya, perlu diperhatikan apakah ada kelemahan sistem keamanan teknologi informasi, baik dalam sistem simpanan atau dana pihak ketiga (DPK).

Selain itu, ujar Ecky, perlu dilihat pula prosedur manajemen dan mitigasi risiko dalam sistem DPK maupun pembayaran saat ini, termasuk standard operational procedure (SOP) dan perbaikan manajemen risiko.

Sedangkan edukasi dan sosialisasi akan keamanan perbankan juga dinilai harus terus digalakkan bukan hanya bagi nasabah, tapi juga karyawan bank dan vendor terkait. “Jika ada kelemahan dan pelanggaran harus diperbaiki dan pihak yang bertanggung jawab diberikan sanksi,” katanya.

 

Modus “Skimming”

 

Belum lama ini, dua kasus pembobolan dana nasabah bank BUMN terjadi di Jawa Timur. Di Kediri, 87 nasabah Bank Rakyat Indonesia (BRI) pekan lalu melaporkan saldo pada rekeningnya berkurang secara misterius. Mereka mengadukan kehilangan saldo rekening berkisar 2–5 juta rupiah.

BRI memperkirakan dana nasabah yang hilang akibat pencurian data kartu debit (skimming) di Ngadiluwih, Kediri, Jawa Timur, kurang dari satu miliar rupiah. “Kami sudah sampaikan ke nasabah agar berhati-hati tentang PIN (personal identification number),” kata Direktur Hubungan Kelembagaan BRI, Sis Apik Wijayanto, beberapa waktu lalu.

Tak berselang lama, belasan nasabah Bank Mandiri antre mengurus pemblokiran rekening di kantor Bank Mandiri KCP Surabaya Graha Pena, pada Senin (19/3). Mereka melakukan pemblokiran rekening karena saldo di rekening mereka raib secara misterius diduga akibat skimming.

Direktur Utama Bank Mandiri, Kartika Wirjoatmodjo, mengatakan kerugian dana nasabah diduga akibat skimming atau penyadapan data kartu debit di Surabaya, Jawa Timur, tidak banyak. “(Total kerugian) tidak banyak. Paling banter sekitar 150 jutaan rupiah,” kata Kartika di Jakarta, kemarin.

Terkait kasus raibnya dana nasabah BRI di Kediri, Deputi Gubernur BI, Erwin Rijanto, mengatakan BRI telah menjamin akan menuntaskan kasus dugaan skimming tersebut. Bila terbukti modus yang digunakan adalah skimming, ujar Erwin, BRI akan mengganti keseluruhan dana nasabah yang hilang. 

 

bud/Ant/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment