Koran Jakarta | August 25 2019
No Comments
Proyek Percontohan - Sampah yang Disortir Tak Sesuai Target

Proyek PLTSa Bantargebang Molor

Proyek PLTSa Bantargebang Molor

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Seharusnya pada akhir 2018 sudah beroperasi, ternyata hingga diresmikan pada 25 Maret 2019, pilot project PLTSa TPST Bantargebang belum siap.

 

JAKARTA - Proyek Perconto­han Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Bantargebang dianggap tidak memenuhi nilai keekonomian. Pasalnya, PLTSa yang diresmikan 25 Maret lalu itu belum juga dioperasikan hingga kini.

“Seharusnya pada akhir 2018 proyek tersebut sudah beroperasi total, ternyata hing­ga diresmikan pada 25 Maret 2019, pilot project PLTSa TPST Bantargebang belum siap di­operasikan. Ketika peman­tauan pada 6 Mei 2019, bahkan sampai 16 Juli 2019 PLTSa Ban­targebang pun belum beroper­asi,” ujar Ketua Umum Asosiasi Pelapak dan Pemulung Indo­nesia (APPI), Bagong Suyoto, di Jakarta, Kamis (18/7).

Menurutnya, ada sejum­lah pekerjaan teknis dan pen­guasaan treatment yang harus diselesaikan. Kendalan lain, sampah yang telah disortir se­bagai bahan baku utama be­lum memenuhi target sehing­ga menghadapi kendala serius sehingga PLTSa tersebut tidak bisa berjalan secara normal.

“Belum adanya dukungan dari pemerintah daerah, yakni bahan baku sampah terpilah guna memperlancar opera­sional PLTSa. Karena belum terbentuknya kebiasaan, kultur, sistem, pemilahan sampah dari sumber serta penyediaan gar­bage bin dan alat transportasi atau truk khusus,” kata Bagong.

Untuk itu, pihaknya mendo­rong pemerintah daerah setem­pat untuk membuat sejumlah pilot project pemilahan sam­pah dari sumber untuk men­dukung operasional PLTSa. Se­bab, katanya, bahan baku dari sampah terpilah ini yang masih sulit. Kondisi krusial ini dialami hampir semua daerah Indone­sia, juga daerah-daerah yang dijadikan contoh PLTSa.

“Kita belum memikirkan dan memiliki zona-zona atau pemusatan pengolahan sam­pah atau pabrik pengolahan sampah skala besar, misalnya plant atau pabrik pengolahan sampah rumah tangga dan se­jenis rumah tangga dipusatkan di kawasan TPST Bantargebang. Juga ditambah composting plant, recycling plant, biogas plant, PLTSa (Waste to Energy, WtE), Waste to Material (WtM) pemanfaatan sampah menjadi material bangunan,” jelasnya.

Dia mengatakan, kawasan pabrik pengolahan sampah TPST Bantargebang mesti di­integrasikan dengan TPA Su­murbatu. Jika tidak ditata dari sekarang, kedua pembuangan sampah akan timbulkan ma­salah serius di masa datang. Berdasar kondisi aktual, kata Bagong, TPST Bantargebang dan TPA Sumurbatu menuju darurat sampah.

“Kawasan Terpadu Pengo­lahan Sampah Bantargebang harus dijadikan contoh terbaik pengolahan sampah di Indo­nesia dan dunia,” tegasnya.

Untuk itu, pihaknya mende­sak pemerintah agar melaku­kan langkah strategis dalam upaya pengolahan sampah yang berkalanjutan dan holistik melalui implementasi PLTSa di seluruh Indonesia. Langkah strategis itu, lanjut Bagong, bisa dilakukan dengan mereview total terhadap perencanaan, pelaksanaan proyek PLTSa, juga pilihan teknologinya.

“Bahwa teknologi tersebut siap pakai di Indonesia dengan kapasitas skala besar, 1.500- 2.000 ton/hari per plant. Pres­iden juga harus menetapkan pengolahan sampah melalui PLTSa sebagai program strategis nasional sehingga koordinasi dan kerja sama lintas Kemente­rian dan Lembaga terkait dapat bersinergi dengan Pemerintah Daerah tempat PLTSa diimple­mentasikan,” jelasnya.

Dia menegaskan, Pemerin­tah Pusat bersama pemerintah daerah harus mampu bekerja sama dan bersinergi mewujud­kan PLTSa berkapasitas skala besar, modern, dan canggih. Kerja ini merupakan pertaru­han sejarah. Bahkan, pihaknya mendorong presiden untuk membentuk tim khusus yang melaporkan secara langsung perkembangan implementasi proyek PLTSa. pin/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment