Koran Jakarta | June 26 2017
No Comments
Dampak FFR Naik - The Fed Akan Naikkan Kembali Bunga Acuan Sekali Lagi Tahun ini

Stabilitas Pasar Keuangan Terjaga

Stabilitas Pasar Keuangan Terjaga

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Para pelaku pasar dan otoritas moneter di dalam negeri telah mengetahui kenaikan FFR sehingga mereka telah bersiap mengantisipasi dampak normalisasi kebijakan The Fed.

JAKARTA – Pemerintah menilai stabilitas pasar keuangan dalam negeri relatif terjaga meskipun bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed menaikkan suku bunga acuannya. Kenaikan Fed Fund Rate (FFR) sebesar 25 basis poin tidak memicu pelarian modal keluar atau capital outflow.


Hal itu terlihat pada kurs rupiah yang hanya melemah tipis saat pengumuman kebijakan moneter negara ekonomi terbesar dunia itu.

Pada akhir perdagangan pekan lalu, kurs rupiah melemah tipis satu poin ke level 13.283 rupiah per dollar AS dibandingkan sebelumnya pada level 13.282 rupiah per dollar AS.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan Jumat (16/6) melanjutkan pelemahan 52,64 poin atau 0,91 persen ke level 5.723,63.


“Tidak perlu kita meng-adjust karena sudah diumumkan kapan kenaikan makanya pasar sudah melakukan adjustment (penyesuaian-red), dengan mem-price in,” kata Menko Perekonomian, Darmin Nasution, di Jakarta, akhir pekan lalu.


Menurut Darmin, langkah Bank Indonesia (BI) sudah sejalan dengan respons pasar yang tidak terkejut terhadap kenaikan waFFR. Sebab, menurutnya, pasar juga telah mengetahui rencana kenaikan FFR sehingga pelaku pasar telah bersiap.


Seperti diketahui, BI kembali menahan suku bunga acuan (7 Days Repo Rate/7DRR) di level 4,75 persen untuk yang ketujuh kalinya sebagai langkah merespons kenaikan suku bunga FFR.

Selain itu, bank sentral juga mempertahankan suku bunga deposit facility dan lending facility masing-masing 4,0 persen dan 5,5 persen. Kebijakan tersebut sejalan dengan upaya menjaga kestabilan ekonomi di tengah meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global.


Selain respons kebijakan BI, Darmin menilai para pelaku pasar juga memiliki kepercayaan yang bagus terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Sebab, pertumbuhan ekonomi cukup terjaga dalam tiga bulan pertama tahun ini, yakni tumbuh 5,01 persen.


Apalagi, Indonesia mendapat sentimen positif dari peningkatan peringkat kelayakan investasi dari lembaga pemeringkat, Standard and Poor’s (S&P) pada Mei lalu.

Perbaikan peringkat tersebut, sekaligus melengkapi daftar layak investasi yang sebelumnya telah didapat Indonesia dari Fitch dan Moody’s.


“Masyarakat cukup percaya dengan ekonomi Indonesia karena belum lama ini dapat rating lagi. Lalu, kita menjadi tujuan investasi nomor empat di dunia, dari sebelumnya nomor delapan. Itu semua adalah pendapat pasar,” kata Darmin.


Sebagai informasi, pertengahan pekan lalu, The Fed menaikkan FFR dari 1,0 persen menjadi 1,25 persen karena mereka optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi AS yang tercermin dari penurunan tingkat pengangguran sebesar 4,3 persen.


Kenaikan Lanjutan


The Fed memperkirakan akan ada kenaikan suku bunga satu kali lagi di tahun ini dan tiga kali lagi pada tahun depan. Selain mengubah suku bunga, The Fed juga berencana mereduksi neraca keuangan sebesar 4,5 triliun dollar AS akhir tahun ini dan memangkas kepemilikan obligasi.


Analis Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada, mengatakan kurs rupiah relatif masih stabil di tengah kebijakan The Fed yang menaikkan suku bunga acuan. Sementara penurunan IHSG lebih dipicu aksi sebagian investor yang merespons negatif kebijakan kenaikan FFR tersebut.


Reza menilai kebijakan The Fed tersebut hanya menjadi salah satu faktor yang menyebabkan rupiah tertahan bergerak ke zona positif dalam jangka pendek atau terapresiasi. bud/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment