Koran Jakarta | November 17 2018
No Comments

Strategi Jitu Kaum Muda Menghadapi Era Medsos

Strategi Jitu Kaum Muda Menghadapi Era Medsos
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Anak Muda & Medsos

Penulis : Alois Wisnuhardana

Penerbit : Gramedia

Cetakan : Pertama, 2018

Tebal : 152 Halaman

ISBN : 978-602-03-9856-3

 

Perkembangan teknologi khususnya media sosial (medsos) seolah kian mustahil dibendung. Tak hanya manusia secara individu, bidang-bidang lain semacam perbisnisan, perbankan, telekomunikasi, bahkan pemerintahan, harus melek medsos. Sebab hampir seluruh lini masyarakat telah begitu terasuki. Namun demikian, layaknya sekeping koin, medsos juga memiliki sisi positif dan negatif.

Kaum muda, cenderung tidak memiliki ruang sosial nyata dalam perkembangan psikologisnya. Mereka menjadikan medsos sebagai sarana pemenuhannya. Artinya, intensitas kaum muda dalam bermedsos jauh lebih tinggi dari kaum tua. Maka, penting adanya upaya edukatif-persuasif agar kemungkinan dampak-dampak negatif medsos bisa terhindarkan.

Pembaca tentu tidak ingin kaum muda terinfeksi sindrom kebergantungan pada medsos. Jika itu terjadi, relasi-relasi sosial yang sebelumnya ada dan menjadi pilar keharmonisan bermasyarakat, bahkan rasa kebinekaan dalam bernegara, kemungkinan besar akan ikut meluntur. Cukup miris membayangkan masa depan akan terasing satu sama lain. Orang lebih tertarik berinteraksi di dunia maya.

Selain dampak mendasar secara sosial tersebut, medsos juga telah menimbulkan dampak negatif nyata. Sebut saja tindakan-tindakan kriminal yang banyak dilakukan dengan memanfaatkan medsos, penyebaran berita palsu, ujaran kebencian, dan sebagainya (hlm 112).

Medsos juga memiliki andil besar terhadap era “post-truth.” Ini keadaan di mana fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik disbanding emosi dan keyakinan pribadi. Artinya, era post-truth dapat disebut sebagai pergeseran sosial spesifik yang melibatkan media arus utama dan para pembuat opini.

Fakta bersaing dengan berita palsu untuk dipercaya publik. Karena itu, Indonesia sebagai salah satu negara dengan pengguna internet terbesar dunia, sangat berpotensi menjadi target fenomena post-truth baik untuk tujuan ekonomis maupun politik (hlm 123).

Pada titik ini, peran orangtua dan pemerintah menjadi sangat dibutuhkan. Ketika diarahkan ke jalur yang lebih sehat, nyatanya medsos tak jarang menghadirkan dampak-dampak positif. Masih segar dalam ingatan bulan Juli lalu, ketika Lombok diguncang gempa, masyarakat dari berbagai kalangan berlomba menggalang bantuan dengan memanfaatkan kekuatan medsos.

Sangat luar biasa membayangkan tanpa perlu lagi bertatap muka karena keterbatasan geografis, seseorang dapat langsung memberi bantuan sebagai bentuk empati atas nasib saudara sebangsanya. Tak hanya itu, tercatat beberapa nama anak muda yang sedang gencar menjadikan medsos sebagai sarana promosi dan pengenalan akan platform edukasi berbasis teknologi.

Buku ini menyajikan secara singkas awal mula pertumbuhan medsos. Diuraikan pula pemanfaatan medsos untuk banyak kepentingan. Tak ketinggalan juga anomali-anomali yang timbul akibat penyalahgunaannya. Pembaca kiranya dapat merekleksikan sendiri cara penggunaan medsos agar lebih positif dan dapat melahirkan banyak manfaat riil.


Diresensi Nurul Ala, bekerja di LPM Humaniush

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment