Koran Jakarta | October 20 2019
No Comments

Prinsip Manajemen Alkitabiah Mengatasi Masalah

Prinsip Manajemen Alkitabiah Mengatasi Masalah
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Jawaban Allah atas Masalah-masalah Hidup yang Sulit
Penulis : Rick Warren
Penerbit : Yayasan Gloria
Cetakan : April 2019
Tebal : 185 halaman
ISBN : 978–602- 9254-72-3

Merupakan fakta histo­ris bahwa Yesus Kristus acap kali berada di ba­wah tekanan. Banyak tuntutan yang melelahkan dalam hidup-Nya. Dia jarang memiliki privasi. Orang-orang berulang kali salah mengerti, mengkri­tik, dan mencemooh-Nya. Herannya, kehidupan-Nya tetap damai. Dia tak pernah tergopoh-gopoh. Dia memiliki ketenangan hidup, sehingga mampu mnerima besar tekanan atau stres.

Menurut buku, Dia mendasar­kan hidup-Nya pada prinsip-prinsip manajemen stres yang sehat dengan mengenal diri-Nya. Ini prinsip mana­jemen stres yang pertama. Dalam Yohanes 8:12 Yesus berkata, “Aku tahu siapa diri-Ku. Akulah yang bersaksi tentang diri-Ku sendiri,” (hlm 14). Identifikasi ini sangat penting dalam menanggulangi stres. Jika orang tidak mengenali diri sendiri, tanpa disadari membiarkan orang lain memanipu­lasi.

Banyak individu stres karena ber­sembunyi di balik topeng. Dia tidak bersikap apa adanya di hadapan orang lain karena gagal mengenali dirinya yang otentik. Untuk mengenali diri ha­rus diawali dengan kesadaran bahwa setiap manusia adalah anak Allah. Ada di dunia bukan kebetulan, tetapi un­tuk suatu tujuan penting. Keberadaan­nya sangat dikasihi Allah.

Mengetahui untuk menyenangkan orang. Ini prinsip kedua Yesus. De­ngan tegas Dia berkata, sebagaimana termaktub dalam Yohanes 5:30, Dia tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Nya sendiri. Dia menghakimi sesuai dengan apa yang Dia dengar. Sebab Dia tidak menuruti kehendak-Nya sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus-Nya (hlm 17).

Jika berfokus hanya untuk me­nyenangkan Allah, hidup akan sederhana. Tak peduli apa pun yang dipikirkan orang lain. Selain itu, Yesus mengetahui yang hendak dicapai. Ini melahirkan prioritas. Jika hidup tidak berdasarkan prioritas, akan mudah ditekan orang lain. Kesibukan tidak selalu berarti produktivitas. Tanpa prioritas, bisa saja sibuk sepanjang waktu, namun tidak menyelesaikan apa-apa.

Yesus senantiasa fokus pada satu hal setiap waktu. Ini prinsip konsen­trasi. Yesus sangat ahli dalam hal ini. Beberapa orang berusaha mengalih­kan Yesus dari jadwal rencana-Nya. Dia terus bergerak maju mencapai tujuan-Nya. Saat ada 30 yang harus dikerjakan di meja, maka bersihkan meja, kerjakan satu. Setelah selesai, kerjakan satu lainnya. Orang tidak bisa mengejar dua kelinci sekaligus, harus fokus pada salah satu. Ketika usaha terpecah, dia tidak akan efektif (hlm 103).

Yesus mengerjakan tugas-tugas-Nya tidak sendirian, walaupun sebe­narnya mampu. Dia mendelegasikan kepada 12 Rasul agar menyertai-Nya dalam memberitakan Injil. Manusia mudah gelisah karena berpikir segala sesuatu bergantung padanya. Dia eng­gan mendelagasikan pekerjaan karena terlalu menyombongkan diri, seolah orang lain tidak bisa mengerjakan. Padahal mengerjakan sendiri tanpa bantuan sering kali gagal, sehingga stres.

Membangun kebiasaan berdoa adalah penawar stres yang luar biasa. Yesus sering bangun pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap. Dia pergi ke tempat sunyi untuk berdoa. Jika Dia menyediakan waktu untuk berdoa, padahal begitu sibuk, umat perlu meniru-Nya. Sejenak waktu teduh sendirian dengan Allah dapat men­jadi saat pelepasan berbagai tekanan hidup. Curahkan isi hati dan pikiran kepada-Nya (hlm 159).

Buku ini ditulis berdasarkan Alkitab dan diuraikan dengan bahasa populer. Buku sangat bagus sebagai pedoman sebab pesan Alkitab merupakan kebe­naran yang bisa dijadikan pegangan sepanjang zaman. Diresensi Muhammad Aminulloh, Alumnus STAI Al-Khoziny Buduran Sidoarjo

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment