Koran Jakarta | November 19 2017
No Comments

Perempuan dan Rona Melayu dalam Lembayung Pagi

Perempuan dan Rona Melayu dalam Lembayung Pagi

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul               : Lembayung Pagi, 30 Tahun Kemudian: Kumpulan Cerpen

Penulis            : Fakhrunnas MA Jabbar

Penerbit          : Tiras Kita, Pekanbaru

Cetakan          : Pertama, Maret 2017

Halaman          : viii + 147

Orang-orang Melayu punya kebiasaan untuk mengendalikan emosi secara bertahap di dalam hidupnya. Ada masa-masa perlu merajuk. Kemudian mengaruk. Dan sampai pada puncaknya di titik amuk. (22)

Penggalan cerpen “Lelaki Pertama yang Bersemayam di Rumah Rindu” adalah satu diantara hakikat hidup orang Melayu yang dengan apik terangkai dalam cerita-cerita pendek. Kumpulan cerpen “Lembayung Pagi, 30 Tahun Kemudian” adalah karya sastrawan dan budayawan Melayu yang sangat tunak dalam berkarya, Fakhrunnas MA Jabbar. 16 cerpen yang tersaji, sebagian besar telah teruji dengan dimuat di media ternama di tanah air.

Penulis nampaknya sengaja menampilkan sosok perempuan Melayu dalam penokohannya. Dengan sudut pandang “aku”, terasa sisi psikologisnya masuk ke dalam diri pembaca menyelami berbagai konflik yang dialami tokoh “aku”. Kepiawaian penulis mengaduk emosi lewat sudut pandang “aku” dalam setiap cerpennya adalah nilai plus dari buku kumpulan cerpen ini.

Selain sisi terdalam perempuan Melayu tergambar di buku ini, pembaca juga diajak mengenal rona dan pernik-pernik segala hal beraroma Melayu. Kita akan dikenalkan dengan istilah yang sangat kental kemelayuannya seperti angin sakal, hantu jembalang, selambe dan istilah-istilah lainnya. Selain istilah pembaca diajak bernostalgia dengan kenangan kebesaran Melayu dari berbagai warisan seperti lagu Lancang Kuning, Seroja, Bahtera Merdeka, tokoh dunia Melayu Soeman Hs, Sutardji Chalzoum Bachri, sampai hal-hal filsafat hidup orang Melayu.

Cerpen-cerpen dalam Lembayung Pagi bila didalami mengandung sisi romantisme humanisme hubungan antar manusia. Romantisme itu semakin mendalam diselami saat setiap cerpennya dibaluri diksi-diksi indah bak puisi yang panjang. Dapat kita lihat pada salah satu cerpennya:

Perjumpaan kami hanya lewat bunyi, keheningan dan na­firi rindu. Setiap waktu kami saling berkabar lewat batin. Atau, puisi yang mengalir lembut di nadi-nadi perasaan. (h. 8, Lembayung Pagi, 30 Tahun Kemudian).

Latar belakang kepenyairannya sangat berpengaruh pada bait-bait kalimat indah dalam cerpennya yang bila dibaca seperti pilihan kepingan puisi. Bahkan pada salah satu cerpennya “Kuburan Masa Lalu” (h. 123) tertuliskan sebait puisi sebagai penutup cerita dan inilah kelebihan penulis atas cerpen-cerpennya.

Lelaki itu tiba-tiba tersungkur.

Tak kuat menahan sesak napasnya.

Ia tiba-tiba pergi begitu saja.

Tak ada pesan.

Tak ada kata-kata.

Ia lebih memilih jalan kematian.

Ia tak hendak dibunuh oleh perasaan.

Atau, mati tanpa hati.

Seketika.

‘Kembalilah ke masa lalumu, Sri!”

Senyumnya seolah-olah berkata.

Selebihnya ...

Hanya sunyi.

Keindahan bait-bait puisi seperti ini menjadi penjaga debaran merangkai konflik yang setiap akhirnya penyelesaiannya tetap menjadi indah.

Membaca cerpen “Kemboja Merah di Pekarangan” (h. 29) dan “Pinang Merah di Halaman” (h. 135), kita akan langsung ingat pada salah satu cerpen fenomenalnya yang berjudul “Sebatang Ceri di Serambi”. Cerpen tersebut yang juga terhimpun dalam buku dengan judul yang sama berhasil meraih beberapa penghargaan berupa Buku Pilihan Anugerah Sagang Tahun 2007 dan Nominator Khatulistiwa Literary Award pada tahun yang sama. Dapat dipersepsikan dengan judul-judul seperti penulis berusaha menuliskan ide-ide cerita dengan sesuatu yang dekat dengan kita berupa “halaman”, “pekarangan’, dan “serambi”. Dengan menceritakan sesuatu yang dekat dengan kita akan muncul empati secara tidak sadar untuk larut dan melebur atas cerita-cerita yang dirangkai.

Simbol-simbol pepohonan khas Melayu menjadi latar yang dengan sederhana namun memikat seperti “Kemboja Merah” dan “Pinang Merah”. Bahkan lewat dua pepohonan ini dibenturkan dengan beragam mistik sebagai realitas yang masih terpelihara di tengah-tengah masyarakat.

“Kualat nanti Kak Mai. Kata nenek dulu, orang yang bertanam kemboja merah di pekarangan, jodohnya di suruk hantu jembalang,” sela Martuti. (30).

Selain cerpen-cerpen memikat yang bicara keseharian yang dekat dengan kita, penulis pun dengan lihat menyajikan sesuatu yang jauh menjadi dekat dengan kita. Disentuhnya sisi-sisi humanisme kita lewat cerpen “Kalau Aku Perahu, Kaulah Gelombang Itu, Nguyen” (h. 89) dan “Bulan Jatuh di Orchard Road” (h. 99). Cerpen ini diyakini hadir dengan detil akan setting tempat dan psikologis masyarakatnya telah lewat riset mendalam. Beginilah kuatnya sebuah cerpen bila dibuat dengan sepenuh dan segenap hati.

Cerpen-cerpen Lembayung Pagi memberi energi bagi pembaca untuk mendalami dan mencerahkan ketika akan merangkai kata menjadi cerita-cerita yang bergizi. Cerita yang sekali dibaca akan menempel dalam ingatan dalam jangka waktu yang lama.

Bambang Kariyawan

Pekanbaru

 

 

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment