Koran Jakarta | July 16 2018
No Comments

Puisi Menyambut 20 Tahun Reformasi

Puisi Menyambut 20 Tahun Reformasi
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Aargh Reformasi

Pengarang : Berthold Sinaulan

Penerbit : Nulisbuku Jendela Dunia Publishing

Edisi : Cetakan I, Mei 2018

ISBN : 978-602-6598-43-1

Menyambut dan memperingati 20 tahun peristiwa Reformasi 1998 yang berwujud pada penggantian rezim pemerintahan dan banyaknya perubahan di negara ini, terbit sebuah kumpulan puisi berjudul Aargh Reformasi. Buku ini berisi 55 puisi yang ditulis dalam kurun 1998–2008.

Kumpulan puisi ini diberi pengantar Prof Dr Toeti Heraty N Roosseno, seorang guru besar filsafat yang juga budayawan dan perempuan penyair Indonesia.

Seperti dituliskan dalam Catatan Awal kumpulan puisi ini, setelah 20 tahun Reformasi bergulir, sampai di manakah negeri ini? Sudah berhasilkah perjuangan Reformasi 20 tahun lalu itu? Disebutkan pula, seharusnya ada lebih banyak puisi yang ditulis. Namun, inilah yang ditampilkan dalam kumpulan puisi ini. Ada dua hal yang menyebabkan.

Pertama, sebagian puisi disimpan dalam memori komputer lama yang rusak dan tidak berhasil ditemukan kembali. Kedua, sebagian memang dengan sengaja telah penulis singkirkan. Tepatnya disimpan kembali karena dianggap belum layak dipublikasikan.

Sang penulis juga mengakui, semua puisi yang ada di sini sederhana. Puisinya juga mudah ditebak karena memang tak bermaksud merahasiakan apa pun. Baca saja dan semoga langsung mengerti artinya. Hampir tak ada kiasan, permainan kata, dan sebagainya.

Semua biasa saja. Walaupun demikian, kumpulan puisi ini tetap diterbitkan sebagai tanda pengingat bagi semua tentang jejak Reformasi. Sejak menjelang Presiden Soeharto turun, kemudian digantikan BJ Habibie, Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, SBY, dan kini Joko Widodo.

Puisi yang dijadikan judul kumpulan ini, Aargh Reformasi, merupakan tulisan terbaru. Isinya menceritakan betapa pada 1998 semua sama-sama bergandeng tangan berusaha mengubah negeri menjadi lebih baik. Tetapi 20 tahun kemudian, tak tercapai, sebagaimana dituliskan di akhir puisi tersebut:

“Dan sekarang semuanya, cuma sibuk berebut kekuasaan, rakyat pun ditinggalkan, aargh!”

Semoga kumpulan puisi membantu mengingatkan kembali para pembaca bahwa Reformasi yang dicetuskan pada 1998 belum selesai. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Jadi, tujuan penerbitan kumpulan puisi ini sekadar mengingatkan, tak lebih.


Diresensi Tri Wahyuni W, peminat sastra

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment