Surplus pada Juni Lalu Semu | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 26 2020
No Comments
Neraca Perdagangan - Nilai Ekspor pada Juni 2019 Turun 20,54% Dibandingkan Mei 2019

Surplus pada Juni Lalu Semu

Surplus pada Juni Lalu Semu

Foto : ANTARA/Aprillio Akbar
KINERJA EKSPOR - Warga melihat aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (15/7). Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2019 mengalami surplus sebesar 200 juta dollar AS dengan nilai ekspor mencapai 11,78 miliar dollar AS, sementara nilai impor mencapai 11,58 miliar dollar AS.
A   A   A   Pengaturan Font
Surplus neraca perdagangan nasional pada Juni lalu dinilai semu karena terjadi di saat ekspor dan impor sama-sama turun. Idealnya, surplus neraca terjadi ketika ekspor meningkat, sementara impor turun.

 

 

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (15/7), melaporkan nilai surplus neraca perdagangan pada Juni 2019 tercatat sebesar 200 juta dollar AS atau setara 2,79 triliun rupiah (dengan kurs terkini 1.3942,53 rupiah per dollar AS).

Surplus tersebut terbentuk dari nilai ekspor mencapai 11,78 miliar dollar AS atau turun 20,54 persen dibanding ekspor Mei 2019 (mtm), sementara nilai impor mencapai 11,58 miliar dollar AS atau turun 20,70 persen secara mtm. Kepala BPS, Suhariyanto, menyebutkan nilai ekspor Indonesia pada Juni 2019 turun 8,98 persen dibanding Juni 2018 (yoy).

“Khusus untuk ekspor nonmigas Juni 2019 mencapai 11,03 miliar dollar AS, turun 19,39 persen dibanding Mei 2019. Demikian juga dibanding ekspor nonmigas Juni 2018, turun 2,31 persen,” ungkapnya, di Jakarta, Senin (15/7). Di sisi lain, nilai impor nonmigas pada Juni 2019 mencapai 9,87 miliar dollar AS, turun 20,55 persen secara mtm, tetapi naik 8,15 persen secara yoy.

Merespons data tersebut, Peneliti Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, menilai kondisi neraca perdagangan nasional pada Juni 2019 menunjukkan adanya kondisi kurang sehat. Dia menambahkan penurunan ekspor karena dipotong libur dan pada saat bersamaan impor juga turun.

“Penyebab kurang sehatnya kinerja perdagangan Juni karena terjadinya pelambatan ekspor di negara-negara tujuan utama. Mestinya ini harus diantisipasi karena efek dari perang dagang,” kata Bhima, di Jakarta, kemarin. Selain itu, lanjut Bhima, perlambatan konsumsi domestik berimbas terhadap pengetatan produksi oleh industri manufaktur.

Kondisi tersebut secara langsung berimbas pada penurunan impor, terutama bahan baku industri manufaktur. Karena itu, ekspor dinilai belum mampu diandalkan sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Bhima memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2019 cenderung stagnan di level lima persen. “Triwulan II yang seharusnya dimanfaatkam untuk mendorong ekspor manufaktur kondisinya justru kurang begitu baik,” kata Bhima.

 

Dukungan Kementerian

 

Pada kesempatan terpisah, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, meminta agar aktivitas ekspor terus digenjot. Untuk itu, lanjutnya, diperlukan adanya dukungan dari kementerian dan lembaga melalui kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan.

Di Kementerian Keuangan, lanjutnya, dukungan tersebut berupa kebijakan tentang perpajakan serta bea dan cukai. “Serta peraturan lain yang mungkin mempengaruhi kinerja ekspor. Kami akan terus-menerus bekerja sama dengan instansi lain di dalam mendukung ekspor dan menciptakan industri dalam negeri yang lebih kuat,” ujar Menkeu. 

 

ers/Ant/E-10

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment