Koran Jakarta | August 25 2019
No Comments
Vice President Relation PHE ONWJ, Ifki Sukarya, tentang Tanggung Jawab Pertamina atas Pencemaran Migas di Pesisir Jabar

Proteksi Berlapis Dilakukan agar Tumpahan Minyak Tidak Meluas

Proteksi Berlapis Dilakukan agar Tumpahan Minyak Tidak Meluas

Foto : DOK KORAN JAKARTA
A   A   A   Pengaturan Font
Masyarakat pesisir di Jawa Barat dan Jakarta Utara selama hampir sebulan terakhir dirugikan oleh pencemaran minyak dan gas bumi (migas) dari sumur YYA-1 milik Pertamina Offshore Northwest Java (ONWJ).

 

Nelayan dan petambak udang tidak bisa melaut dan terancam alami kegagalan panen karena semburannya terus meluas.

Untuk mengetahui sejauh mana penanganan Pertamina terha­dap semburan migas ini, Koran Jakarta mewawancarai VP Relation PHE ONWJ, Ifki Sukarya. Adapun Pertamina Hulu Energi (PHE) merupakan anak perusahaan PT Pertamina (Persero) dan sebagai operator Blok ONWJ, berikut petikannya.

Sejauh mana penanganan ter­hadap sumur YYA-1 ONJW?

PHE ONWJ terus menginten­sifkan pengeboran relief well (su­mur YYA-1 RW) untuk bisa secepat­nya menghentikan gelembung gas yang terjadi di sekitar sumur YYA-1. Hingga saat ini, pengeboran telah mencapai kedalaman 1.464 meter atau lebih dari 4.000 feet dari target 2.765 meter atau sekitar 9.000 feet.

Pengeboran telah dilakukan sejak 1 Agustus 2019. Pengeboran relief well alias sumur baru (YYA- 1RW) untuk menginjeksikan fluida berupa lumpur berat agar sumur YYA-1 bisa ditutup permanen. Saat ini pengeboran relief well dilakukan dengan melakukan pemasangan casing dengan diameter 17-1/2.

Apalagi upaya teknis lainnya yang dilakukan PHE?

Selain penanganan kontrol sumur, PHE ONWJ juga melakukan pen­anganan oil spill di offshore dan onshore. Di offshore penanganan dilaku­kan dengan menggunakan 4.200 meter static oil boom di layer per­tama dan 400 meter static oil boom di layer kedua untuk mengejar min­yak yang lolos IMT juga memasang moveable oil boom 700 meter.

Sebagai langkah antisipasi IMT juga memasang satu set oil boom sepanjang 400 m di sekitar FSRU Nusantara Regas, 4 skimmer dan 44 kapal. Sedangkan di onshore menggunakan, 2670 meter oil boom di muara sungai dan pembersihan bersama dengan masyarakat dan pihak terkait.

Apakah PHE melaku­kannya sendiri?

Kami menggandeng perusa­haan berpengalaman di bidang well control yang telah terbukti sukses menangani hal yang sama, antara lain peristiwa di Teluk Meksiko, AS.

Kendati permasalahan yang saat ini terjadi di PHE ONWJ dalam skala yang jauh lebih kecil, namun untuk memastikan penanganan optimal, kami menggandeng perusahaan lain yang berpengalaman untuk membantu dan melakukan kajian bersama terkait penanganan situasi seperti ini.

PHE ONWJ terus berupaya optimal menahan tumpahan minyak tidak melebar ke perairan yang lebih luas dengan melakukan strategi proteksi berlapis di sekitar anjungan dan mengejar, melokali­sir, serta menyedot ceceran minyak yang melewati batas sabuk oil boom di sekitar anjungan.

Apa yang PHE lakukan untuk membantu warga yang terdampak?

Kami terus meningkatkan layanan kesehatan bagi masyara­kat terdampak dengan melakukan layanan kesehatan keliling dari wilayah terdampak di Karawang hingga Bekasi.

PHE ONWJ bekerja sama dengan Pertamedika menerjunkan Tim Medis Keliling untuk memudahkan pelayanan kesehatan masyarakat, terutama di wilayah perbatasan dan sulit dijangkau.

Apa bantuan lainnya?

Saat Idul Adha kemarin, kami menyerahkan 18 ekor sapi kur­ban untuk masyarakat di wilayah terdampak di Karawang, Bekasi, dan Kepulauan Seribu. Pembagian hewan kurban sebagai bagian dari kepedulian perusahaan kepada masyarakat di wilayah terdampak. Hewan kurban tersebut berasal dari Pertamina Group.

Momentum Idul Adha tahun ini, lanjut Ifki, merupakan momen yang tepat untuk semakin menguatkan kebersamaan dalam menangani musibah yang sedang dihadapi. Belasan hewan kurban tersebut sudah didistribusikan sejak 9 Agus­tus lalu. erik sabini/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment