Koran Jakarta | October 20 2019
No Comments
Pendidikan Karakter | Banyak Tantangan Tanamkan Nilai Pancasila di Era Digital

Siswa Terdampak Kerusuhan Perlu Penguatan Karakter

Siswa Terdampak Kerusuhan Perlu Penguatan Karakter

Foto : ISTIMEWA
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Ef­fendy
A   A   A   Pengaturan Font
Penanaman semangat nasionalisme merupakan yang utama bagi siswa di daerah konflik.

 

JAKARTA – Pendidikan ka­rakter di sekolah daerah ter­dampak kerusuhan harus diperkuat. Ini penting agar mereka atau siswa mampu me­ningkatkan tumbuhnya rasa nasionalisme dan semangat bela negara.

“Terdapat lima karakter utama dalam penanaman dan penguatan karakter, yakni reli­giusitas, nasionalisme, integri­tas, kemandirian, dan gotong-royong. Penanaman semangat nasionalisme merupakan yang utama untuk permasalah­an konflik yang sekarang se­dang dihadapi,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Ef­fendy, usai menghadiri Rapat Tingkat Menteri (RTM) mem­bahas tentang Penanganan Pascakerusuhan Sosial di Pa­pua dan Papua Barat, di Jakar­ta, akhir pekan lalu.

Menurutnya, tiap-tiap dae­rah memiliki titik tekan sendiri atas lima karakter tersebut. Se­bagai contoh, nilai religiusitas itu bukan hanya pelaksanaan beragamanya yang baik, tetapi juga toleransi seperti siap me­nerima perbedaan, keyakinan, dan lainnya.

Sampai saat ini, para peng­ungsi yang terkena dampak kerusuhan sosial di Papua dan Papua Barat, khususnya para siswa, sudah kembali ke ru­mah masing-masing. Mereka juga telah kembali melaku­kan aktivitas belajar di sekolah asal.

“Hasil evaluasi yang diper­oleh dari rapat yang mem­bahas mengenai pascakerusu­han sosial di Papua dan Papua Barat yang mengakibatkan be­berapa siswa mengungsi, seka­rang sudah tertangani, dengan dikembalikannya siswa-siswa tersebut ke sekolah asalnya,” jelas Mendikbud.

Sebelumnya, mantan Men­teri Kesehatan, Faried Anfasa Moeloek, mengusulkan agar pendidikan budi pekerti kem­bali diajarkan ke sekolah agar siswa memiliki karakter yang baik.

Menurutnya, pelajaran Budi Pekerti mengajarkan siswa menjadi pribadi yang baik, sa­ling menghargai, dan tidak suka berkelahi. “Pendidik­an budi pekerti mengajarkan siswa bagaimana menjadi pri­badi yang cerdas otaknya dan karakternya,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manu­sia dan Kebudayaan (Menko PMK), Puan Maharani, menga­takan pemerintah telah dan akan melanjutkan langkah-langkah penanganan dampak kerusuhsan sosial yang terjadi di Papua dan Papua Barat.

Ia mengatakan akibat un­juk rasa yang didorong tindak­an rasisme berujung pada aksi anarkis dengan terganggunya aktivitas masyarakat di bebera­pa kota terdampak. Selain ter­hambatnya pelayanan umum dan aktivitas belajar mengajar, terdapat korban jiwa di pihak aparat keamanan maupun di pihak masyarakat.

“Pemerintah telah melaku­kan upaya-upaya pemulihan kehidupan masyarakat di Pa­pua dan Papua Barat untuk hidup normal kembali seperti semula,” ujarnya.

Nilai Pancasila

Dalam kesempatan terpi­sah, Mendikbud menyatakan bahwa pada era digital seperti saat ini memiliki banyak tan­tangan dalam upaya untuk me­nanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda.

Muhadjir mengatakan telah terjadi revolusi besar-besaran dalam kehidupan sehari-hari masyarakat khususnya dengan masuknya era digital. Dengan banyaknya informasi yang be­redar di dunia maya tersebut, menjadi tantangan untuk me­nyiapkan generasi milenial Pancasilais.

“Ini memang tidak mudah untuk menyiapkan generasi milenial Pancasilais. Ini peker­jaan berat kita,” kata Muhadjir, dalam Simposium Nasional Penanaman Nilai Pancasila, di Malang, Jawa Timur.

Muhadjir menjelaskan, dengan semakin terbukanya informasi pada era digital se­perti saat ini, para generasi muda akan mudah mengakses berbagai informasi baik yang mendukung implementasi nilai-nilai Pancasila, maupun sebaliknya.

Informasi yang beredar di dunia maya tersebut, lanjut Muhadjir, harus disaring terle­bih dahulu yang tentunya ha­rus sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Peranan seorang guru menjadi penting dalam upaya untuk memberikan pe­mahaman kepada generasi muda Indonesia.

Menurutnya, tugas seorang guru, bukan hanya berupaya untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila saja kepada anak muridnya, akan tetapi juga harus bisa memberikan pan­dangan kepada mereka, infor­masi mana yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

“Seorang guru harus berper­an sebagai penjaga gawang un­tuk menyaring pada saat anak didiknya mendapatkan infor­masi. Mana yang harus dipa­kai, mana yang harus dijauhi,” kata Muhadjir. ruf/SB/E-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment