Tangkal Perlambatan, Perlu Sinergi Kebijakan Fiskal-Moneter | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 19 2020
No Comments
Antisipasi Resesi I Hasil Survei Merrill Lynch Ungkap Pasar Makin Khawatirkan Resesi

Tangkal Perlambatan, Perlu Sinergi Kebijakan Fiskal-Moneter

Tangkal Perlambatan, Perlu Sinergi Kebijakan Fiskal-Moneter

Foto : Sumber: Worldbank – Litbang KJ/and - KJ/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

>> Potensi resesi mesti direspons mulai sekarang dengan langkah konkret yang antisipatif.

>> BI mesti melakukan langkah pencegahan yang terukur untuk hambat capital outflow.

JAKARTA - Sejumlah kalangan me­nyarankan pemerintah dan Bank Indo­nesia (BI) agar meningkatkan koordinasi untuk mengantisipasi dampak terjadinya resesi ekonomi global. Sinergi kebijakan moneter dan fiskal itu diharapkan bisa menangkal imbas perlambatan ekonomi dunia terhadap perekonomian nasional.

Beberapa kebijakan yang mesti di­lakukan, antara lain mendorong inves­tasi asing langsung atau Foreign Direct Investment (FDI) sebesar-besarnya un­tuk menggairahkan sektor riil dan mem­perkecil defisit transaksi berjalan. Selain itu, memperbaiki sistem birokrasi per­izinan agar lebih ramah investor. Selan­jutnya, memacu ekspor khususnya pro­duk manufaktur unggulan.

Kepala Kajian Makro dan Keuangan, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM-UI), Febrio Kacaribu, menga­takan perlambatan ekonomi di sejum­lah negara maju, India, dan Tiongkok berpeluang melemahkan aktivitas ma­nufaktur global, menyebabkan gejolak pasar keuangan global, dan mendorong pergeseran portfolio ke aset safe-haven seperti komoditas emas.

“Risiko besar tersebut mempenga­ruhi peningkatan arus modal keluar pada awal bulan lalu, dan memicu ke­naikan dalam imbal hasil obligasi pe­merintah 10 tahun dan setahun menjadi masing-masing 7,6 persen dan 6,3 per­sen,” kata Febrio, di Jakarta, Rabu (18/9).

Hal ini juga mengakibatkan nilai tu­kar rupiah melemah sekitar dua per­sen terhadap dollar AS ke level 14.300 per dollar AS setidaknya sampai perte­ngahan Agustus 2019.

Di sisi domestik, lanjut Febrio, BI le­bih memperhatikan risiko pertumbuhan ekonomi dan menggeser arah kebijakan menjadi lebih mendukung pertumbuh­an. BI secara tak terduga memangkas suku bunga sebesar 25 bps menjadi 5,5 persen bulan lalu.

Meski begitu, sejumlah kalangan me­nyatakan bank sentral juga harus diingat­kan untuk menjaga agar return (tingkat pengembalian) di portofolio keuangan tetap menarik. Begitu pula di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Makanya, inter­est rate differential harus tetap dijaga agar capital inflow tetap berjalan atau mence­gah capital outflow yang lebih besar.

Secara terpisah, ekonom senior Indef, Fadhil Hasan, mengatakan Indonesia harus merespons potensi resesi dengan “sedia payung sebelum hujan” yang di­mulai dari sekarang melakukan langkah-langkah konkret yang antisipatif.

Misalnya, lanjut dia, melakukan refor­masi struktural secara lebih fundamental, terutama terkait dengan aturan dan per­izinan, seperti penurunan restriksi per­dagangan baik tarif dan nontarif, perizin­an FDI harus direlaksasi, serta peraturan pemerintah daerah yang memberatkan ekonomi juga harus dihilangkan.

“Kedua, melanjutkan pembangunan infrastruktur secara lebih terarah dan terencana sehingga membawa dampak ekonomi lebih signifikan,” kata Fadhil. Kemudian, menggenjot habis-habisan ekspor dengan menghilangkan berbagai hambatan dan promosi besar-besaran dengan target pasar yang terukur.

Tingkat Tertinggi

Terkait dampak resesi global, sebe­lumnya Bank Dunia mengungkapkan pertumbuhan di Indonesia sudah me­nunjukkan perlambatan dan bakal me­lemah lebih dalam di tengah-tengah perlambatan global. Resesi global bisa melukai Indonesia.

Lembaga internasional itu mempre­diksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan turun lebih dalam karena lemah­nya produktivitas dan pertumbuhan pekerja. Pertumbuhan ekonomi 2020 akan berada di 4,9 persen dan menurun hingga 4,6 persen pada 2022.

Sementara itu, hasil survei fund mana­ger yang dilakukan Bank of America Mer­rill Lynch pada September ini menunjuk­kan adanya kekhawatiran pelaku pasar, khususnya pengelola dana (fund mana­ger) atas risiko terjadinya resesi ke tingkat tertinggi sejak Agustus 2009.

Hal ini disebabkan perlambatan per­tumbuhan ekonomi global, perang da­gang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, serta masalah politik yang ber­dampak negatif pada sentimen investor.

Sekitar 38 persen investor yang di­survei dalam Bank of America Merrill Lynch Fund Manager Survey pada 6–12 September, memperkirakan akan ada resesi tahun depan. Sebelumnya dalam survei pada Agustus lalu, tingkat ke­khawatiran resesi itu hanya sebesar 34 persen. Ini merupakan persentase hasil survei tertinggi sejak Oktober 2011. bud/ers/WP

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment