Koran Jakarta | July 16 2019
No Comments

Puasa dan Spirit “Caring Society”

Puasa dan Spirit “Caring Society”

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

oleh saiful anwar

Selama Ra­madan yang menonjol dari mus­lim kota antara lain bersedekah (charity). Berbagai individu rutin menyelenggarakan buka bersama dengan anak yatim piatu, gelandangan, dan kaum miskin lainnya. Beragam sum­bangan membanjiri panti asuhan. Bagi penerima, bulan Ramadan waktunya “perbaikan gizi”.

Bermacam motivasi mendo­rong pelaksanaan charity. Tapi, dari sudut ibadah, mayoritas ingin menjadikan Ramadan sebagai pencucian sepiritual (spiritual laundring). Namun, janji-janji hadits seperti --“Ba­rang siapa yang berpuasa di bulan ramadan, Allah akan mengampuni dosanya sela­ma setahun berlalu”— hanya dimaknai secara konseptual. Mereka menjadikan Ramadan sebagai bulan “perburuan” pa­hala dan ibadah semata, tanpa mempedulikan hubungan iba­dah antarsesama secara ke­seluruhan.

Pemahaman konseptual tersebut berdampak pada for­malitas ibadah yang hanya me­nekankan aspek pelaksanaan, bukan manfaat. Dimensi etik dan hikmah di balik ibadah se­ring kali tidak tersentuh. Karena pemahaman dan pengamalan yang formalistis, intensitas iba­dah tidak memiliki dampak ke­munculan kepedulian dan ke­sejahteraan sosial.

Artinya, tingginya semangat pelaksanaan ibadah puasa bu­lan Ramadan tidak berdampak pada penurunan kesenjangan sosial, kemiskinan, maupun kejahatan. Padahal, urgensi puasa salah satunya menum­buhkan kepekaan terhadap sesama.

Caring society adalah suatu masyarakat di mana setiap in­dividunya memiliki kepedulian yang tinggi untuk saling men­jaga, memelihara dan mem­bantu sesama. Meskipun ber­kaitan, caring society berbeda dengan charity society. Untuk dapat membantu sesama, di­butuhkan charity (sumbangan) dalam bentuk uang, makanan, dan material lainnya. Misalnya, memberi uang pada pengemis atau makanan siap saji kepada anak-anak yatim. Ya, setidak­nya dalam jangka pendek dan dalam kondisi darurat, charity bisa sangat mem­bantu.

Tetapi, dalam kondisi normal dan kepentingan jangka pajang, charity jus­tru bisa menjadi biang ma­salah. Alih-alih meminimalkan angka kemiskinan, memberi bantuan cash kepada pengemis justru mendorong mereka le­bih jauh ke dalam jurang ke­miskinan. Mereka menjadi malas bekerja dan menikmati hasil kemiskinannya. Bagai­mana tidak?

Dalam survei yang dilakukan Kabid Re­habilitasi Sosial Dinsos DKI Jakar­ta, misalnya, ra­ta-rata pengemis Jakarta mampu mengumpulkan uang 200.000 ru­piah/hari. Apalagi telah memasuki bulan Ramadan, para pengemis bisa mengantongi 500.000 rupiah/hari. Dalam satu bulan, penda­patan mereka le­bih tinggi dari PNS golongan III.

Bantuan Pro­duktif

Spirit caring so­ciety membutuh­kan charity (sum­bangan) yang bersifat fungsional dan produktif, bu­kan temporal kon­sumtif. Sebab, pemberian sumbang­an yang memiliki manfaat dalam jangka panjang akan mampu membantu penerima menyelesaikan ma­salahnya secara man­diri.

Sayangnya, sema­ngat membantu dan santunan selama Ra­madan dan bulan lainnya ma­sih cenderung charity oriented. Maka, dana umat yang sangat melimpah tidak mampu ber­peran dalam mengentaskan kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan.

Misalnya, dalam membayar fidyah ditegaskan, “Wajib bagi orang-orang yang berat (tidak mampu) menjalankan (jika mereka tidak berpuasa) harus­lah membayar fidyah (yaitu) memberi makan orang miskin.” Sesuai dengan ayat ini, pemba­hasan fidyah dilakukan secara individual memberi orang mis­kin dalam bentuk makanan saji atau uang setara harga makan­an.

Pemahaman dan praktik ini menimbulkan banyak individu dengan berbagai dalih tidak melaksanakan puasa. Mereka menggantinya dengan mem­bayar fidyah berupa makanan atau uang 30.000 rupiah. Sebab begitulah makna dan harga puasa bagi mereka yang mem­bayar fidyah.

Pembayaran fidyah yang ti­dak memiliki manfaat jangka panjang bagi orang yang me­nerima, selain hanya kepua­san sesaat. Baginya, persoalan kemiskinan seolah bisa dise­lesaikan dengan hanya mem­beri makanan lezat dan bergizi. Maka, dalam konteks caring soceity, diperlukan pembaruan dan kontekstualisasi konsep memberi makan orang miskin.

Miskin, secara ekonomi, orang-orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Miskin secara men­tal, malas bekerja. Bisa juga orang-orang berkecukupan harta, tetapi selalu merasa ku­rang. Miskin secara struktural, terkungkung sistem yang tidak memungkinkan memenuhi ke­butuhan hidup.

Kemiskinan ini bersifat kolekstif sebagai akibat kolo­nialisme, monopoli, dan oli­gopoli. Sedangkan dari sudut makna baru dan kontekstual, memberi makan orang miskin berarti: memberi pendidikan, keterampilan, dan pelayanan kepada orang-orang miskin, sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup mandiri.

Berbagai bentuk charity di­nilai lebih tepat dan berdampak positif bagi penerima di masa mendatang daripada memberi makanan siap saji atau uang yang habis dalam waktu jangka pendek. Yang awalnya peneri­ma tidak berpendidikan men­jadi terdidik dan berilmu. Yang mulanya pengangguran dan meminta-minta, berkat sum­bangan keterampilan mampu meningkatkan potensi atau skill untuk berwirausaha.

Berkaitan dengan itu, puasa seharusnya dapat menumbuh­kan kepekaan dan solidaritas sosial. Artinya, perasaan lapar dan haus se­lama berpuasa da­pat menimbulkan kesadaran indivi­dual tentang betapa perihnya penderita­an orang-orang mis­kin. Selain itu, ibadah puasa Ramadan yang dilaksanakan secara serentak, seharusnya mampu menumbuh­kan kesadaran kolek­tif, kebersamaan untuk mengakhiri kelaparan dan kemis­kinan.

Spirit caring soci­ety inilah yang perlu dikembangkan terus-menerus. Jika dipa­hami dalam perspek­tif ini, maka puasa akan mampu melahirkan revolusi sosial-moral yang membawa umat menuju kesejahteraan. Tetapi apabila kesadaran tidak tumbuh menjadi kolek­tif, puasa hanya akan memi­liki sedikit dampak dalam ke­hidupan sosial.

Charity individual yang melimpah selama Ramadan, tidak berdampak pada kese­jahteraan sosial karena ber­sifat sporadik dan temporal. Selain itu, puasa diharapkan mampu mengikis tumbuhnya careless society: masyarakat ti­dak acuh dan tidak peduli ke­pada sesama. Inilah masyara­kat yang mabuk spiritual, tetapi miskin belarasa. Penulis Mahasiswa Pasca­sarjana Unnes

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment