Koran Jakarta | September 23 2018
No Comments

Strategi Penyembuhan Diri Sendiri

Strategi Penyembuhan Diri Sendiri
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Emosi Sebuah Terapi

Penulis : A loysius G Dinora

Penerbit : Penerbit Psikologi Corner

Cetakan : 2017

Tebal : 188 halaman

ISBN : 978-602-5469-35-0

 

Meski tak terlihat dan jarang terasa, tekanan jiwa dapat memengaruhi banyak aspek dalam kehidupan manusia. Tak hanya orang dewasa, remaja, serta anak-anak pun memiliki tekanan masing-masing. Ini bisa karena kesibukan kerja, lingkungan sosial yang berbeda ekspektasi. Bisa juga karena masa lalu yang rumit menjadi luka.

Ini perlahan-lahan mengikis kebahagiaan. Kebahagiaan terkait entah dengan jabatan, kehidupan sosial, hobi, atau pasangan hidup. Buku ini mencoba menguraikan pentingnya emosi dan cara mengelolanya dengan emotional healing. Sebelum membahas langsung definisi secara harfiah, dibahas komponen-komponen dalam emotional healing.

Bab awal menjelaskan emotional healing yang berperan penting dalam proses pengontrolan emosi positif atau negatif. Dampaklah yang menentukan emosi itu negatif atau positif. Bila tak dapat mengubah keadaan secara signifikan, maka emotional healing diperlukan dalam misi pengelolaan emosi sendiri. Dengan begitu, dapat pula mengubah lingkungannya setelah emotional healing. Paradoks ini pula yang akan dijawab sampai akhir bab.

Bab kedua memaparkan cerita-cerita berisi pengenalan metode emotional healing berdasarkan pengalaman tiga tokoh besar praktisi emotional healing: Irma Rahayu, Joyce Meyer, dan Lester Levenson. Terdapat benang merah dalam kisah hidup ketiga tokoh tersebut. Mereka pernah jatuh ke dalam emosi negatif sampai berpengaruh pada kehidupan sosial dan kesehatan. Dalam perjalanan, terdapat titik balik saat mereka menyadari tidak memaafkan diri dari luka masa lalu. Kebebasan, kebahagiaan, penerimaan diri, dan keiklasan menjadi poin penting dan tujuan utama emotional healing.

Kemudian, bab ketiga menguraikan, setiap agama memiliki konsep spiritualitas masing-masing. Buku berbicara dari sudut pandang agama Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, dan Islam. Meski berbeda-beda, pusat utama semua agama adalah Tuhan. Tiap konsep spiritualitas agama beririsan dengan emotional healing. Nilai sebuah spiritualitas lebih dalam dan bersifat universal karena setiap agama mengajarkan kedamaian dan cinta kasih. Ajaran itu tak hanya bersifat satu arah, namun kepada diri sendiri, sesama, Tuhan, serta seluruh ciptaan.

Bab keempat menyajikan cerita dari orang-orang awam dengan latar belakang yang berbeda-beda dengan permasalahan hidup mereka. Terdapat lima responden yang bersedia menceritakan masa lalu, titik balik dalam hidup, dan hobi mereka. Tiga responden berasal dari keluarga broken home. Keadaan itu turut membentuk cara mereka mengendalikan emosi. Namun kelima responden sama-sama sepakat, emotional healing harus dilakukan agar tidak putus asa.

Bab terakhir buku menyajikan caracara praktikal melakukan emotional healing sendiri. Secara keseluruhan, buku ini merupakan panduan praktis memahami emotional healing. Secara tersirat emotional healing merupakan proses untuk memaafkan diri sendiri, menemukan diri yang sebenarnya, membangun pemikiran baru, serta semangat yang baru.

Dalam kehidupan dengan segala permasalahannya ini, diri pribadi perlu diperhatikan sebelum dapat memperhatikan orang lain agar bisa bermanfaat bagi orang lain. 

 

Diresensi Meilita Rinalti, Mahasisi Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

 

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment