Koran Jakarta | August 25 2019
No Comments
Ancaman Krisis I Utang Luar Negeri Tinggi, Waspadai Terulangnya Krisis 1997

Perlambatan Singapura Sinyal Resesi Global Makin Nyata

Perlambatan Singapura Sinyal Resesi Global Makin Nyata

Foto : Sumber: Bank Indonesia – Litbang KJ/and
A   A   A   Pengaturan Font

>> Singapura adalah acuan untuk perlambatan perdagangan global.

>> Sejumlah korporasi gunakan mayoritas laba hanya untuk bayar utang.

JAKARTA – Resesi ekonomi global dinilai sudah makin nyata. Indikasi itu terlihat dari perlambatan ekonomi Singapura yang menjadi barometer per­dagangan dunia. Bahkan, Negeri Jiran itu diperkirakan memasuki resesi pada kuartal ketiga 2019 akibat perang da­gang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang terus mengguncang eko­nomi negara tersebut.

Terkait dengan dampak perang da­gang, konsultan keuangan global Mc Kinsey & Company beberapa waktu lalu juga mengingatkan agar negara Asia mewaspadai risiko terulangnya krisis keuangan 1997 menyusul tingginya ting­kat utang luar negeri (ULN).

Mengenai kinerja ekonomi Singapura, South China Morning Post (SCMP), Sela­sa (13/8), mewartakan, setelah pertum­buhan kuartal II-2019 dipastikan turun 3,3 persen, ekonomi Singapura diper­kirakan memasuki resesi pada kuartal III- 2019. Laporan Produk Domestik Bruto (PDB) yang dirilis kemarin menunjukkan penurunan besar, yakni 3,8 persen dalam tiga bulan pertama 2019, dan pertum­buhan kuartalan terburuk yang pernah dialami negara itu selama tujuh tahun.

Secara tahunan, ekonomi Singapu­ra hanya tumbuh 0,1 persen atau turun dari 1,1 persen pada kuartal pertama. Ini menandai tingkat pertumbuhan pa­ling lambat sejak krisis keuangan global 2008. Sektor yang mencatatkan kinerja terburuk antara lain manufaktur, mero­sot 3,1 persen, serta perdagangan grosir dan eceran yang turun 3,2 persen.

“Singapura adalah acuan untuk per­lambatan perdagangan global. Dengan segala sesuatu yang kita lihat, sangat mungkin bahwa akan ada resesi di kuar­tal ketiga tahun ini,” kata ekonom Asia- Pasifik dari perusahaan asuransi Coface, Carlos Casanova.

Jika pertumbuhan triwulanan Singa­pura tetap negatif pada kuartal ketiga tahun ini, berarti negara seluas kota itu telah memasuki resesi teknis, sebuah skenario yang menurut data lain sema­kin mungkin terjadi.

Singapura secara drastis menurun­kan prakiraan pertumbuhan tahun ini. Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura (MTI) memperkirakan per­tumbuhan antara 0,0 hingga 1,0 persen, atau merosot tajam dibandingkan predik­si tahunan sebelumnya antara 1,5 sampai 2,5 persen. Pada Juli lalu, Dana Moneter Internasional (IMF) telah memangkas perkiraan pertumbuhan 2019 Singapura menjadi 2 persen dari 2,3 persen.

MTI mengatakan sebagian penu­runan itu disebabkan meningkatnya konflik perdagangan AS-Tiongkok da­lam beberapa bulan terakhir. Ekonomi Tiongkok dilaporkan mencetak rekor pertumbuhan terendah pada kuartal ke­dua, sebesar 6,2 persen, sejalan dengan kemerosotan Singapura.

Krisis Utang

Sementara itu, McKinsey & Co da­lam laporan “Signs of Stress in The Asian Financial System” mengungkap­kan bahwa 25 persen utang swasta valas jangka panjang di Indonesia memiliki rasio penutupan bunga (interest cover­age ratio/ICR) kurang dari 1,5 kali.

Posisi itu terhitung rawan karena itu berarti perseroan menggunakan mayo­ritas labanya untuk membayar utang. Indonesia bersama Australia, Tiongkok, Hong Kong, dan India masuk dalam kategori itu. Utang tersebut kebanyakan berasal dari sektor utilitas seperti pem­bangkit listrik dan jalan tol, dengan por­si 62 persen. Sektor energi dan bahan mentah menyusul dengan porsi ma­sing-masing 11 persen dan 10 persen.

“Kini, media keuangan dan pengamat bertanya-tanya apakah kenaikan ting­kat utang di Asia bisa memicu krisis yang baru. Sayangnya, tanda-tandanya terlihat mengancam, dan kesehatan sektor ke­uangan dan sektor riil sedang memburuk,” tulis Senior Partner McKinsey Joydeep Sengupta dan Archana Seshadrinathan, seperti dikutip CNBC Indonesia, Selasa.

Dampak tingkat utang korporasi dan utang rumah tangga yang tinggi terlihat di Indonesia, Tiongkok, India, dan Thai­land. Bahkan, tingkat utang Indonesia yang berdenominasi dollar AS menca­pai 50 persen dari porsi utang yang ada, atau jauh di atas rata-rata kawasan sebe­sar 25 persen.

Sebelumnya dikabarkan, gejala kri­sis akibat ekonomi yang dipompa oleh utang juga dialami Indonesia. Bahkan ekonom senior, Rizal Ramli, menyebut­kan hampir seperempat perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi salah satu faktor yang dapat memicu krisis tahun depan. Sebab, se­banyak 24 persen emiten tersebut me­rupakan perusahaan ‘zombie’ karena hanya mengandalkan sistem pembiaya­an kembali (refinancing). SB/YK/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment