Perempuan dan Rona dalam Cerita Melayu | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 23 2017
No Comments

Perempuan dan Rona dalam Cerita Melayu

Perempuan dan Rona dalam Cerita Melayu

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Lembayung Pagi

Penulis : Fakhrunnas MA Jabbar

Penerbit : Tiras Kita

Cetakan : Pertama, Maret 2017

Halaman : viii + 147

“Orang-orang Melayu punya kebiasaan mengendalikan emosi secara bertahap di dalam hidup. Ada masa-masa perlu merajuk. Kemudian, mengaruk dan sampai pada puncaknya di titik amuk (hal 22).” Penggalan cerpen Lelaki Pertama yang Bersemayam di Rumah Rindu ini satu di antara hakikat hidup orang Melayu yang terangkai dalam cerita-cerita pendek (cerpen). Kumpulan cerpen Lembayung Pagi, 30 Tahun Kemudian karya sastrawan dan budayawan Melayu, Fakhrunnas MA Jabbar, ini berisi 16 cerpen. Sebagian besar telah dimuat media massa.

Ada kesengajaan menampilkan perempuan Melayu dalam penokohan. Dengan sudut pandang “aku,” terasa sisi psikologisnya masuk ke dalam diri pembaca menyelami berbagai konflik tokoh “aku.”

Selain sisi terdalam perempuan Melayu, pembaca juga diajak mengenal rona dan pernik-pernik beraroma Melayu. Pembaca dikenalkan dengan istilah, seperti angin sakal, hantu jembalang, dan selambe. Pembaca diajak bernostalgia kebesaran Melayu dari berbagai warisan, seperti lagu Lancang Kuning, Seroja, dan Bahtera Merdeka. Ada juga tokoh Melayu, Soeman Hs, Sutardji Chalzoum Bachri, dan filsafat hidup orang Melayu.

Cerpen-cerpen dalam Lembayung Pagi bila didalami mengandung sisi romantisme humanisme hubungan antarmanusia. Romantisme itu semakin mendalam karena dibaluri diksi-diksi indah bak puisi panjang. Contoh salah satu cerpennya, “Perjumpaan kami hanya lewat bunyi, keheningan dan nafiri rindu. Setiap waktu kami saling berkabar lewat batin. Atau, puisi yang mengalir lembut di nadi-nadi perasaan”, (hal 8) dalam Lembayung Pagi, 30 Tahun Kemudian.

Latar belakang berpengaruh pada bait-bait kalimat cerpen seperti pilihan kepingan puisi. Bahkan pada cerpennya, Kuburan Masa Lalu (hal 123), tertuliskan sebait puisi sebagai penutup cerita. “Lelaki itu tiba-tiba tersungkur. Tak kuat menahan sesak napasnya. Ia tiba-tiba pergi begitu saja. Tak ada pesan. Tak ada kata-kata. Ia lebih memilih jalan kematian. Ia tak hendak dibunuh oleh perasaan. Atau, mati tanpa hati.

Seketika. ‘Kembalilah ke masa lalumu, Sri!’ Senyumnya seolah-olah berkata. Selebihnya ...Hanya sunyi.”

Dalam cerpen Kemboja Merah di Pekarangan (hal 29) dan Pinang Merah di Halaman (hal 135) menginatkan pada cerpen berjudul Sebatang Ceri di Serambi. Cerpen tersebut yang juga terhimpun dalam buku dengan judul yang sama berhasil meraih beberapa penghargaan berupa “Buku Pilihan Anugerah Sagang Tahun 2007” dan masuk nominasi “Khatulistiwa Literary Award” pada tahun yang sama.

Dari judul-judul dapat ditangkap, upaya menuliskan ide-ide cerita dengan sesuatu yang dekat berupa halaman, pekarangan, dan serambi. Dengan menceritakan sesuatu yang dekat akan muncul empati.

Simbol-simbol pepohonan khas Melayu menjadi latar untuk memikat seperti kamboja merah dan pinang merah. Bahkanm lewat dua pepohonan ini, dibenturkan dengan beragam mistik sebagai realitas yang masih terpelihara di tengah-tengah masyarakat. Hal ini terlihat dalam sebaris kalimat, “Kualat nanti Kak Mai. Kata nenek dulu, orang yang bertanam kemboja merah di pekarangan, jodohnya di suruk hantu jembalang,” sela Martuti (hal 30).

Buku juga menyajikan menyajikan sesuatu yang jauh menjadi dekat. Disentuhnya sisi-sisi humanisme lewat cerpen Kalau Aku Perahu, Kaulah Gelombang Itu, Nguyen (hal 89) dan Bulan Jatuh di Orchard Road (hal 99). Cerpen ini diyakini hadir dengan detil seting tempat dan psikologis masyarakat telah lewat riset mendalam.

Cerpen-cerpen dalam buku ini memberi energi untuk mendalami dan mencerahkan. Cerita-ceritanya sekali dibaca akan menempel dalam ingatan. 

Diresensi Bambang Kariyawan Tinggal di Pekanbaru

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment