Koran Jakarta | May 26 2018
No Comments

Tangan Kiri Jangan Iseng

Tangan Kiri Jangan Iseng

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Is, lelaki, berkaca mata, usia 29 tahun, rambut agak keriting, berwajah tidak mencurigakan. Saat melintas dari Jalan Margonda, Depok, ke Jalan Kuningan Datuk yang masih wilayah Beji, wajahnya tak terlihat karena tertutup helm.

Is naik sepeda motor melewati jalan yang sepi di hari Kamis (11/1/18), di depannya “kebetulan” ada Am, perempuan juga berjalan searah. Is dari belakang meluncur, dan jalanan yang sempit, lebar tiga meter, membuatnya iseng—seperti yang diakui kemudian.

Tangankirinya meremas payudara Am yang kaget, marah, sementara is terus melaju. Mungkin kejadian seperti ini sering terjadi. Iseng yang merugikan yang sangat mungkin terjadi di dalam kendaraan umum.

Yang membedakan dengan kejadian lain adalah ada CCTV, kamera yang merekam. Dan mengunggahnya, dan viral. Dan aparat keamanan bertindak. Is ditangkap di rumah orang tuanya—yang kemudian turut mengantar ke kantor polisi.

Is tidak ditahan karena ancaman hukumannya kurang dari lima tahun, dan dianggap tidak mengulangi perbuatannya, dan tidak menghilangkan barang bukti. Iseng menjadi kata serius manakala dikaitkan dengan tindak susila.

Di saat kepekaan masyarakat soal pelanggaran susila sedang panas dan tinggi—karena berita pelecehan seksual guru, atau orang dewasa dengan korban mencapai puluhan—kasus “memeras payudara” termasuk ramai.

Meskipun sebenarnya, apa yang dilakukan Is dilakukan tanpa rencana—kecuali kalau diniati dan memang direncanakan. Tetap bukan kelakuan atau tindakan yang bagus, dan karena itu perlu menjadi bahan peringatan.

Keisengan itu tak terjadi andai hanya ada di dalam pikiran, dalam kepala. Melihat perempuan dan membayangkan sesuatu—hanya membayangkan dalam kepala yang tertutup helm, bukanlah tindak kejahatan.

Kalaupun karena terlalu berkhayal mungkin saja bisa membuat motornya oleng, tapi itu risiko yang ditanggung sendiri. Tidak melibatkan dan merendahkan orang lain. Yang perlu dihindarkan dari kasus semacam ini adalah jangan membiasakan iseng—dengan tangan kiri, atau kanan, atau anggota badan yang lain.

Kadang iseng buruk itu terjadi karena benar-benar iseng: menempelkan permen karet di tempat duduk, misalnya. Atau pipis di botol plastik seolah teh. Atau tindakan yang menyebabkan orang lain menderita karena keisengan, kejahilan kita.

Sesuatu yang sama sekali tak berguna—juga tak membuat kita kaya, selain menyengsarakan orang lain. Ini pun tak membuat kita merasa sukses. Yang lebih perlu lagi adalah bagi iseng/usil/jahil ini bermula dari kebiasaan, yang diulang, dan sebenarnya bisa dihindarkan.

Dan kasus Is dan Am adalah peringatan agar hal semacam ini tak perlu terjadi. Is sendiri harus mempertanggungjawabkan perbuatan isengnya, dan Am sendiri tak merasa nyaman kalau kasusnya diviralkan.

Dengan kata lain, tak ada yang diuntungkan sama sekali. Akan lebih bagus lagi kalau saja keisengan yang ada dihilangkan, dan diganti sebaliknya. Dijadikan kebiasaan untuk, misalnya, hal-hal yang bisa membahayakan orang lain, seperti pecahan kaca di jalanan. A

tau sekadar pintu untuk orang yang akan masuk setelah kita. Memberikan tempat duduk di kendaraan umum, dan bukan iseng membasahi kursi.

Dan beberapa misal lain, beberapa hal kecil yang kelihatan sepele, termasuk merusak bangku di stadion—atau gedung pertunjukkan, atau tempat umum. Kalau ini soal kebiasaan, jadikan kebiasaan yang baik.

Dan itu mudah dilakukan. Dan itu baik dan benar adanya. Banyak jalan sepi tak dengan sendirinya harus diisengi—dan menjadikan hina.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment