Koran Jakarta | November 20 2019
No Comments

Sastra Penjara: Literasi, Remisi, dan Berbagai Kemuliaan Lainnya

Sastra Penjara: Literasi, Remisi, dan Berbagai Kemuliaan Lainnya

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font
CATATAN ARSWENDO

 

Sastra Penjara, istilah ini saya pergunakan un­tuk menggambarkan keberadaan karya tulis, fiksi atau nonfiksi yang memakai lokasi penjara sebagai latar belakang lokasi kejadian dalam penulisannya, baik berupa cerita pendek, novel, monolog, naskah sandiwara, puisi atau gabungan dari bentuk-bentuk yang ada, kadang dituangkan juga melalui ekspresi musik, lukisan, seri rupa, atau ekspresi gerak dan pencahayaan lainnya.

Sastra Penjara tadinya terjadi dengan sendirinya. Ada perte­muan khusus kebutuhan untuk menuliskan sesuatu, dengan suasana yang memungkinkan untuk ekspresi penulisan itu. Demikianlah karya-karya besar Bung Karno dituliskan selama masa dalam penjara, atau seorang sastrawan terkemuka Pramudya Ananta Toer. Mochtar Lubis dalam peristiwa yang berbeda untuk menyebut nama yang tak ada bandingannya dalam kiprahnya masing-masing. Juga kisah-kisah lainnya yang ditulis para sastrawan, penulis dadakan, atau mereka yang terpesona oleh kesempatan yang ada.

Hari Sabtu ini, Hari Bakti Pemasyarakatan Tahun 2019, yang diadakan di Cipinang Jakarta di antara laporan kesuksesan dan keberhasilan berbakti, ada usaha yang mustahil, namun berhasil diterbitkan. Upaya yang tak masuk akal, tapi ternyata baik-baik saja dan normal. Yaitu penerbitan hasil lomba penulisan cerpen, puisi, esai dari seluruh lapas di Indonesia. Buku yang akan menjadi prasasti sejarah menandai adanya pendekaan literasi bagi para anak didik, anak binaan, dalam bentuk nyata dan berhasil dihimpun dalam buku. Dari seluruh napi di Indonesia.

Ide besar ini muncul tahun lalu di Lapas Kelas II Maros, dan di sana diadakan kegiatan seni budaya, lewat tengah malam, lewat batas tembok penjara. Gagasan besarnya mengadakan pendekatan literasi kepada anak didik agar menulis buku, atau membaca buku lima buah setahun. Siapa tahu ini bagian untuk menerima tambahan remisi dari jenis yang ada.

Di sinilah “maha karya” ini tercipta: dimulai dari keinginan baik, dijalani dengan terus-menerus, sehingga ada monumen keberhasilan di antara produk bijak Lapas yang lain.

Saya tidak bangga pernah di penjara, tapi sekarang saya bangga terlibat dalam proses ini. Bahkan, kadang saya menghibur diri, saya dulu masuk penjara karena disiapkan untuk bisa dilibatkan bersama dalam proyek memuliakan manusia ini.

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment