Koran Jakarta | April 23 2019
No Comments

Strategi Mengelola Utang agar Produktif

Strategi Mengelola Utang agar Produktif
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Utang Cerdas Masa Depan Kaya

Penulis : Stanley Christian

Tebal : 151 hal

Penerbit : Elex Media Komputindo

Cetakan : 2018

ISBN : 978-602-04-5923-3

Dalam kehidupan sehari-hari, mansuia tidak pernah bisa terlepas dari uang. Meskipun bukan segala-galanya, semua membutuhkan uang. Begitu penting arti uang, maka perlu belajar mengelolanya sejak muda agar saat dewasa siap secara finansial, termasuk utang. Buku Utang Cerdas Masa Depan Kaya memberi pengetahuan dan tip mengelola utang dengan baik dan benar agar tak terlilit. Buku juga membahas tentang investasi. Buku ditulis praktikus dan konsultan perencanaan keuangan.

Utang bisa untuk produktif dan konsumtif. Utang produktif bisa menghasilkan keuntungan. Misalnya, membeli barang lalu dijual lagi dengan harga lebih tinggi seiring berjalan waktu (hal 4). Yang masuk utang produktif antara lain Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau properti. Harapannya, harga properti dalam jangka panjang bisa lebih tinggi.

Utang konsumtif bisa langsung habis misalnya untuk ke restoran. Atau membeli barang, tetapi harganya malah turun saat dijual, contoh pembelian kendaraan, gadget, atau barang elektronik. Namun, pembelian barang mewah tersebut dapat dikategorikan utang produktif, apabila penggunaanya dimanfaatkan untuk menunjang pekerjaan, bukan sekadar gaya hidup.

Utang bisa dengan agunan dan tidak. Utang dengan agunan, antara lain KPR, Kredit Kendaraan Bermotor, dan Kredit Pemilikan Apartemen, sedangkan utang tanpa agunan antara lain kartu kredit dan kredit tanpa agunan.

Yang perlu diperhatikan saat mengajukan kredit baik dengan atau tanpa agunan, penentuan jumlah cicilan per bulan. Maksimal cicilan 30 persen dari pendapatan (hal 13). Jadi, bila masih mempunyai utang dan mau mengajukan kredit lagi, pastikan cicilan keseluruhan tidak melebihi 30 persen dari income. Dengan menyisihkan 30 persen income untuk cicilan, kebutuhan dasar lainnya, seperti biaya hidup, pendidikan, liburan, dan lainnya diharapkan masih dapat terpenuhi.

Dalam era digital seperti sekarang, masyarakat dibawa ke arah perilaku konsumtif. Aplikasi belanja online mempermudah masyarakat bertransaksi. Hanya dengan klik satu jari dalam beberapa jam belanjaan sudah diterima. Berbagai macam promosi juga ditawarkan. Biasanya pembayaran menggunakan kartu kredit (KK) yang ibarat pisau bermata dua.

Bila penggunaannya benar dan tepat, KK sangat membantu. Namun, dia dapat menjadi bumerang andai penggunaanya tidak benar dan pembayaran cicilan tidak tepat waktu. Perlu dipahami juga bahwa KK itu utang, bukan tambahan penghasilan. Pada saat pembayaran tagihan, pastikan jumlahnya sesuai, termasuk biaya materai enam ribu. Ketepatan jumlah dan waktu pembayaran sangat mempengaruhi track record catatan Bank Indonesia. Apabila pembayaran cicilan terlambat dua bulan, akan masuk daftar black list BI checking.

Setelah memahami pengelolaan utang, langkah selanjutnya investasi. Semua perlu investasi karena inflasi, untuk tujuan tertentu (biaya pendidikan, pernikahan, dan liburan), dan untuk menambah aset. Produk investasi dapat berupa saham, properti, atau reksadana. Sebagian masyarakat masih asing dengan istilah investasi dan segala produknya. Mereka beranggapan, investasi itu mahal dan perlu modal besar.

Saat ini sudah ada instrumen investasi yang murah. Misalnya, 100.000 sudah dapat berinvestasi dalam bentuk reksadana. Buku menjelaskan cara investasi dalam bentuk saham dan reksadana secara detil disertai ilustrasi sehingga memudahkan pembaca untuk memahami serta mempraktikkan. 

Diresensi Siti Nuryanti, S1 Ekonomi Unsoed Purwokerto

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment