Koran Jakarta | November 19 2017
No Comments

Pria Telanjang di Depan Pagar Istana

Pria Telanjang di Depan Pagar Istana

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

Seorang pria, telanjang, berada di depan pagar Istana Merdeka, pada hari hari Senin (28/8/17) pagi. Tidak terlalu menarik perharian karena masih pagi, namun sempat juga “dihpin”, kata lain divideokan melalui hp atau ponsel.

Dan karena pria itu telanjang bulat, tidak segera diketahui identitasnya. KTP atau identitas lain tak ditemukan, selain ketelanjangannya, dan rambutnya yang terkesan agak gondrong.

Pria itu kemudian diserahkan ke kepolisian, dan diperkirakan lari atau telanjang dari arah Monas. Selain siapa pria itu, pertanyaan kedua adalah: apa yang dilakukan, kenapa dia ke Istana dengan telanjang? Spekulasi, bahkan media asing, perlu menemukan jawaban atas kejadian ini.

Mungkinkah pria ini terkena pengaruh berat narkoba dari jenis yang membuatnya nekat? Sangat mungkin karena sebelumnya ada gadis yang juga telanjang— sebenarnya masih memakai celana dalam, malam-malam muncul di apotik setelah melarikan diri.

Gadis itu diwartakan kena pengaruh obat yang digunakan. Kemungkinan lain, dalam keadaan stres, tertekan, pikiran kalut. Yang ini susah dikonfirmasi karena pria itu tidak dimunculkan lagi.

Kemungkinan yang masih dikembangkan adalah perbuatan pria telanjang ini berkaitan dengan “ilmu” yang sedang dijalani. Ini sangat mungkin mengingat banyak cerita tentang “tapa wuda”, atau bertapa dalam keadaan telanjang.

Konon pencuri paling sering memanfaatkan ilmu ini, yang dengan bertelanjang bulat bugil, sosoknya tak akan terlihat. Telanjang diyakini alami, bayi lahir juga telanjang. Dalam Babad Tanah Jawi dikisahkan tokoh perempuan cucu raja Demak, Ratu Kalinyamat, bertapa bertelanjang bugil sebagai “laku”, atau tirakat atau jalan cara untuk mencapai hal tertentu.

Penutup tubuhnya adalah rambut. Bisa benar, bisa tidak, kalau dilihat bahwa sebagai putri bangsawan, sebagai penganut agama Islam, beliau tidak akan sembarangan melakukan cara bertapa.

Bisa jadi itu sebagai kiasan, bahwa sang ratu tak mengenakan perhiasan atau pakaian mewah, sebagai bagian dari “tirakat”. Walau kisah itu yang menyebar dan memang lebih dramatis.

Cerita dalam wayang juga menguatkan kisah jurus telanjang. Syahdan, Dewi Anjani, putri cantik yang berwajah kera, bertapa telanjang di tepi telaga agar pulih kembali.

Anjani tak terkenal, tapi anaknya, Anoman, adalah tokoh legendaris yang sakti mandraguna. Yang menarik bahwa jurus “bertapa telanjang” ini diawali dengan melakukan di pinggir telaga, berjalan mengelilingi telaga sebanyak 21 kali.

Kalau ini berhasil, dalam artian tak ada yang melihat, berarti di tempat lain pun bisa tak terlihat. Varian dari jurus telanjang ini ada diberbagai cara untuk menggapai sesuatu yang sangat diharapkan.

Bisa terselubung dalam pati geni, bertapa dalam tempat gelap dengan telanjang dan tak makan tak minum, Dalam arti lain idiom “bertapa dengan telanjang” bukan sesuatu yang asing. Bahkan, kegagalan pria telanjang dikaitkan dengan itu. Bahwa ilmunya tak sebanding dengan ilmu Istana.

Makanya ada yang mengatakan, meskipun pria itu tak diketahui ketika bertelanjang di jalanan, tapi mentok di pagar. Di sini ilmunya kalah kuat, ia dijatuhkan dengan mudah. Istana, jauh lebih kuat, lebih angker dari hal-hal semacam ini.

Seorang pria, telanjang, di depan pagar Istana—karena belum sempat masuk, bisa diringkus poleh petugas. Di keraton Inggris pernah ada penelusup masuk sampai ke kamar Ratu.

Itu peristiwa langka. Sangat langka—mungkin juga baru kali ini di sini ada seorang yang ingin menembus pagar dengan telanjang. Tapi yang sangat langka bisa terjadi, walau tak punya arti penting selain mengusik perhatian, sementara saja.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment