Koran Jakarta | September 23 2019
No Comments

Petaka Akibat Deforestasi

Petaka Akibat Deforestasi

Deforestasi dan Ketahanan Sosial
A   A   A   Pengaturan Font

Judul buku : Deforestasi dan Ketahanan Sosial
Penulis : Herman Hidayat
Penerbit : Pustaka Obor
Cetakan : Juli 2019
Tebal : 367 halaman
ISBN : 978–602- 06-2992-6

Ada berita penting yang meng­gembirakan tentang menu­runnya konversi lahan hutan utuk perkebunan dan lain sebagainya (deforestasi) di Indonesia pada peri­ode Juli 2016 - Juni 2017. Pada periode tersebut deforestasi mengalami penu­runan menjadi 497.000 hektare. Selisih emisi yang disebabkan penurunan deforestasi adalah sebesar 0,23 ton atau setara dengan emisi dari pemba­karan lebih dari 90 juta batubara.

Menurut buku, ia disebabkan adanya upaya perbaikan tata kelola kebijakan secara berlapis. Antara lain moratorium izin baru hutan dan lahan serta pengendalian alih fungsi lahan pada hutan alam, primer serta gambut. Ia juga didukung kampanye pendidikan lingkungan kepada ma­syarakat dan peningkatan penegakan hukum kehutanan dari kepolisian setempat (hlm 23).

Dapat dikatakan para pelaku utama deforestasi mencakup para peladang berpindah, para petani tanaman keras skala kecil, dan perusahaan-perusahaan besar yang membabat hutan untuk perluasan perkebunan kelapa sawit, karet, kopi, kakao, dan sebagainya. Pelaku ini bersama-sama menyebabkan sekitar 75 persen de­forestasi di kawasan hutan tropis.

Menurut buku, penurunan de­forestasi di atas masih belum signifikan jumlahnya dibandingkan kerusakan hutan sebelumnya yang mencapai 1,09 ribu hektare. Deforestasi berimplikasi pada kerusakan ekosistem hutan baik fauna, flora, ekologi dan jasa ling­kungan. Rusaknya siklus ekosistem secara berkelanjutan mengakibatkan kepunahan spesies lainnya.

Dampak kerusakan lingkungan sangat serius bagi ekologi dan kon­servasi berupa rusaknya tangkapan air di kawasan hutan di hulu, erosi tanah, banjir, kebakaran hutan, serta kekeringan di musim kemarau dira­sakan masyarakat baik yang tinggal di sekitar maupun dalam hutan. Sebagai ilustrasi, kejadian banjir akibat illegal logging di hulu Citarum karena lahan hutan konservasi dikonversi dengan tanaman cepat tumbuh yang mengun­tungkan seperti kentang, kubis, dan kopi (hlm 67).

Banjir tersebut terjadi rutin setiap musim hujan di Kabupaten Bandung akibat luapan sungai Citarum terus bertambah. Lebih dari 350 rumah warga tergenang air dan 440 warga kecamatan mengungsi ke sejumlah titik pengungsian. Banjir juga melanda Kabupaten Singkil, Aceh dan juga Palembang. Sedangkan Kabupaten Tasikmalaya ditimba longsor tanah.

Musibah-musibah alam yang ba­nyak melanda di berbagai wilayah di Indonesia tersebut mempunyai korelasi positif dengan deforestasi, kerusakan hutan di hulu. Air hujan tidak mampu diserap oleh akar-akar di hutan lindung, hutan konservasi, dan hutan produksi. Air hujan turun lang­sung ke sungai sehingga terjadi luapan banjir dan tanah longsor di berbagai daerah.

Deforestasi juga berpengaruh terha­dap ketahanan sosial bagi komunitas masyarakat yang tinggal di sekitar dan dalam hutan. Dalam konteks kemis­kinan, lebih dari setengah kelompok masyarakat ini tinggal di sekitar dan dalam hutan. Kerusakan ekosistem hutan berpengaruh pada kemiskinan dan ketahanan sosial mereka. Agar bisa bertahan dalam kondisi demiki­an, mereka harus mengubah sikap mental mereka dari negatif ke arah positif dan produktif sehingga dapat menyesuaikan diri atau beradap­tasi terhadap tekan eksternal akibat deforestasi.

Menurut buku ini komunitas ma­syarakat dapat meningkatkan ketah­anannya dengan mengembangkan mekanisme atau institusi yang dapat membangkitkan keadaan mereka un­tuk mengingat kejadian yang lampau, meletakkan sistem peringatan dini un­tuk siap maju, membentuk benteng un­tuk melawan pengaruh ke perubahan yang negatif, dan belajar bagaimana mempersiapkan diri lebih baik untuk kejadian hari depan (hlm 197).

Tantangan untuk mengangkat komunitas masyarakat marjinal terse­but harus disikapi dengan kebijakan aksi afirmatif oleh pemerintah dan stakeholder lainnya. Pemerintah harus mengeluarkan kebijakan program perhutanan sosial dalam kerangka reformasi agraria, insentif ekonomi, dan pembentukan kesatuan pengelo­laan hutan di setiap dinas kehutanan tingkat provinsi dengan program agroforesty untuk masyarakat. Peresensi, Asnawi Susanto Aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment