Koran Jakarta | November 17 2018
No Comments
JENAK

Piknik ke Pasar Mayestik yang Jaksel

Piknik ke Pasar Mayestik yang Jaksel

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

CATATAN ARSWENDO

 

Tidak tiba-tiba saya ingin piknik ke Pasar Mayestik— yang di dekat Rumah Sakit Pertamina, dekat Pasar Taman Puring, Jakarta Selatan, karena nama Pasar Mayestik juga ada di daerah Jatinegara, Jakarta Timur. Tidak tiba-tiba, karena hari-hari terakhir ini saya selalu melewati ketika berobat.

Pusing dengan laporan laboratorium, kuintasi, konsultasi dokter berganti, Pasar Mayestik muncul dalam keinginan. Tidak sekadar dilewati, melainkan secara khusus didatangi. Sebagai tujuan, bukan karena pergi ke mana, dan mampir di situ. Bukan sekadar numpang lewat, melainkan sebagai tujuan utama. Memang ingin piknik ke Mayestik.

Mayestik yang sekarang, bukan yang saya kenal di awal tahun 70-an, tapi ternyata masih banyak yang dikenali secara fisik sekalipun. Nama toko-toko kain, masih seperti dulu ketika bahkan bagi masyarakat Depok—waktu itu ratusan keluarga pindah dari Jakarta, masih mengidolakan dan datang sejauh 60 kilometer pulang balik.

Mayestik sudah terkenal sejak tahun 50-an. Bahkan, nama Nomo Koeswoyo yang kondang itu pernah menjadi jawara di tempat itu. Pasar seluas 6.905 meter persegi, dan bangunan yang lebih luas karena bertingkattingkat, menampung ribuan tempat usaha, ribuan kios, kios dan yang disebut counter.

Pasar yang elite awalnya ini, hanya 3 km ke jalan utama Jenderal Sudirman, berada di kompleks perumahan Kebayoran Baru, menyediakan apa saja yang dibutuhkan pembeli. Apa saja dalam artian jenis kue yang di tempat lain hanya tinggal nama, jenis minuman cendol, cincau, atau jenis kue cubit.

Itu baru kue, jenis kain lebih menakjubkan lagi. Dari harga yang hanya 30k per meter, hingga 20 kalinya. Tinggal pilih mana yang sesuai keinginan. Baik untuk kebutuhan pribadi, dan atau seragam— biasanya untuk keperluan pernikahan. Baik membeli kain atau dijahit setempat. Pelayanan menyeluruh.

Juga banyaknya kompleks perumahan, apartemen, mendekat ke pasar yang menyediakan kain korden segala jenis, segala harga dengan semua aksesorinya. Tapi itu belum menggambarkan semua yang tersimpan di sini. Berbagai jenis piring antik—dalam arti yang sebenarnya, susah ditemukan di tempat lain, sampai bisa dipesan dengan gambar diri kita.

Dan istimewanya lagi, di pasar yang sudah dibangun modern ini masih memungkinkan tawarmenawar. Yang menjadi ciri khas pasar tradisional, yang membedakan dengan supermarket, dengan harga mati. Tawar-menawar memungkinan komunikasi langsung antarmanusia—yang bisa berubah komunikasih tanya jawab apa saja, dan akrab.

Masih ada juga anak-anak, atau remaja yang ramah menawarkan membawakan dagangan, atau jualan plastik kresek. Kadang masih lewat, seseorang penimbang badan. Masih ada juga di tangga, ada yang menawarkan jualan minyak wangi, atau pisang goreng. Masih ada juga... apa saja yang sungguh kenangable— pantas dikenang.

Tidak tiba-tiba, saya kangen dan ingin datang belanja secara khusus datang ke pasar itu. Bukan karena pergi ke mana, lalu mampir. Pasar Mayestik menawarkan kesegaran, keramahan—selain soal parkir yang kejam, tidak ramah kalau mau menikmati makanan yang berderet di jalan—dan tempat menenggelamkan diri dengan nyaman dan aman.

Dari keributan soal demo, soal hoax, soal tuntutan, praperadilan. Juga soal bencana. Saya mungkin butuh Mayestik. Bukan saya memang butuh Mayestik. Untuk merasakan jeda, merasa jenak, untuk berada dalam suasana yang lebih berhubungan dengan diri sendiri, dengan kenangan. Bukan bereaksi dengan keadaan sekitar, yang memaksa terlibat.

Dengan peristiwa yang tegang, di tahun politik yang memasuki masa kampanye, dan disambar keharuan bencana alam, Pasar Mayestik memberi jawaban kebutuhan. Di sana saya masih disapa pedagang buah yang kemudian bertanya siapa nama saya, lalu mengajak berpotret dengan hape, pedagang sebelahnya.

Di sana masih mungkin bertemu teman lama yang punya kenangan dan keinginan yang sama, yaitu menemukan diri sendiri tanpa beban tambahan. Dengan porsi dan posisi ini, Mayestik—atau bukan Mayestik dengan peran yang sama, selalu dibutuhkan karenanya.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment