Revolusi Batu untuk Struktur Bangunan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | April 4 2020
No Comments

Revolusi Batu untuk Struktur Bangunan

Revolusi Batu untuk Struktur Bangunan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Di era modern seperti saat ini, batu bisa menjadi bahan bangunan alternatif untuk membuat struktur bangunan kontemporer, selain beton dan baja yang telah lazim digunakan selama ini. Batu merupakan bahan baku yang kuat, memiliki estetika, dan dapat mengurangi karbon

Keunggulan batu tersebutlah yang menjadi bahan baku alam yang tergolong melimpah ini dapat menjadi alternatif dalam pembuatan struktur bangunan kontemporer. “Batu itu indah, kuat, dan berlimpah,” ujar dia Steve Webb, kurator pameran New Stone Age yang berlangsung di Gedung Pusat London seperti yang dilansir dari portal dezeen.

Melalui pameran tersebut, Webb ingin menunjukkan bahwa metode pabrikasi dan desain modern menjadi potensi besar untuk sumber daya alam, salah satunya batu yang jumlahnya tergolong berlimpah di masyarakat. Selain itu, batu tidak membutuhkan proses ekstrasi atau pemisahan dua larutan yang berlebihan.

Sehingga, energi yang dibutuhkan tidak berlebihan. Dalam segi desain, batu data dibuat dalam bentuk desain yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Pameran juga menunjukkan penggunaan batu yang lebih inovatif, praktis, dan berkelanjutan. “Kami menganjurkan penggunaannya sebagai struktur dan inheren atau berhubungan,” ujar dia.

Satu gagasan yang dapat menjadikan bangunan sebagai struktur elegan dari bahan mulia. Bukan sekedar struktur tempelan yang ditutupi dekorasi berlapis plastik. Dalam sebuah proyek, Webb mengatakan batu dapat digunakan untuk membuat struktur bangunan pencakar langit dengan ketinggian 30 lantai. Material batu dianggap sebagai cara untuk merevolusi konstruksi.

Pasalnya, jika dibandingkan baja dan beton, penggunaan batu dapat mengurangi 60 persen hingga 80 persen penggunaan karbon. Karena, pembuatan baja dan beton membutuhkan energi yang sangat besar.

“Baja dan beton adalah material yang dibuat sendiri yang membutuhkan energi dalam jumlah besar dalam produksinya. Sedangkan, batu terdapat di dalam tanah dan tinggal digunakan,” ujar dia.

Batu juga dianggap sebagai bahan baku alam yang lebih kuat dibandingkan beton dan tahan terhadap bahan lainnya. Selain itu, ada kayu yang biasa digunakan sebagai struktur yang material alami untuk mengurangi karbon. Namun, kayu dipandang sebagai bahan baku yang kurang praktis, terutama untuk bangunan dengan infrastruktur tinggi. Kombinasi Sepadan Di sisi lain, kayu dan batu dapat menjadi kombinasi yang sepadan.

“Batu dan kayu adalah kombinasi yang hebat,” ujar dia.

Saat ini, Web Yates Engineers, perusahaan multidisipliner dalam bidang struktur yang berbasis di London tengah menyelidiki tipologi kayu dan batu. Perkawinan dua material tersebut dipandang menarik. Batu yang dikompresi dengan kayu akan lebih ringan sehingga material dapat membentang di bagian atas bangunan.

Pada sejumlah bangunan, batu dapat digunakan sebagai lempengan pelapis yang digunakan pada lantai. Batu tersebut tidak memerlukan beton sebagai perekatnya. Alhasil yang terlihat, batu berbentuk paving yang terpasang sambung menyambung. Cara tersebut dapat digunakan sebagai upaya revolusi konstruksi.

Selain itu, Webb juga mengatakan dalam proyek toko souvenir menggunakan batu yang digunakan sebagai struktur datar pada bagian atap . Cara yang diangggap sebagai elegan tersebut meminimalkan penggunaan cangkang batu serta memilih mengembangkan gagasan lantai dasar

Batu Bata sebagai Ventilasi Alami

Selain sebagai dinding, batu bata kerap digunakan untuk membuat ventilasi bangunan. Material yang berupa lempengan serta memiliki tekstur alami menjadikan batu bata sebagai material yang mudah dikomposisikan sebagai bangunan berventilasi. Cara tersebut yang digunakan Fundamental Approach Architects, sebuah studio arsitek di Iran yang dipimpin Moshen Kazemianfard mendesain ulang Saadat Abad Residential Buildding, sebuah apartemen di Teheran, Iran.

Selain itu, studio arsitektur tersebut juga merancang fasadnya. Bangunan yang menggabungkan apartemen dan unit komersil di lantai dasar serta parker di bawah tanah.

Fasad dibangun berupa kulit ganda yang terbuat dari panel kaca dan batu bata yang sengaja ditambahkan untuk menyeimbangkan padangan, cahaya dan koneksi ke luar dengan privasi yang diperlukan sebuah hunian. Desain yang terkesan terhubung tersebut tidak lain untuk mengakomodir penghapusan batas-batas kota.

“Dalam proyek ini, fasad yang kokoh digantikan oleh ruang lunak antara lain batu bata dan kulit kaca yang memanfaatkan cahaya yang lewat,” ujar Kazemianfard seperti yang dilansir dari portal dezeen. Supaya memberikan keleluasaan pandangan, desain yang dibuat dobel ini tidak dibuat saling bertumpuk.

Melainkan, fasad dengan material batu bata yang terletak di bagian luar bangunan dipasang agak memutar ke luar. Sehingga, pandangan dari ruang tamu agak miring untuk melihat langsung ke jalanan. Kondisi tersebut dipandang menguntungkan lantaran bangunan lainnya di sekitar apartemen hanya memiliki ventilasi minim untuk menghubungkan bagian dalam dan luar bangunan.

“Di sebagian besar blok apartemen yang ada, koneksi antara ruang indoor dan outdoor terbatas pada bukaan kecil,” ujar dia. Umumnya, fasad tidak memungkinkan cahaya masuk ke bagian dalam bangunan.

Selain itu, fasad desain dobe dapat digunakan untuk meletakkan tanaman di tengah-tengah antara dua lapisan, batu bata dan kaca. Dinding dan panel bata berlubang merupakan metode bangunan yang popular, terutama di daerah-daerah yang membutuhkan ventlasi alami.

Bangunan-bangunan di Hanoi, Vietnam merupakan bangunan yang banyak menggunakan batu bata untuk membuat ventilasi Batu bata juga digunakan pada bangunan yang memiliki konsep tropical space. din/S-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment