Pilot Coba Balik Arah | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 26 2020
No Comments
Boeing Jatuh I Iran Takkan Serahkan Kotak Hitam ke AS atau Boeing

Pilot Coba Balik Arah

Pilot Coba Balik Arah

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Awak kabin sangat berpengalaman, sehingga jauh dari human error. Tidak ada informasi emergensi dari para pilot, sebelum pesawat menghunjam ke tanah

TEHERAN – Pesawat Boeing 737 milik Ukraina sempat mau balik arah kembali ke Bandara Teheran setelah mengalami masalah, namun keburu jatuh. Demikian hasil sementara penyelidikan pihak Iran, Kamis (9/1), di Teheran. Boeing 737 milik maskapai Ukraine International Airlines jatuh dan menewaskan seluruh penumpangnya di Teheran selatan, Rabu (8/1).

“Pesawat yang pada awalnya menuju ke barat untuk meninggalkan bandara, berbelok ke kanan untuk kembali ke bandara karena menyadari ada masalah, sebelum jatuh,” kata Kepala Organisasi Penerbangan Sipil Iran (CAOI), Ali Abedzadeh. Lebih jauh diungkapkan, pesawat menghilang dari layar radar saat mencapai ketinggian 8.000 kaki.

Pilot tidak mengirim pesan radio tentang keadaan yang tidak biasa. Organisasi itu menambahkan, temuan pertama dalam penyelidikan mengenai kecelakaan adanya api di dalam pesawat sebelum jatuh.

“Menurut saksi mata, kebakaran yang semakin meningkat intensitasnya terlihat di pesawat,” katanya. Lebih jauh diungkapkan, telah melakukan wawancara dengan saksi di darat dan yang berada di pesawat lain yang terbang di atas pesawat Ukraine International Airlines saat bencana terjadi. Sementara itu, laporan lain mengatakan, pesawat jenis Boeing 737-800 itu jatuh hanya beberapa menit setelah lepas landas dari Bandara Teheran, tanpa ada penumpang yang selamat.

Penyelidikan awal menemukan, pesawat mengalami masalah saat meninggalkan zona bandara dan terbakar. Kotak Hitam Sebelumnya, Iran mengatakan tidak akan menyerahkan rekaman penerbangan dari kotak hitam kepada Boeing selaku pembuat pesawat atau Amerika Serikat (AS). Di bawah aturan penerbangan internasional, Iran memiliki hak untuk memimpin penyelidikan, tapi biasanya pihak produsen pesawat juga terlibat. Kecelakaan terjadi pada saat Iran dan AS sedang berada dalam kondisi ketegangan tinggi, hanya beberapa jam setelah serangan rudal Iran ke dua pangkalan udara yang menampung pasukan AS di Irak. Namun hingga kini belum ada bukti bahwa kedua peristiwa tersebut saling terkait.

Abedzadeh menambahkan, para saksi mata melihat pesawat terbakar sebelum kecelakaan, dan para pilot tidak melakukan panggilan darurat sebelum mencoba kembali ke bandara Imam Khomeini Teheran.

“Temuan awal itu telah disampaikan ke Ukraina dan AS, tempat Boeing bermarkas, serta Swedia dan Kanada karena warga negara mereka berada di pesawat itu,” tambahnya.

Ukraina sendiri telah mendeklarasikan 9 Januari sebagai hari berkabung nasional. Umumnya, Dewan Keselamatan Transportasi Nasional AS atau NTSB turut ambil bagian dalam penyelidikan kecelakaan pesawat yang melibatkan produk Boeings AS. Namun badan itu tetap harus bertindak dengan izin dan sesuai dengan undang-undang negara yang bersangkutan.

“Kami tidak akan memberikan kotak hitam kepada pabrik dan Amerika. Kecelakaan ini akan diselidiki oleh organisasi penerbangan Iran tetapi Ukraina juga bisa bergabung,” tegas Abedzadeh.

Sebelumnya, Organisasi Manajemen Mitigasi Bencana Iran dalam penafsiran awal mengindikasikan sebab kecelakaan adalah masalah teknis. Sedang kementerian transportasi menduga ada api yang membakar. Semua ini membantah bahwa pesawat jet tersebut jatuh karena serangan misil terkait konflik Amerika dan Iran.

Diketahui, hampir bersamaan waktu pesawat jatuh, Iran melepaskan puluhan misil ke markas tentara AS di Irak. Hanya, dikatakan pilot tidak menginformasikan adanya masalah emergensi.

Hanya video amatir memperlihatkan pesawat menurun tajam sebelum menghantam tanah. Kementerian luar negeri Ukraina mengeluarkan pernyataan, pesawat berisi penumpang dari Iran, Kanada, Swedia, Afganistan, Inggirs, dan Ukraina. Afp/SB/BS/G-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment