Koran Jakarta | August 25 2019
No Comments
Direktur Eksekutif Puskapol UI, Aditya Perdana, soal Pertemuan Jokowi-Prabowo

Pertemuan di MRT sebagai Simbol Kemajuan Indonesia

Pertemuan di MRT sebagai Simbol Kemajuan Indonesia

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Lama ditunggu publik dua kandidat capres yang bertarung di Pilpres 2019 menggelar pertemuan, tetapi secara mengejutkan, Jokowi dan Prabowo bertemu di Stasiun Moda Raya Terpadu (MRT) Lebak Bulus, Jakarta Selatan. kemudian melanjutkan perjalanan ke daerah Senayan untuk makan siang bersama pada Sabtu, (13/7). Untuk mengupas hal itu, Koran Jakarta mewawancarai Direktur Eksekutif Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia (Puskapol UI), Aditya Perdana, Minggu (14/7). Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana Anda memandang pertemuan Jokowi- Prabowo kemarin?

Kalau saya menganggap itu hal yang positif, maksudnya itu memang yang ditunggu publik. Perseteruan atau kompetisi di dalam Pilpres memang sudah selesai. Jadi, tugas berikutnya adalah memberi kesempatan bekerja dan yang kalah juga bersedia untuk berkolaborasi bersama dengan yang menang.

Pertemuan dilaksanakan di MRT, apakah ada simbol politik yang sedang ditunjukkan Jokowi?

Sebenarnya saya sulit menebak simbol politik tersebut. Akan tetapi, artinya ini kan memang ada pesan yang ingin disampaikan kepada publik bahwa MRT ini adalah lambang kemajuan Indonesia ke depan, fokus infrastruktur yang dilakukan oleh Jokowi itu. Paling tidak dikatakan, “Ini loh Pak, yang sudah kita lakukan. Mari kita sama-sama untuk mendorong yang seperti ini”. Pak Jokowi sendiri kan tipikalnya orang yang spontan dalam menginisiasi pertemuan. Lalu, pasti ada masukan dari timnya jokowi untuk mencari tempat yang pas untuk menyampaikan bahwa ini tempat yang menarik dan bagus untuk kemajuan.

Apakah ini berarti akan tercipta stabilitas politik nasional sehingga perekonomian juga akan membaik?

Ya, di dalam pemerintahan memang ada logika seperti itu. Dari sisi politiknya begitu kondisi politik stabil, maka para investor dan kelompok bisnis akan mempertimbangkan situasi tersebut.

Prabowo akan membantu Jokowi ke depan, apakah itu memungkinkan?

Kalau soal ini tergantung, kita sendiri tidak tahu perkembangan dan dinamika yang terjadi seperti apa. Kemungkinan merapat ke pemerintah bisa saja terjadi, tapi kalau dari sisi saya, saya merasa itu tidak baik. Dalam demokrasi, harus tercipta kelompok oposisi, jangan semuanya kumpul di pemerintahan, itu untuk check and balances agar tidak terjadi pemerintah yang otoriter. Kendati demikian, saya melihat ada alasan rasional dibalik kelompoknya Pak Prabowo akan merapat ke pemerintahan, untuk survival partai politik.

Kemudian, bagaimana dengan kelompok pendukung Prabowo yang kecewa?

Kalau saya menganggap itu kekecewaan yang wajar dan lumrah, karena mereka adalah pendukung yang loyal. Artinya, kalau kita lihat sejarah Pemilu ini dari 2014 dan 2019, tentu pendukung politiknya relatif sama.

trisno juliantoro/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment