Koran Jakarta | November 20 2019
No Comments

Pesantren Diharapkan Mencetak Generasi Santun

Pesantren Diharapkan Mencetak Generasi Santun
A   A   A   Pengaturan Font

Judul        : Modernisasi Kurikulum Pesantren
Penulis    : Mohammad Takdir
Penerbit : Ircisod
Cetakan  : Mei 2018
Tebal        : 324 halaman
ISBN        : 978-602-7696-43-3

Pesantren merupakan salah satu model pendidikan Islam yang masih tradisional. Dia masih mengedepankan nilai-nilai dan menjunjung kearifan. Tak heran, sampai kini pendidikan pesantren masih akrab dengan keunikan dalam tata belajarnya. Pesantren diakui sebagai lembaga pendidikan yang ikut andil dalam mencerdaskan bangsa. Bahkan, tidak sedikit dari mereka ikut berjuang demi kemerdekaan Indonesia.


Sejalan perkembangan zaman yang serbateknologis, beberapa pesantren juga mulai mengadopsi pengetahuan baru untuk menjadi nilai tambah. Pelajarnya mendapat pendidikan akhlak dan umum. Seseorang yang belajar dalam dunia pesantren bisa menikmati kitab-kitab klasik dan pengetahuan umum.


Inilah yang seharusnya senantiasa dikembangkan dalam kehidupan pesantren di era modern sekarang. Selain berguna untuk menambah wawasan generasi bangsa, ini juga menjadi modal untuk memupuk solidaritas kebersamaan dalam kehidupan. Kehidupan pesantren tidak terlalu monoton dan menekankan tentang ilmu keagamaan semata.


Bawani mendefinisikan pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran ilmu agama Islam. Umumnya dengan nonklasik di mana seorang kiai mengajarkan ilmu agama kepada para santri berdasarkan kitab-kitab dalam bahasa Arab oleh ulama abad pertengahan. Untuk mempermudah pendalaman ilmu agama, para santri biasanya tinggal di pondok (asrama) dalam lingkungan pesantren dengan peraturan-peraturan ketat, demi memantapkan perkembangan moral seorang santri (hal 24).


Di lihat dalam konteks historis-antropologis, lembaga pendidikan juga tidak bisa dipisahkan dari kultur masyarakat Indonesia yang sangat majemuk. Kebersamaan santri diyakini berperan besar dalam mengaplikasikan visi kebangsaan berbasis nilai-nilai keislaman. Dia menjadi aktor intelektual yang dapat menentukan kualitas pembangunan di segala bidang kehidupan.


Dengan berjalannya alur generasi, pendidikan pesantren bisa senantiasa dikembangkan untuk mengurangi kejanggalan-kejanggalan yang merusak generasi bangsa. Nilai moral dan akhlak yang ditanamkan menjadi isyarat, dunia pesantren masih sangat layak dipertahankan untuk mencetak generasi santun.


Buku ingin memberi asupan pengetahuan baru melalui dunia pesantren. Ini baik dari metode belajar maupun kurikulumnya. Harapannya, pelajar pesantren tersebut bisa menemukan jati dirinya sebagai insan yang berguna bagi bangsa.
Meski demikian, kesuksesan pesantren dalam mencetak generasi emas, juga tidak lepas dari metode pendidikan yang mampu menjawab tantangan zaman. Banyak pesantren yang terbuka dalam menyambut perubahan. Maka, modernisasi kurikulum menjadi penting dalam mencetak generasi yang memiliki kemapanan intelektual dan spiritualitas. Pesantren sebagai dunia santri berbeda dengan perguruan tinggi atau sekolah. Pesantren juga bukan sekadar asrama pelajar, tapi sebuah sistem pendidikan yang mengakar kuat di tengah-tengah masyarakat. Pesantren inilah yang menginspirasi Ki Hajar Dewantara tatkala mencetuskan gagasan membangun Perguruan Taman Siswa (hal 272).


Benturan akan dunia modern menjadikan pesantren mengerti cara memahami ilmu baru, tanpa menghilangkan ilmu tradisional. Buku mau menjelaskan sebuah pengetahuan baru tentang sistem dan pembaruan lingkungan pesantren. Ada pula data dan fakta hasil penelitian.
Diresensi Suroso, Mahasiswa Studi Agama-agama

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment