Koran Jakarta | October 23 2018
No Comments
Proyeksi Pasar - Kurs Rupiah Masih Alami Tekanan di Bawah Nilai Fundamental

Saham Tambang dan Perbankan Masih Layak Dikoleksi

Saham Tambang dan Perbankan Masih Layak Dikoleksi

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Beberapa sektor yang menjadi perhatian Danareksa pada semester kedua 2018 dan tahun 2019 bergantung pada sentimen global dan dalam negeri.

 

 

JAKARTA - PT Danareksa Sekuritas memproyeksikan laju Indeks Harga Saham Gabunga (IHSG) pada tahun ini akan berada di kisaran 6,275–6.553 dan akan mencapai level 7,000 pada akhir 2019 jika kestabilan pertumbuhan ekonomi dan rupiah terus terjaga.

Untuk itu, beberapa sektor potensial di tahun depan bisa menjadi pilihan investor, di antaranya perbankan, tambang batu bara, konsumer, perkebunan, ritel, konstruksi, dan telekomunikasi.

Head of Research and Strategy PT Danareksa Sekuritas, Helmy Kristanto, mengatakan beberapa sektor yang menjadi perhatian Danareksa pada semester kedua 2018 dan tahun 2019 masih bergantung pada sentimen ekonomi global dan dalam negeri.

“Khusus global, misalnya, sektor tambang batu bara akan mendapat sentimen positif seiring dengan naiknya permintaaan komoditas ini dari Tiongkok dan Korea Selatan, dan harga batu bara pun diprediksi 88 dollar AS per ton pada tahun ini,” ungkapnya di Jakarta, Rabu (19/9) Adapun perbankan, Danareksa Sekuritas memprediksi penyaluran kredit pada tahun 2019 bisa tumbuh 12,8 persen dengan katalis positif subsidi suku bunga tahun 2019 yang dianggarkan sebesar 16,6 triliun rupiah.

Pada sektor konsumer, Pilpres dan Pileg 2019 akan mendorong belanja masyarakat. “Kami memprediksi pada tahun depan, pendapatan sektor konsumer tumbuh 7,6 persen year on year (yoy), dengan kenaikan pertumbuhan laba 8,7 persen yoy,” paparnya.

Di sisi lain, sektor konstruksi akan mendapat sentimen positif karena Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2019 mengalokasikan bujet infrasturktur mencapai 420,5 triliun rupiah, lebih tinggi dari alokasi 2018 sebesar 410,7 triliun rupiah. Ini menunjukkan komitmen Pemerintah dalam melanjutkan proyek infrastruktur, kendati fokus nanti pada human capital.

“Selain itu, khusus sektor otomotif, kami netral. Kompetisi yang semakin ketat, banyaknya model mobil baru yang dirilis, membaiknya harga komoditas dan pengembangan infrastrukur akan mendorong pemulihan penjualan mobil komersial,” jelas Helmy.

 

Perbaikan Investasi

 

Sementara itu, Head of Economic Research Danareksa Research Institute, Damhuri Nasution, memperkirakan dunia investasi akan tumbuh baik sejalan dengan pembangunan infrastruktur, peningkatan rating, dan perbaikan iklim investasi. “Adapun konsumsi pemerintah juga diproyeksikan relatif stabil seiring dengan upaya menyehatkan APBN,” kata dia.

Damhuri menegaskan nilai tukar rupiah saat ini masih mungkin bergejolak akibat normalisasi kebijakan moneter dan ekspansi fiskal AS, kekhawatiran atas perang dagang AS-Tiongkok, dan kenaikan harga minyak dunia karena geopolitik, yang dapat memperlebar Current Account Deficit (CAD).

Suku bunga acuan Bank Indonesia, BI-7-Day Repo Rate pun dinilai berpotensi kembali dinaikkan menjadi 5,75–6 persen pada tahun ini dan 5,5–6 persen pada tahun depan. 

 

yni/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment