Perluas Pabrik Garam dengan Penerapan Teknologi | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 26 2020
No Comments
Riset dan Teknologi - Pelaku Industri Harus Dukung Kehadiran Pabrik Terintegrasi

Perluas Pabrik Garam dengan Penerapan Teknologi

Perluas Pabrik Garam dengan Penerapan Teknologi

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Peningkatan kualitas garam dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi, seperti hydrocyclone dan centrifuge (sentrifus).

JAKARTA – Badan Pengka­jian dan Penerapan Teknologi (BPPT) terus mendorong penerapan teknologi dalam memperluas pabrik garam ter­intergasi di Indonesia. Langkah tersebut diharapkan mampu menekan kebijakan impor garam industri yang menjadi salah satu fokus pemerintah.

Deputi Kepala bidang Teknologi Informasi, Energi, dan Material BPPT, Eniya L Dewi, menjelaskan pemerintah ta­hun ini berencana mengimpor garam industri sebanyak 2,9 juta ton. Menurutnya, impor ini terpaksa dilakukan karena pihak dalam negeri belum ada yang sanggup memenuhi ke­butuhan garam industri ini, sementara pihak industri harus tetap menjalankan usahanya.

“Masalah itu harus segera diatasi dengan mulai menyerap garam rakyat yang ditingkatkan kadarnya menjadi setara industri,” ujar Eniya ke­pada Koran Jakarta, di Jakarta, Rabu (22/1).

Eniya menyebut BPPT pada Desember 2019 telah melaku­kan commissioning pilot project garam industri terintegrasi bersama PT Garam. Hasil dari commissioning tersebut adalah adanya pabrik garam dengan kapasitas garam industri 40.000 ton/tahun di Manyar, Gresik, Jawa Timur.

Ia menjelaskan untuk proses peningkatan kualitas produk garam lokal dari NaCl 88 persen atau garam kualitas K3 menjadi garam industri dengan NaCl sebesar 98 persen atau garam K1 diperlukan tiga kali washing atau pencucian. Hal tersebut juga diikuti dengan penggunaan teknologi seperti hydrocyclone, sentrifus, dan lainnya.

Hydrocyclone adalah suatu alat yang berfungsi untuk me­misahkan padatan atau gas dari cairan berdasarkan perbedaan gravitasi setiap komponen. Se­dangkan sentrifus merupakan alat yang digunakan untuk me­misahkan partikel objek ber­dasarkan perbedaan massa je­nis dengan proses sedimentasi.

Selain dari proses pabrik, peningkatan kualitas garam ini juga harus diikuti dengan proses revitalisasi lahan para petani garam. Menurutnya, hal tersebut diperlukan agar kualitas garam dari petani bisa jauh lebih meningkat sehingga proses peningkatan kualitas garam menjadi lebih optimal dan efisien.

“Jadi sangat maksimal sekali kemampuan yang kita berikan. Di sisi lain, kehadiran pabrik ini juga harus disambut dengan partisipasi aktif dari para petani garam untuk mening­katkan kualitas garam mereka,” jelas Eniya.

Di sisi lain, pelaku industri juga harus mendukung kehadiran pabrik tersebut. Menu­rutnya, jika sudah ada pabrik yang mampu melahirkan ga­ram berkualitas, Industri harus bisa mulai meninggalkan keg­iatan impor garam industri.

Belum Puas

Dalam kesempatan terse­but, Erni mengatakan pi­haknya masih belum puas dengan capaian tersebut. Menurutnya, masih harus ada peningkatan spesifikasi peralatan terutama untuk menyalesaikan masalah korosi di peralatan.

Ia menilai teknologi terse­but mampu menjadi master­plan untuk semua pabrik ga­ram di Indonesia.

Program garam tersebut, lanjutnya, harus menjadi flag­ship BPPT karena memiliki dampak ekonomi yang be­sar terhadap masyarkat dan industri.

“Kami juga sudah menye­diakan desain pabriknya jika ada daerah atau siapa saja yang ingin membuat pabrik ini. Se­benarnya kita butuh 30 pabrik lagi untuk mengatasi impor garam, tapi untuk tahap awal 10 pabrik saja sudah cukup,” tandasnya. ruf/E-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment