Koran Jakarta | June 16 2019
No Comments
Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Ismunandar, Terkait Mutu Pendidikan Tinggi

Perguruan Tinggi Swasta dan Negeri Sama Baiknya

Perguruan Tinggi Swasta dan Negeri Sama Baiknya

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Beberapa waktu lalu saat memimpin upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, M Nasir, menyebut pendidikan tinggi harus lepas dari diskriminasi. Salah satunya adalah menghilangkan dikotomi antara Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

 

Sering muncul anggapan dalam masyarakat, kuali­tas PTN lebih baik dibandingkanPTS. Tak hanya dari calon mahasiswa, orang tua juga bahkan berkeinginan me­lihat anaknya menimba ilmu di PTN unggulan. Oleh karena itu, PTS sering menjadi pilihan kedua ketika calon mahasiswa tidak diterima di PTN.

Untuk mengupas sejauh mana kualitas PTS hari ini, Koran Jakarta mewawancarai Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek­dikti), Ismunandar. Berikut petikan wawancaranya.

Ada anggapan kuliah di PTN lebih baik dari PTS, tanggapan Anda?

Tidak selalu benar. Beberapa PTS memiliki peringkat yang lebih tinggi dari banyak PTN. Keduanya sama-sama baik. Beberapa PTS bahkan sudah dan lebih maju dibanding beberapa PTN kita.

Jika dilihat secara keseluruhan, jumlah PTS secara kuantitas lebih banyak dari PTN. Apakah ini berbanding lurus dengan kualitas PTS maupun lulusannya?

Betul, jumlah PTS sangat banyak saat ini. Fokusnya adalah kualitas dari PTS yang banyak ini harus terus ditingkatkan. Kita dorong PTS-PTS yang belum maju untuk segera mengejar dan menaikkan kualitasnya.

Lebih spesifik, bagaimana kesiapan PTS mempersiapkan lulusan terutama dalam dunia kerja dan industri?

Beberapa ada yang sangat kuat dalam menjalin kerja sama dengan industri. Bahkan, dalam proses pembela­jaran ada yang menggunakan secara penuh bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Beberapa ada yang juga me­nyediakan prodi dengan proses perkuliahan daring secara penuh. Ini tentu patut diapresiasi dan menjadi daya tawar.

Langkah pening­katan kualitas dari Kemenristekdikti saat ini sejauh mana?

Kami melaku­kan beberapa program sesuai dengan kemampuan yang ada, mulai dari yang sudah ber­jalan secara berkelanjutan dari dulu yakni penempatan dosen perbantuan, beberapa program pembinaan, dan lain-lain. Melalui Lembaga Layanan Dikti kegiatan-kegiatan tersebut secara langsung dilakukan.

Kita juga mengadakan program merger. Bagi PTS yang mau merger, Kemenristekdikti akan menyiapkan banyak intensif. Dirjen Kelem­bagaan yang menangani hal ini dapat ditanya lebih lanjut.

Apakah Kemenristekdikti memberi perlakuan sama untuk mahasiswa PTS dan PTN? Ben­tuknya seperti apa saja?

Secara umum sama saja. Tentu secara rinci, aturan serta hak dan kewajibannya diatur oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. Namun misalnya dalam acara dan berbagai kegiatan nasional, mahasiswa PTS dan PTN sama saja haknya.

Kalau begitu, apakah ada perbedaan sikap dari mahasiswa ketika berkuliah di PTS?

Semua mahasiswa baik PTN atau PTS harus berjuang dan belajar keras. Bekali kemampuan-kemampuan teknis di bidang yang dipilih. Kini, selain kemampuan teknis atau hard skill, kemam­puan kolaborasi, komunikasi, kreativitas, dan kritis juga penting.

Kami berharap lulusan-lulusan perguruan tinggi baik PTS maupun PTN harus mampu juga menguasai literasi baru, seperti literasi data, teknologi, dan human.

Terakhir, mereka harus menjadi pembelajar sepanjang hayat. Dengan berbagai atribut itu, jelas mahasiswa harus bekerja keras. Namun, dibanding dengan saat saya kuliah dulu, fasilitas dan kemudahan bagi mahasiswa saat ini jelas lebih mendukung juga. aden ma’ruf/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment