Koran Jakarta | May 22 2019
No Comments
Perselisihan Perdagangan

Petani AS Terjebak dalam Aksi Perang Dagang

Petani AS Terjebak dalam Aksi Perang Dagang

Foto : STR/AFP
TOKO BARANG IMPOR - Seorang pelanggan memilih barang impor pada salah satu toko di Pelabuhan Perdagangan Bebas Shandong, di Tiongkok Timur, Provinsi Shandong, Selasa (14/5).
A   A   A   Pengaturan Font

WASHINGTON - Kalangan petani Amerika Serikat (AS) yang menjadi eksportir daging babi dan kedelai, terjebak dalam aksi perang dagang yang dilancarkan Presiden AS, Donald Trump, terhadap Tiongkok. Padahal selama ini, kalangan petani dan industri pertanian AS merupakan basis pendukung utama Trump dalam pemilihan presiden (Pilpres) 2016.

Dengan sisa waktu 18 bulan sebelum pemilihan berikutnya, Trump berharap dapat membuat mereka tenang dan tetap memberikan dukungan politik pada Pilpres AS 2020. Akan tetapi, tanda-tanda frustrasi yang memuncak semakin jelas, di tengah-tengah kian panasnya perang dagang, dan terus menghantam industri pertanian yang telah menderita karena harga merosot dan penurunan pendapatan.

“Petani patriot kita yang hebat akan menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari apa yang terjadi sekarang,” kata Trump di Twitter, Selasa (14/5). Dia berharap Tiongkok akan menghormati mereka dengan tetap membeli ekspor pertanian AS. Jika tidak, pemerintah akan membuat perbedaan dengan membeli hasil pertanian untuk menopang harga.

Pernyataan Trump itu dilakukan sehari setelah Tiongkok mengumumkan akan menaikkan tarif pada produk pertanian dan barang manufaktur AS senilai 60 miliar dollar AS. Sedangkan kenaikkan tarif AS pada pada impor barang dari Tiongkok senilai 300 miliar dollar AS. Daerah perdesaan AS yang merupakan basis kaum konservatif pendukung Trump, telah terguncang oleh konflik dagang akibat ekspor kedelai ke Tiongkok terhenti.

Menurut data Departemen Perdagangan AS, ekspor kedelai tahun lalu turun 75 persen dari 2017. Dan selama satu tahun terakhir, komoditas mereka tidak hanya menjadi sasaran Tiongkok, tetapi juga oleh Uni Eropa, Kanada, dan Meksiko. Untuk sementara ini, kebanyakan dari mereka tetap mendukung Trump.

Tetapi, Kepala Komunikasi Federasi Biro Pertanian Amerika, Will Rodger, mengatakan sebagian lain dari mereka tidak begitu yakin untuk tetap memberikan dukungannya. “Kami tidak memiliki angka pasti yang memberi tahu seberapa kuat dukungan atau oposisi, tetapi firasat kami adalah sebagian besar petani masih mendukung Presiden karena mereka menyukai banyak kebijakannya di semua tingkatan,” kata dia kepada AFP.

 

Merugikan Petani

 

Petani dari Scribner, Nebraska, Sid Ready, mengatakan perang dagang telah merugikan petani, tetapi mereka tetap mempunyai harapan atas kebijakan itu. “Kami memahami dan saya pikir petani sangat tangguh. Dalam jangka panjang, kami berharap ini berhasil,” ujar dia.

Namun, Rodger menambahkan kesabaran petani ada batasnya karena pendapatan mereka telah turun selama enam tahun akibat kelebihan pasokan global. 

 

SB/AFP/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment