Koran Jakarta | September 23 2019
No Comments
Gejolak Politik I Ribuan Demonstran Duduki Bandara

Semua Penerbangan di Hong Kong Dibatalkan

Semua Penerbangan di Hong Kong Dibatalkan

Foto : VIVEK PRAKASH/AFP
UNJUK RASA DI BANDARA I Kelompok pengunjuk rasa berpawai di jalan menuju Bandara Internasional Hong Kong untuk memprotes aksi kekerasan polisi terhadap aktivis prodemokrasi Hong Kong yang memperjuangkan pencabutan RUU ekstradisi, Senin (12/8). Akibat serangkaian aksi protes Bandara Internasional Hong Kong menghentikan operasionalnya.
A   A   A   Pengaturan Font
Pemerintah Indonesia perlu segera menyiapkan contigency plan, untuk pekerja migran Indonesia di Hong Kong yang jumlahnya mencapai 250 ribu orang.

 

HONG KONG – Pihak ber­wenang Bandara Internasional Hong Kong memutuskan membatalkan semua pener­bangan yang akan berangkat maupun yang sedang menuju Hong Kong pada Senin (12/8). Pembatalan ini dilakukan setelah lima ribuan pengunjuk rasa memasuki aula kedatangan bandara guna menggelar aksi demonstrasi lanjutan.

“Selain penerbangan keberangkatan yang telah melalui proses check-in serta penerbangan yang sudah menuju Hong Kong, semua penerbangan lain­nya telah dibatalkan sepanjang hari ini,” ujar petugas bandara dalam sebuah pernyataan.

Ribuan pengunjuk rasa pro-demokrasi itu memenuhi ka­wasan bandara sambil meme­gang papan bertuliskan “Hong Kong tidak aman” dan “Malu pada polisi”. Aktivitas di Ban­dar Udara Internasional Hong Kong itu mengalami kekacau­an serius. Lalu lintas menuju bandara sangat padat dan fasilitas parkir mobil benar-benar penuh. “Masyarakat disarankan untuk tidak datang ke ban­dara,” ujar pihak bandara.

Hong Kong telah dilanda demonstrasi yang memasuki minggu kesepuluh. Aksi un­juk rasa, pengepungan kantor polisi, dan pawai ini telah melumpuhkan transportasi umum.

Unjuk rasa besar-besaran itu bermula dari protes warga terhadap rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi. War­ga Hong Kong menolak adanya ekstradisi tersangka kriminal ke Tiongkok.

Tapi, kini tuntutan aksi unjuk rasa itu makin meluas menjadi gerakan menuntut re­formasi demokrasi. Aksi mas­sal di Hong Kong ini disebut sebagai ancaman terbesar bagi kepemimpinan Tiongkok atas kota semi-otonomi yang diserahkan oleh Inggris ke Tiong­kok tahun 1997 lalu.

Sementara itu, polisi Hong Kong mulai menggunakan truk water cannon atau me­riam air untuk menghentikan para demonstran. Meriam air belum pernah digunakan oleh polisi pada kejadian genting apa pun sebelumnya.

Rencana Darurat

Di tempat terpisah, Direktur Migrant CARE, Wahyu Susilo, meminta pemerintah Indonesia menyiapkan langkah dan ren­cana darurat (contigency plan), untuk pekerja migran Indonesia di Hong Kong yang jumlahnya mencapai 250 ribu orang.

Migrant CARE juga menyarankan pemerintah RI berkoordinasi dengan negara pe­nyalur pekerja migran lain ke Hong Kong, seperti Filipina, Nepal, India, dan lainnya un­tuk mendesak pemerintah Hong Kong menjamin kesela­matan pekerja migran.

Di tempat terpisah, KJRI Hong Kong mengimbau para warga negara Indonesia (WNI) yang berencana terbang ke luar Hong Kong, Senin atau beber­apa hari ke depan agar segera menghubungi agen perjalanan atau maskapai penerbangan guna memastikan kembali sta­tus jadwal penerbangan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kon­sul Jenderal RI di Hong Kong, Mandala Purba, juga mengim­bau para WNI tersebut untuk segera mencari alternatif tem­pat tinggal atau akomodasi se­mentara di Hong Kong sampai mendapatkan kepastian jad­wal penerbangan berikutnya.

Para WNI di Hong Kong juga diimbau untuk terus memoni­tor perkembangan status jad­wal penerbangan melalui jalur resmi, antara lain laman resmi Bandara Internasional Hong Kong (https://www.hongkon­gairport.com/en/) dan laman resmi maskapai penerbangan masing-masing.

KJRI juga mengimbau WNI di Hong Kong tidak ikut ber­gabung dalam aksi unjuk rasa atau berada dekat dengan pengunjuk rasa. Untuk infor­masi lebih lanjut, pihak KJRI Hong Kong siap membantu dan dapat dihubungi di saluran siaga WhatsAap pada nomor +852 6894 2799 / +852 6773 0466 / +852 5294 4184. AFP/Ant/SB/Ang/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment