Rina Indiastuti : Siap Bawa Unpad Masuk Peringkat 500 Dunia | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 19 2020
No Comments
WAWANCARA

Rina Indiastuti : Siap Bawa Unpad Masuk Peringkat 500 Dunia

Rina Indiastuti : Siap Bawa Unpad Masuk Peringkat 500 Dunia

Foto : Koran Jakarta/Teguh Rahardjo
A   A   A   Pengaturan Font
Universitas Padjadjaran (Unpad) untuk pertama kalinya dipimpin oleh seorang perempuan. Sebuah babak baru dalam kepemimpinan Unpad, mengingat jalan untuk menuju kesepakatan satu nama rektor sempat memanas. Proses pemilihan rektor bahkan sempat diulang.

Kondisi itu dapat dimaklumi karena proses pemilihan rektor secara terbuka dengan melibatkan seluruh civitas akademika Unpad, dengan motor Majelis Wali Amanat (MWA) baru pertama kali diselenggarakan di kampus ini. Akhirnya Rina Indiastuti terpilih menjadi Rektor Unpad.

Untuk mengetaui apa saja yang akan dilakukan jajaran pimpinan Unpad ke depan dalam memajukan kampus ini, wartawan Koran Jakarta, Teguh Raharjo berkesempatan mewawancarai Rektor Unpad, Rina Indiastuti, di Bandung, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Selamat Anda terpilih menjadi rektor setelah melalui proses panjang. Bagaimana Anda menyatukan seluruh warga Unpad?

Kalau melihat ke belakang, rektor sebelumnya berakhir pada 13 April 2019. Untuk menggantikannya proses pemilihan sudah dilakukan, namun sampai Oktober 2019 belum ada hasil. Bahasa orang awam mungkin menganggap Unpad belum berhasil menetapkan rektor. Akibatnya, masyarakat melihat, proses yang panjang dan cenderung panas.

Mereka mungkin menganggap saat itu warga Unpad terpecah dan terkotak-kotak karena beda pilihan calon rektor. Kebetulan saat proses berlangsung saya tidak di Bandung, saya di Jakarta, di Kemenristekdikti. Yang saya tahu dan masyarakat luar perlu tahu, aslinya warga Unpad itu tidak suka sesuatu yang katakanlah berkonflik, permusuhan, itu bukan tipikal Unpad.

Benarkah seperti itu?

Buktinya ketika akhirnya rektor definitif terpilih pada 7 Oktober 2019, friksi dan sebagainya hilang begitu saja. Artinya memang kami tidak suka dengan adanya gesekan. Memang karena ketidakpastian proses pemilihan rektor itu ada rasa kecemasan warga Unpad. Muncul pikiran aneh-aneh, ya wajar saja. Tapi sekali lagi, praktis sejak 7 Oktober perlahan friksi itu menghilang.

Kami sendiri melihat inilah bentuk pelajaran terbaik bagi Unpad. Pemilihan rektor jika tidak dikawal bersama seluruh warga Unpad hasilnya akan kurang baik. Itu terjadi karena Unpad baru pertama kali melaksanakan pemilihan rektor melalui MWA. Poin bagusnya MWA banyak belajar bagaimana pemilihan rektor itu. Dengan pemilihan ulang, semua sadar, perlu mengawal bersama-sama. Saat itulah friksi sudah berkurang.

Sebagai rektor pertama perempuan, apakah ada suara miring?

Saya melihat mereka sangat tertarik dengan hasilnya, apalagi perempuan. Bukan hanya kalangan internal Unpad, di luar juga merasakan hal yang sama. Buat saya pribadi, ini adalah tantangan. Tingginya harapan menjadikan saya harus bekerja baik. Ekspektasi mereka cukup tinggi.

Sudah sampaikan visi dan misi?

Kami sudah adakan kumpul-kumpul, berbicara mimpi Unpad ke depan dan cara mencapainya. Masing-masing ingin apa dan mereka tertarik untuk bersama-sama membangun Unpad. Unpad harus begini dan begitu. Saya pribadi sudah punya skenario, tapi ternyata sama dengan yang mereka minta. Jadi klop. Harapannya di era disrupsi 4.0 dan globalisasi kemitraan. kami mengajak mitra dari dalam dan luar negeri. Tentunya standar kami harus di-upgrade. Mereka setuju.

Cara upgrade-nya bagaimana?

SDM dosen dan tenaga pendidik kompetensinya tentu harus upgrade, misalnya mempercepat penambahan jumlah dosen lulusan S3. Memiliki kompetensi dalam pengajaran jarak jauh atau menggunakan IT. Bahasa Inggris harus semakin bagus. Mereka setuju. Mereka ingin lulusan Unpad bermanfaat bagi masyarakat. Sesuai dengan kebutuhan industri, sehingga ada program studi yang disesuaikan.

Perbandingan pengajar bagaimana?

Profesor kami jumlahnya 162 orang, dosennya 2.110. Jadi baru 7 persen yang profesor. Targetnya dalam dua tahun 10 persen pengajar di Unpad bergelar profesor. Namun saat ini pengajar dan mahasiswa dalam hal perbandingannya sudah cukup ideal. Sekarang ini 20 mahasiswa berbanding dengan satu pengajar. Memang ada beberapa program studi yang perbandingannya 30 banding satu. Tapi kami bisa pakai IT untuk mengatasinya.

Unpad akan masuk pada penerapan online learning atau mencampur antara tatap muka dan online learning. Ini sudah jalan, misalnya di Farmasi. Artinya jumlah dosen dan mahasiswa sudah ideal, kekurangan kalau ada bisa diselesaikan dengan pengajaran online. Makanya upgrading dosen perlu untuk bisa gunakan IT.

Ada rencana penambahan program studi?

Saat ini ada 176 program studi. Yang paling baru, S1 Bisnis Digital. Itu yang kekinian mengikuti perkembangan IT dan industri 4.0. Yang jelas kami akan terus update kebutuhan masyarakat dan industri di masa depan.

Akan ada evaluasi program studi, mana yang direvitalisasi, disesuaikan, bukan membuat program studi baru. Bertransformasi mengikuti perkembangan dan kekinian. Kalau dari SNMPTN dan sistem penerimaan lain, S1 peminat terbanyak masih Informastika. Terketat adalah Kedokteran.

Bagaimana kerja sama Unpad dengan pihak lain?

MoU dengan berbagai phak terutama mitra luar negeri sudah banyak. Misalnya bagaimana meng-upgrade program studi di era disrupsi. Tujuannya, antara lain untuk mendukung tercapainya target 500 top perguruan tinggi dunia di tahun 2024. Peranan internasional sangat penting.

Internasionalisasi ini menjadi salah satu program kerja kami ke depan. Misalnya melalui pengajaran online. Dengan online ini kami bisa kuliah dengan dosen dari luar negeri, jarak jauh. Nah, kami sedang mengisi MoU ini dengan kegiatan internasionaliasi, apakah prodi atau riset kolaborasi atau kegiatan inovasi lain.

Kerja sama dengan luar negeri jelas penting. Misalnya kami ada inovasi tapi terkendala uji laboratorium. Nah, kami kerja sama dengan laboratorium atau kampus di luar negeri, untuk riset. Kami sudah kerja sama dengan Masachusset International Technologi (MIT), kami kirim dosen ke sana, untuk meningkatkan teknik pembelajaran atau riset. Kerja sama Unpad dengan MIT untuk bersama-sama menyelesaikan masalah Sungai Citarum.

Dengan Pemprov Jawa Barat bagaimana?

Kami sudah jalan bersama dengan Pemprov Jawa Barat. Kami ada terobosan agar kolaborasi lebih fokus dan berdampak. Kami mendirikan Institute Jawa Barat, sudah saling sepakat. Ini bukan membuat kampus atau memberikan gelar. Kami akan memberikan bantuan kajian sesuai kemampuan akademisi Unpad. Kami banyak ahli dan pakar, nanti kami satu pintu untuk menyediakan ahlinya.

Jadi bukan seperti kampus, tapi layanan kepakaran untuk mencari solusi dari masalah yang muncul. Kami akan membuka akses warga Jawa Barat kuliah di Unpad. Tetapi tentunya memiliki syarat, kita akan jemput bola, di mana beasiswa dari Pemprov. Kami punya jejaring dokter. Jika provinsi kurang dokter di rumah sakit, dengan jejaring yang kami miliki akan membantu mengisinya. Ini salah satu bagian dari Tri Darma Unpad.

Untuk pembinaan UKM bagaimana?

Kami membina UKM dan start up di desa. Kami sudah praktikkan melalui KKN Kewirausahaan di Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Ternyata berdampak baik, di mana setiap desa yang didatangi KKN menjadi binaan kami. Mahasiswa dengan bimbingan dosen meningkatkan skill pelaku usaha di desa. Ini tentu membantu program satu desa satu produk dari Jawa Barat.

Kami siapkan inkubasi bisnis. Mengajari mereka menjual produk lewat digital marketing, akses pembiayaan atau masuk aliansi komunitas Kadin. Sudah jalan, Agustus lalu kloter KKN yang pertama, Januari ini kedua. Sekali berangkat 450 mahasiswa di sekitar 50 desa. Kami akan komitmen menekuni desa itu sampai usahawan desanya maju. Kami perkuat pelaku usahanya bukan sekadar produknya. Pelaku usahanya harus dari desa itu bukan orang luar.

Apakah ini salah satu usaha mencetak lulusan Unpad jadi wisausaha?

Betul. Semua mahasiswa yang berminat meningkatkan kewiruausahaan kami silahkan ikut KKN Kewirausahaan. Semua program studi bisa ikut. Saya berpendapat mahasiswa jangan ditarget jadi pengusaha, minimal ada jiwa wirausaha sudah bagus. Mereka kami ajak melihat langusng. Bagaimana usaha pertama kali dimulai. Ada kegagalan usaha, ada kelompok untuk diskusi dengan dosen pembimbing, dan lainnya.

Kami menyiapkan pendamping ini umumnya sudah menjadi wirausaha. Yang terpenting mereka harus membuat catatan perkembangan usaha di desa. Jika KKN sudah selesai, bisa meng-estafetkan ke mahasiswa KKN berikutnya. Ini akan membuat masyarakat desa terus dipantau, tidak ditinggalkan. Ini pelajaran kewirausahaan di luar kelas. Yang membedakan dari program lain, kami memberikan modul pengajaran.

Maksudnya?

Metode pelatihannya menggunakan metode pembelajaran. Dengan modul pembelajaran, akan terukur hasilnya. Tidak boleh loncat-loncat, ada tahapannya. Bukan selalu harus bisa selesaikan masalah. Mahasiswa punya intuisi menemukan masalah saja itu sudah bagus. Lalu bisa membawanya ke grup diskusi untuk mencarikan solusi.

Bagaimana dengan perkembangan riset?

Kami terus perbanyak. Unpad sudah miliki lebih dari 1.000 publikasi internasional. Ini sebagai salah satu upaya mencapai 500 top kampus dunia pada 2024. Saat ini, Unpad meraih peringkat di rentang 651-700 versi QS World University Rankings. Saya arahkan agar riset bukan sekadar untuk jurnal. Data riset harus akurat dan berdampak bagi masyarakat. Saya mencatat separuh dari riset sudah bisa diimpelemntasikan di masyarakat.

Anda membuat slogan Unpad Motekar, apa itu?

Dalam arah kebijakan renstra Unpad 2020-2024, kami mengusung slogan (tag line) “Unpad Motekar dalam Wujudkan Sapta Karsa (7S)”. Sejumlah program unggulan tertuang dalam Sapta Karsa Unpad. Pertama, satu dosen satu publikasi internasional bereputasi (Sensasi). Kedua, satu tendik dengan satu karya (Sadikdaya). Ketiga, satu mahasiswa satu prestasi (Swadesi). Keempat, satu prodi satu mitra PT Internasional (Sasami).

Kelima, satu departemen satu pakar dunia (Sadepa). Keenam, satu fakultas satu rekognisi internasional (Safari). Ketujuh, satu alumni untuk maslahat (Saumat). Setiap prodi di Unpad diwajibkan memiliki minimal satu mitra perguruan tinggi internasional.

Standar minimal yang harus dipenuhi prodi yaitu penyesuaian kurikulum agar relevan dengan pengguna lulusan, penyelenggaran join atau double degree, penerapan kolaboratif berupa perkuliahan jarak jauh (PJJ) atau blended learning, penambahan jumlah mahasiswa asing, serta peningkatan aktivitas pertukaran mahasiswa. Melalui Sadepa, departemen memiliki dua peran minimal, antara lain international branding dari sumber daya manusia di departemen serta menciptakan atmosfer akademik yang kondusif.

Terkait pengelolaan alumni bagaimana?

Ikatan Alumni Unpad banyak memberikan peran pada Unpad selama 62 tahun ini. Unpad kini jadi PTNBH, harus punya banyak mitra, salah satunya ya alumni. Memang masih perlu peningkatan kerja sama dengan alumni, sebab posisinya mereka itu sangat tersebar, perlu dikoordinasikan.

Selama lima tahun ke depan apa harapan Anda?

Saya ingin Unpad benar-benar memberikan manfaat kepada warga Unpad dan masyarakat. Kemanfaatan Unpad harus terasa. Jika kami mampu memberikan manfaat ke luar, otomatis ke depan pihak luar juga siap saling kolaborasi. 

N-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment